Sekalipun akhir akhir ini ngaret, jangan lupa tetep kasih vote dan komennya yah 🤍
•••
"I got it."
"Apaan?"
"Informasi soal Agatha."
Aku hanya bisa menghela nafas sambil menggelengkan kepala, "lo nggak takut dimarahin sama kak Ali apa, manggil Agatha nggak pake embel embel gitu." Aku mengatakannya sambil tanganku membungkus beberapa bingkisan yang berisi sepaket alat untuk menggosok gigi guna keperluan KKN nanti.
"Gue nggak peduli sih, lagian dari awal kak Ali bawa tuh cewe, kak Ali pasti udah sadar juga kalau gue nggak suka sama Agatha." Aku mengangguk begitu saja, toh apa yang Shabrina lakukan itu adalah haknya. Sekalipun sebenarnya itu salah. "So, lo mau tahu nggak nih informasi soal Agatha?"
"Lo beneran nekat cari informasi itu sendiri?"
"Berhubung lo nggak bisa bantuin gue, ya gue terpaksa cari agent detektif buat cari tahu, gue tinggal bayar mereka."
Aku menatap Shabrina dengan pandangan setengah tak percaya. Seniat itu dirinya ingin tahu soal sosok pacar kak Ali sampai sampai ia harus bertindak sejauh ini.
Sebenarnya kemaren aku terpaksa menolak untuk menolong menemaninya, karena aku sendiri masih ribet mengurusi urusan kegiatan KKN yang rencananya minggu depan akan dimulai. Aku hanya sempat memberi ide bahwa sebaiknya Shabrina juga meminta Daren agar menemaninya, tak kusangka Shabrina benar benar melakukannya sendirian.
"Daren?" Tanyaku
"Dia ada di pihaknya kak Ali. Kalaupun gue paksa dia, bisa sih sebenernya, tapi yang bikin malesin banget kalau gue mesti dengerin dia ceramah dulu." Aku terkekeh begitu saja, kejadian langka. Setahuku bisa dibilang Daren itu tipikal sosok yang bucin kalau sudah menyangkut Shabrina. Jadi mengetahui bahwa kali ini keduanya memiliki pemikiran bertentangan, aku sedikit tak menyangka. "So, gue cuma punya lo yang ada di pihak gue." Shabrina mengatakannya sambil kini bergelayut pada lenganku.
Berhubung semua bingkisan milikku sudah terpacking rapi, maka aku segera meminggirkannya, agar aku lebih mudah menanggapi Shabrina. "Ini hasilnya?" Tanyaku meraih beberapa lembar kertas yang terbungkus map coklat di hadapan kami.
Shabrina mengangguk, namun ia enggan melepaskan lenganku. Jadi dengan agak sedikit bersusah payah aku mengeluarkannya dan mencoba memulai membacanya.
"Agatha bener bener perempuan high class banget ternyata, belum lagi fakta kalau dia berasal dari keluarga konglomerat," serunya pelan membuatku hanya bisa terkekeh.
"Oh jadi dia lawyer," komentarku saat membaca bidang pekerjaannya. Pantas saja sangat bisa dilihat dari tampilannya begitu mewah. Bukan rahasia umum lagi memang, pekerjaan lawyer menghasilkan banyak uang. "Eh, gue baru ngeh. Pacarnya kak Ali beda usia 2 tahun diatasnya kak Ali?"
Shabrina berdehem, "dan nyebelinnya mukanya masih baby face gitu." Kemudian ia tiba tiba mengangkat kepalanya yang tadinya bersender padaku dan melepaskan rangkulannya pada lenganku. "Ini salah satu kejanggalan yang gue dapet. Nggak expect aja, kalau tipe kak Ali suka perempuan yang punya usia diatasnya."
Aku hanya bisa mengangguk sambil terus membaca deretan data diri milik Agatha ditanganku.
"Salah satu hal lain yang makin bikin gue makin nggak setuju sama mereka itu, bokapnya Agatha sekarang pegang jabatan sebagai kepala dinas di kantor dinas sosial tempat kak Ali kerja." Aku seketika menoleh karena terkejut. "Gue takutnya ada semacam konspirasi dibalik hubungan mereka, dan itu ada kaitannya sama pekerjaan kak Ali."
KAMU SEDANG MEMBACA
Head Over Heels
ChickLitHead Over Heels 'Menggambarkan perasaan seseorang yang sedang jatuh cinta, namun lebih ke arah terlalu tergila-gila akan seseorang lawan jenisnya. Perasaan rumit yang terkadang penjelasannya tak bisa dicerna logika maupun akal sehat, sehingga sehar...
