Deg
Deg
Deg
Tidak ada suara lain yang terdengar di dalam kamar Sophia selain debaran jantungnya sendiri. Gadis itu berulang kali mondar-mandir. Tangannya meremas gaun indah berwarna merah muda yang saat ini ia kenakan.
Cermin besar di hadapannya memantulkan wajah penuh kecemasan—mata cokelatnya melebar, bibir mungilnya sedikit terbuka, seolah ingin berkata sesuatu tetapi tak sanggup mengeluarkan suara.
Hari ini adalah hari pertunangannya.
Hari di mana ia akan bertemu Kainer untuk pertama kalinya.
Hari di mana, untuk pertama kali dalam hidupnya, ia berharap ada seseorang yang mampu mengubah takdirnya.
"Tenang, Sophia. Ini hanya pertunangan," bisiknya pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan debaran yang menggema di dadanya. Tapi pikirannya terus berputar.
Klek.
Pintu kamarnya terbuka.
Sosok pria tinggi memasuki ruangan dengan langkah santai, matanya yang berwarna cokelat keemasan menatapnya lekat. Bibirnya membentuk seringai tipis, dan pakaian resminya tampak mencerminkan kebanggaan.
Aaron.
Sophia menegang.
"Ayo, semua sudah menunggumu," katanya lembut. Namun, kelembutan itu hanya menempel di permukaan. Suaranya terlalu halus untuk tulus, terlalu tenang untuk benar-benar membawa ketenangan.
Ia mengangguk kecil dan melangkah mendekatinya.
Ini kakaknya. Kakak sulungnya. Orang yang paling ia takuti setelah ayahnya.
Aaron memiringkan kepalanya, matanya menelusuri tubuh Sophia dari kepala hingga kaki. Seolah menilai sesuatu. Seolah menimbang harga.
"Tersenyumlah, Sophia. Kau harus bersyukur, calon tunanganmu adalah pemain dadu yang hebat," ucapnya, nada suaranya ringan, hampir terdengar seperti lelucon.
Sophia mengerutkan kening.
Pemain dadu yang hebat? Seorang penjudi?
Aaron tertawa kecil, ekspresinya terlihat puas melihat kebingungan di wajahnya. "Ah, tidak kusangka, adikku yang kecil akan bertunangan." Ia melangkah lebih dekat, terlalu dekat, hingga Sophia bisa mencium aroma khas parfum maskulin yang biasa digunakan pria di keluarganya. "Kau tumbuh lebih cepat dari yang kuduga."
Sophia menggigit bibirnya, merasa tidak nyaman.
Tangan Aaron terulur, jemarinya hendak menyentuh pipinya. "Sejak kapan kau sebesar ini, Sophia? Padahal dulu kau begitu kecil...
Ia tersenyum tipis, tatapannya melembut sejenak.
"... Sampai mencambukmu rasanya menyenangkan."
Jantung Sophia mencelos.
Ia mundur satu langkah. Lalu satu langkah lagi.
Namun, bayangan cambukan itu sudah datang lebih dulu.
Gadis itu masih bisa merasakannya—rasa panas di punggungnya, suara cambukan yang merobek udara, jeritannya yang teredam di dalam ruangan kosong. Tangan itu... tangan yang dulu menggenggam garpu rumput dengan mantap, tangan yang selalu menghantam punggungnya tanpa ragu. Aaron adalah algojo ayahnya. Putra utama sekaligus tersayang yang selalu dipercaya sang ayah.
Aaron tersenyum. Ia menikmatinya.
Sophia menggeleng, mencoba menarik napas, tetapi dadanya terasa sempit. Tidak. Tidak. Ini hanya masa lalu. Ini hanya kenangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
KAINER [TAMAT]
Vampire"Tunanganku bisu. Aku sendiri yang memotong lidahnya" Sophia mencintai tunangannya dengan sepenuh hati. Berharap besar bahwa sang tunangan akan merubah hidupnya menjadi lebih baik. Membawanya keluar dari penjara keluarganya sendiri, namun Sophia tid...
![KAINER [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/287421896-64-k469670.jpg)