Angin berdesir lembut, menyelinap di antara ranting-ranting pohon, membelai surai cokelat terang seorang gadis yang tengah duduk bersandar di bawah bayang-bayang rimbun. Matanya terpejam, menikmati sentuhan udara sore yang sejuk di kulitnya. Bibirnya mengulas senyum tipis saat suara gemerisik daun menemani kesunyian.
Namun, di dalam dirinya, suasana tidaklah setenang yang terlihat.
Gundah melilit pikirannya, menciptakan simpul yang sulit terurai. Tindakan Kainer mengusik hatinya—membiarkannya menduga-duga, menciptakan pertanyaan yang tak kunjung mendapat jawaban.
Apakah dia malu karena aku tidak cukup cantik?
Atau karena aku tidak menguasai etiket bangsawan?
Sudah tiga hari sejak Kainer pergi dari mansion Duke Anantram. Tiga hari sejak pria itu berbicara empat mata dengan ayahnya—dan meninggalkan Sophia tanpa sepatah kata pun.
Tidak ada salam perpisahan. Tidak ada janji untuk segera kembali.
Sophia menunduk, jari-jarinya mencubit lengan gaunnya dengan gelisah. Hubungan yang ia harap akan segera berkembang justru terasa menjauh. Ada sesuatu yang menahan Kainer, sesuatu yang tak bisa ia pahami.
Sungguh... ia telah menaruh ekspektasi yang terlalu tinggi.
Anna berkata bahwa seorang tunangan tidak akan pernah jauh dari pasangannya. Bahwa Kainer akan selalu ada di sisinya, melindunginya. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya.
Dia pergi tanpa mengucapkan apa pun.
Sophia menarik napas dalam, mencoba menenangkan pikirannya. Setidaknya, ia masih bersyukur—ia sudah keluar dari penjara Marquess Julian. Ia bisa menghirup udara bebas, merasakan hangatnya cahaya matahari di kulitnya, dan mendengar suara dunia yang lebih luas dari tembok kamarnya.
Namun... mengapa hatinya masih terasa kosong?
Langkah kaki mendekat, memecah lamunannya.
"Nona, Duke Anantram meminta Anda makan siang bersamanya satu jam lagi."
Suara dalam dan tenang itu berasal dari kepala pelayan keluarga Anantram. Pria tua berambut putih rapi itu membungkuk hormat sebelum membenarkan posisi kacamatanya dan berbalik, hendak pergi meninggalkan Sophia.
"A—Astaga..." Sophia terkesiap.
Ia bangkit dengan cepat, hampir kehilangan keseimbangannya.
Makan siang dengan Duke Anantram?
Jujur, ia masih canggung saat berada di dekat pria itu.
Namun, canggung tidak berarti menghindar.
Sophia selalu berusaha menarik perhatian calon mertuanya—mengirimkan makanan buatannya sendiri, mencari tahu kebiasaan keluarga Anantram, mendengarkan cerita kepala pelayan tentang bagaimana cara pria itu menjalani hidupnya.
Ia ingin diterima. Ia ingin dianggap sebagai bagian dari keluarga ini.
Dan undangan makan siang ini... mungkinkah itu berarti usahanya tidak sia-sia?
"Duduk," ujar Duke dengan suara dalam dan berwibawa.
Sophia mengulas senyum simpul sebelum duduk di salah satu kursi panjang yang mengitari meja besar.
Jantungnya berdebar kencang. Ada ketakutan dalam dirinya—takut jika ia tanpa sadar melakukan kesalahan.
Seorang pelayan menuangkan anggur merah ke dalam gelas Duke. Namun, aroma yang menyeruak bukanlah aroma anggur biasa. Darah segar. Minuman para orang.
Sophia diam, menatap cairan pekat itu dengan penuh rasa penasaran, tetapi ia tidak berani menanyakan apa pun.
"Sophia," suara Duke memecah keheningan. "Aku sudah mencicipi pie buatanmu kemarin."
KAMU SEDANG MEMBACA
KAINER [TAMAT]
Vampire"Tunanganku bisu. Aku sendiri yang memotong lidahnya" Sophia mencintai tunangannya dengan sepenuh hati. Berharap besar bahwa sang tunangan akan merubah hidupnya menjadi lebih baik. Membawanya keluar dari penjara keluarganya sendiri, namun Sophia tid...
![KAINER [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/287421896-64-k469670.jpg)