16 : Sophia itu cantik.

2.3K 131 2
                                        

Kaki Kainer melangkah masuk ke dalam kamarnya.

Baru beberapa langkah terinjak, pria itu berhenti sejenak. Matanya mencari keberadaan wanita yang ia rindukan seharian ini. Ia memandang ke seluruh bagian ruangan itu dengan saksama, kemudian terhenti kala melihat sosok wanita tercintanya.

Senyum langsung merekah di bibir pria itu. Dengan cepat, dia melangkah mendekati wanita itu, wanita yang sedang melempar pandang keluar jendela.

Sophia menyampingkan rambut cokelat terangnya, membuat tengkuknya terlihat jelas oleh Kainer yang kini sudah berdiri tepat di belakangnya.

Dikecupnya tengkuk itu dengan penuh cinta oleh Kainer, membuat sang empunya terkejut dan segera berbalik untuk melihat siapa gerangan vampir yang berani mencium tengkuk wanita terhormat bergelar Duchess seperti dirinya.

Kala kedua mata sepasang suami istri itu bertemu, keduanya spontan tertawa.

Dari sorot mata keduanya saja, dapat dilihat bahwa mereka sangat mencintai satu sama lain.

Kainer terdiam. Matanya memperhatikan Sophia yang sedang tertawa di hadapannya.

"Sophia, aku suka sekali melihatmu tertawa. Kau cantik sekali"

Sophia menghentikan tawanya, kemudian menyipitkan mata pada Kainer.

"Aku tidak membual Sophia. Kau terlihat sangat cantik saat sedang tertawa," kata Kainer dengan raut wajah serius.

"So-phi-a i-tu can-tik," eja Kainer.

Sophia tersenyum, kemudian dengan berani, dia melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami.

"Putri kita harus memiliki senyum yang sama seperti milikmu. Dia harus cantik sepertimu"

Ya. Wanita itu sedang mengandung. Mengandung anak Kainer, namun jenis kelaminnya belum diketahui jelas. Hanya saja, pria dengan mata kuning terang itu sangat mendambakan kehadiran seorang anak perempuan.

Entah sudah berapa kali dia mengatakan hal itu selama sebulan ini.
Sangat terobsesi dengan sosok istrinya hingga mendambakan putri kecil yang mirip dengan wanita tercintanya itu.

"Aku yakin anak kita perempuan, Sophia. Aku memimpikannya lagi malam ini!" Kainer berkata dengan mata berbinar kepada istrinya, membuat Sophia gemas dan menahan tawa. "Aku bermimpi putri kita mengajakku bermain pesta teh di belakang mansion kita".

Sophia menunduk. Menahan tawa. Tidak bisa membayangkan suaminya yang memiliki wajah dingin bermain pesta teh dengan seorang gadis kecil di belakang mansion mereka.

"Aku, ayah, dan luke bertaruh tadi pagi. Aku dan ayah yakin bahwa anak kita perempuan, sedang Luke bilang bahwa anak ini laki-laki"

Luke, kepala pelayan mereka. Vampir dengan kacamata emas yang selalu mendampingi Duke Anantram.

Pelayan itu berani bertaruh melawan kedua tuannya bukan tanpa alasan, namun Luke sudah mengabdi pada keluarga itu selama 3 periode. Selama ini, Luke selalu melihat bocah laki-laki lahir di keluarga itu.
Tidak pernah ada bocah perempuan!
Itulah sebabnya Luke amat percaya diri dengan tebakannya.

"Ah, maksudku bukan masalah jika anak ini laki-laki atau perempuan, Sophia. Aku akan tetap menyayanginya, namun aku akan sangat senang jika anak kita adalah seorang gadis kecil yang cantik seperti dirimu," jelas Kainer sambil mengusap perut rata Sophia.

Sophia memincingkan mata, lalu memukul bahu Kainer keras. Cukup untuk membuat Kainer meringis.

"Selama hamil, kau selalu memberiku tatapan sinis, juga pukulan keras. Aku khawatir bahwa itulah sifat anak kita." Kainer meringis, kemudian mencium pucuk kepala istrinya.

Kerajaan kembali pada puncak kejayaannya. Para tirani juga berhasil dibereskan seperti semestinya. Bunga-bunga busuk itu dibabat dan diganti oleh tunas yang lebih layak.

Setelah sekian lama gersang karena terus diduduki oleh pemimpin yang salah, kini singgasana itu memutuskan untuk memilih pemiliknya sendiri.

Agar tak ada lagi pihak yang berkorban sendirian dan merelakan keluarganya terluka demi kepentingan bersama, vampir terpilih yang telah ditunjuk harus menjalani takdir sebagai mana mestinya.

Bersama para tetua, bangsawan, dan ribuan ksatria, raja yang baru
harus terus melakukan pengelolaan pemerintahan yang baik, mengelola perekonomian dengan baik, tidak meninggalkan budaya, mempertahankan kekuatan militer, dan gencar melakukan ekspansi.
Begitu seterusnya, sampai periode-periode selanjutnya.

Tamat

Kainer, oleh Rethajk
6 Oktober 2021-17 Maret 2022

Karena sudah mendukung dan membaca cerita ini sampai akhir, saya ucapkan terimakasih.

.
.

[sampai jumpa di hari sabtu untuk extra part🙋]

KAINER [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang