3 : Bebas dari penjara

1.9K 162 0
                                        

"Kau lapar?" tanya Kainer.

"Tidak. Saya tidak lapar," jawab Sophia.

Setelah itu, keduanya saling diam. Saling membuang muka. Hanya suara sepatu kuda yang terdengar disana. Selebihnya hanya keheningan.

Sophia dan Kainer saat ini berada di dalam kereta kuda. Mereka melakukan perjalanan menuju ibu kota. Hanya berdua.

Perjalanan ini dilakukan mendadak, tepat setelah pertunangan mereka selesai. Kainer bilang, dia memiliki suatu urusan yang harus segera di selesaikan. Jadi, dia harus buru-buru kembali ke ibu kota.

Awalnya, Kainer ingin meninggalkan Sophia, namun rasanya tidak sopan apa bila pergi begitu saja meninggalkan tunangan yang baru saja ia temui. Dia juga memikirkan bagaimana pandangan bangsawan lain jika dirinya melakukan hal itu.

Dia memikirkan reputasi Sophia.

Rumor apa yang akan timbul jika dia meninggalkan tunangannya?

Jadi, dari pada pusing memikirkan hal itu, dia pun memboyong tunangannya.

Sophia meliriknya diam-diam.

Ia tidak bisa membaca pria ini.

Sikapnya begitu tenang, dingin, tanpa ekspresi—seperti seseorang yang terbiasa mengendalikan segalanya di sekelilingnya.

Tapi ada satu hal yang ia sadari.

Tangannya.

Jemari Kainer mengetuk ringan sisi kursi kereta, hampir tak terdengar, tetapi ritmenya konstan, teratur.

Seolah ada sesuatu yang sedang ia pikirkan.

Sesuatu yang membuatnya... gelisah.

Namun, sebelum Sophia bisa menyelaminya lebih dalam, kereta tiba-tiba berhenti.

Sophia mengintip keluar jendela, matanya membulat melihat bangunan di hadapan mereka.

Bukan istana. Bukan mansion atau kastil bangsawan. Tapi sebuah tempat makan.

Tempat yang terbuka. Tempat yang di datangi banyak orang.

Keraguan memenuhi benaknya.

Sophia memandang Kainer, seolah sedang bertanya 'kenapa berhenti disini?'.

Kainer bangkit dari duduknya kemudian membuka pintu kereta.

"Aku lapar. Ayo temani aku makan." Kainer mengulurkan tangannya pada Sophia.

Sophia tersenyum. Dia segera meraih tangan tunangannya itu. "Mari!".

Begitu memasuki ruangan, bisikan-bisikan halus mulai terdengar.

Mereka diperhatikan.

Bukan hanya karena Kainer, pria yang dikenal luas sebagai putra Duke Anantram yang paling berpengaruh di kerajaan, tetapi juga karena Sophia.

Seorang wanita muda dengan kecantikan lembut dan elegan, mengenakan gaun mewah yang jelas bukan milik kalangan biasa.

Namun, Sophia tidak peduli, atau lebih tepatnya, ia berusaha untuk tidak peduli.

Matanya sibuk menjelajahi ruangan, mencoba menangkap setiap detail dunia yang selama ini hanya bisa ia impikan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia berada di luar mansion.

Untuk pertama kalinya, ia melihat dunia yang lebih luas.

Dari tempat duduknya, ia bisa melihat jendela besar yang menghadap jalan utama. Toko-toko berjajar, para pedagang menawarkan dagangan mereka dengan suara lantang, anak-anak berlarian tertawa, wanita-wanita berbaju indah berjalan anggun dengan lengan menggandeng suami mereka.

KAINER [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang