1 : Awal mula

3.5K 221 6
                                        

Pernahkah kalian mendengar rumor tentang Kainer?

Namanya berbisik di sudut-sudut gelap, merayap dari satu bibir ke bibir lain, menjalar bagai api yang melalap lembaran kertas. Rumor itu menyelinap di balik dinding istana, melayang di udara malam, bergema di lorong-lorong tersembunyi—kisah tentang seorang pria yang setia kepada kerajaan, seorang putra yang patuh pada ayahnya, seorang kesatria yang rela melakukan apa pun demi keadilan.

Namun, di balik sanjungan itu, ada bisikan lain. Bisikan yang lebih tajam, lebih mengerikan.

Kainer, sang pahlawan, sang pembela rakyat—tega memotong lidah tunangannya sendiri.

Membuatnya bisu.

Mengerikan? Tentu saja. Tapi ini bukan sekadar rumor. Ini adalah kebenaran.

Yang lebih mencengangkan? Gadis itu tetap mencintainya. Bahkan setelah kehilangan suaranya, ia tetap tersenyum manis padanya.


Gila, bukan?

Kalian tentu akan berpikir demikian.


Apa yang membuat gadis itu begitu setia kepada pria yang telah menghancurkan hidupnya? Apa yang mendorong Kainer melakukan perbuatan sekejam itu?

Mari kita kembali ke awal.
Ke sebuah mansion megah milik keluarga Magnolia—tempat di mana kemewahan dan keserakahan bertemu dalam satu atap.

Mereka adalah bangsawan bereputasi tinggi. Bangsawan bergelar Marquess yang rela melakukan apa pun demi mendapatkan harta dan kekuasaan.


*****


Angin senja menyelinap masuk melalui jendela terbuka, menerbangkan tirai tipis yang menghiasi kamar. Sinar matahari terakhir memantulkan keemasan pada lantai marmer, menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding. Di tengah ruangan, seorang gadis duduk di depan meja rias, jemarinya bermain dengan untaian rambut panjang berwarna cokelat terang.

"Anna, kau pernah ke ibu kota, bukan?" Suaranya lembut, dipenuhi antusiasme. "Kau pasti tahu sesuatu tentang calon tunanganku. Ceritakan padaku!"

Pelayan pribadinya, seorang wanita bernama Anna, melangkah mendekat. Di tangannya, ia membawa sebuah bross berhiaskan intan yang berkilauan di bawah cahaya. Dengan senyum penuh kasih, ia menyematkan bross itu pada gaun sang gadis, lalu berlutut di samping kursinya.

"Nona... Anda ingin mendengar dari mana?" tanyanya lembut.

"Semuanya!" Mata gadis itu berkilat penuh rasa ingin tahu. "Aku ingin tahu segala hal tentangnya!"

Anna tersenyum kecil, lalu menatap bayangan majikannya di cermin.

"Tuan Muda Kainer adalah pria yang sangat terhormat," ujarnya. "Ia putra tunggal Duke Anantram, pemimpin militer dan penasihat utama kerajaan ini. Saya dengar, Tuan Muda dikenal sebagai pria cerdas, tegas, dan setia kepada tahtanya. Namun, ia juga terkenal dingin dan tak mudah didekati. Tak satu pun gadis berhasil menarik perhatiannya."

Mata Sophia Zoe Magnolia membesar.

"Apa dia juga akan bersikap dingin padaku, Anna?"

Anna menahan senyum. "Tentu tidak, Nona. Anda adalah gadis tercantik yang pernah saya lihat di seluruh kerajaan ini. Tuan Muda Kainer tidak akan bisa mengabaikan Anda."

"Kau hanya mengatakan itu karena kau pengasuhku," gerutu Sophia, pipinya merona. "Kau sudah merawatku sejak aku berusia delapan tahun."

Anna menggeleng lembut. "Astaga, Nona... kenapa Anda tidak percaya pada saya? Saya telah berkeliling kerajaan, dan saya bersumpah, belum pernah melihat seorang gadis secantik Anda."

Meski Anna melebih-lebihkan ucapannya soal 'gadis tercantik di kerajaan', namun Anna tidak berbohong. Nonanya adalah gadis yang amat cantik. 

Tapi bukan itu yang membuat Sophia istimewa.
Bukan mata cokelatnya yang berpendar bagai berlian, bukan hidung mancungnya, bukan bibir mungilnya yang selalu tampak kemerahan seolah tersaput kelopak mawar.

