Biasanya geng badboy sekolah hanya bisa luluh pada seorang gadis baik atau sebut saja goodgirl. Namun di Neo High School, kumpulan berandalan itu justru bertekuk lutut pada seorang bayi.
Ini kisah Renjun, bayi mungil dengan pipi kelebihan muatan yan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
BRAK
"ANJING"
Jiel reflek melempar ponsel ketika pintu kelasnya terbanting keras.
Murid kelas yang hendak ikut mengumpati tersangka pembantingan pintu seketika terdiam dan kembali melanjutkan kegiatan mereka sebelumnya. Kesal sih, tapi gimana lagi.
Masalahnya yang buat ulah Tuan Muda Zhong. Mana berani kan ya.
"Ada masalah idup apa sih lo?"
Jiel bersungut-sungut sambil memungut ponselnya. Dengusan pelan terdengar dari remaja tinggi itu ketika melihat adanya retakan di sudut kiri ponselnya.
"Istirahat nanti ponsel baru lo udah dateng"
Chenle berucap ketus lalu mendudukkan dirinya dengan kasar di kursi seberang Jiel. Chenle menopang kepala dengan sebelah tangan sambil membayangkan sosok mungil yang sejak kemarin mengisi kepalanya.
Sementara itu, Jiel justru meringis ngeri melihat tingkah laku Chenle yang berubah-ubah dari marah, sebal, dan sekarang terkikik geli sambil menggelengkan kepala.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Bokap lo bangkrut?"
Chenle menatap tajam Jiel. Sedang enak-enaknya membayangkan buntalan mungil kesayangannya, eh malah diganggu. Chenle kan gak lyke.
"Lo ngelawak? Bokap gue 20 tanjakan turunan juga gak bakal bangkrut"
"Abisnya lo kayak orang kekurangan obat. Tadi marah-marah terus sekarang ketawa-ketawa sendiri"
Jiel kembali merasa ngeri ketika Chenle justru kembali melamun lalu asik tertawa pelan.
"By the way, kemaren kenapa pulang duluan? Mana sampe gak ikut ngumpul lagi. Lo lagi gak ada masalah kan?"
Teringat kejadian kemarin sore, Jiel memberanikan bertanya pada Chenle yang jiwanya sedang tidak terlalu waras. Walaupun not have akhlak, Jiel ini punya rasa peduli yang tinggi kalau itu menyangkut Chenle.
"Iya"
Chenle menjawab dengan senyuman lebar yang justru membuat Jiel begidik ngeri. Selama 16 tahun Jiel kenal Chenle luar-dalem, baru sekali ini Jiel melihat Chenle se-depresot ini.