Yang membuatnya istimewa adalah senyumnya.

Senyum yang begitumanis. Seindah cahaya fajar yang pertama kali menembus cakrawala. Senyum yangbisa menenangkan siapa pun yang melihatnya.

Tapi, di balik senyum itu... tersembunyi luka yang tak terhitungjumlahnya.


Sophia Zoe Magnolia, satu-satunya putri dari Marquess Julian Magnolia. Sebuah gelar tinggi yang seharusnya menjamin kehidupan penuh keanggunan dan kemewahan.

Namun, di rumah ini, wanita hanyalah bayang-bayang.

Tidak berhak memiliki suara. Tidak berhak memilih takdirnya sendiri.

Sejak berabad-abad lamanya, perempuan dalam keluarga Magnolia hanyalah alat untuk melahirkan penerus. Istri-istri keluarga ini selalu mati setelah melahirkan maksimal tiga anak. Entah karena takdir, atau karena kejamnya aturan tak tertulis di keluarga ini.

Sophia tidak pernah diizinkan meninggalkan mansion. Dunia yang ia kenal hanyalah dinding-dinding rumah ini.

Sophia tidak pernah mendapatkan pendidikan formal. Marquess tidak mau anak gadisnya menjadi pandai. Tidak ingin anak gadisnya berderajat sama dengan kedua putranya. Pria itu memang selalu mendeskriminasi putri bungsunya.

Berpapasan dengan ayahnya? Itu adalah dosa besar.

Marquess Julian percaya bahwa anak perempuannya adalah pembawa sial. Jika Sophia berani muncul di hadapannya tanpa izin, bahkan jika itu ia lakukan tanpa sengaja, hukuman cambukan dengan garpu rumput akan menantinya.

Tak peduli betapa kecil dirinya saat itu.

Tak peduli betapa keras ia menangis.

Ia ingat jelas... malam-malam di mana ia kembali ke kamarnya dengan punggung penuh luka dan mata yang sembab. Namun, di setiap malam itu, Anna-lah yang akhirnya menangis paling keras karena tak sanggup melihat gadis kecilnya menderita.

Anna selalu berkata, "Astaga, Nona... Apa yang terjadi dengan Nonaku yang cantik ini?" sambil terisak dan mengobati luka-lukanya. Hampir setiap malam.

Dan seperti itulahwaktu berlalu


"Nona Sophia," suara Anna menariknya kembali ke kenyataan. "Setelah pertunangan Anda, mengapa tidak tinggal saja di kediaman Duke Anantram?"

Mata Sophia berbinar. "Aku memang berencana memintanya pada Kainer." Jemarinya mengepal di atas pangkuan. "Aku ingin melihat dunia luar, Anna. Aku ingin bebas." Sophia mengadahkan kepalanya, membayangkan seperti apakah dunia di luar mansion keluarganya ini. "Kau akan ikut denganku, bukan?"

Anna tertawa kecil. "Tentu, Nona. Lagipula, siapa yang akan memainkan musik untuk Anda, jika suatu hari nanti Anda ingin bernyanyi di sana?"

Bernyanyi.

Sophia sangat suka bernyanyi. Suaranya begitu merdu, seperti alunan sungai yang menenangkan di tengah ketandusan. Tapi, di rumah ini, suaranya tak pernah didengar.

Karena di rumah ini, suara seorang wanita tidak berharga.

"Saya juga sudah bertekad untuk menjadi pengasuh putra-putri Anda di masa depan," lanjut Anna riang. "Dan cucu Anda... ah, saya tidak sabar menantikannya!"

Sophia terkikik, pipinya merona. "Ini baru pertunangan, Anna. Kenapa kau berpikir sejauh itu?"

Anna hanya tertawa, sementara Sophia tersenyum kecil.

Namun, di balik kebahagiaan sesaat itu, ada kenyataan yang belum berubah.

Kebebasan yang ia impikan masih berada di ujung jari.
Ia hanya bisa berharap... bahwa pertunangannya dengan Kainer akan menjadi kunci untuk keluar dari sangkar emas ini.

Namun siapa sangka, jalan menuju kebebasan justru akan dimulai dengan darah dan air mata.

.
.
.

[Sampai jumpa di hari sabtu🙋]

KAINER [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang