Dua puluh satu : Tidak ada yang abadi

316 50 4
                                        

•••

Rutinitas baru sehari hariku saat ini adalah pergi ke sekolah setiap pagi, dengan berjalan kaki. Tentu saja jarak antara selolah dan tempat yang kini ku tinggali dekat. Hitung hitung aku menganggapnya sekalian berolahraga.

Satu minggu berada disini, aku mulai merasakan kenyamanan, berkat usahaku untuk mencoba adaptasi dengan cepat. Juga aku sudah banyak mengobrol dengan orang orang sesama pemagang yang lain. Adanya fasilitas dapur umum serta ruang santai dirumah, cukup membuat kami menjadi sering berjumpa dan akhirnya sedikit demi sedikit menjadi akrab.

Terkait kegiatanku disekolah, belum terlalu banyak yang bisa ku lakukan. Aku hanya akan menggantikan peran guru tetap disini jika beliau beliau ada yang berhalangan hadir untuk mengajar. Tak melulu menggantikan mengajar dikelas, terkadang beberapa guru meminta bantuan kami terkait penyusunan laporan, jugq tak bisa kami tolak.

Dan setiap hari sabtunya, aku mendapatkan jadwal piket menjaga perpustakaan disekolah ini. Meskipun tidak banyak siswa siswi yang berkunjung ketempat ini, setidaknya aku cukup merasa terkesan karena fasilitas di sekolah ini sangat memadai. Ya minusnya pada bagian penggunaannya saja sebenarnya. Andai kata sekolah ini mampu menaikkan minat baca siswa, pasti akan sangat keren sekali.

"Pril, boleh minta bantuan gak?"

Kutemukan sosok Hawa, sesama pemagang sepertiku, memasuki perpustakaan dan menghampiriku.

"Boleh, kenapa?" Tanyaku sembari mempersilahkannya duduk dibangku tepat disampingku.

"Ini biar rapi gimana sih, kalau yang bagian sini gue kecilin, yang dibawahnya ngikut." Aku pun melihat pada layar laptopnya yang tengah membuka file didokumen.

"Pakai tabel aja mending," kataku sembari mencoba memperbaiki dokumen miliknya. "Kalo ukurannya jadi segini semua gimana?" Tanyaku meminta pendapat. Ya bagaimanapun ia yang berkepentingan.

"Iya deh boleh, eh tapi ini kalo tabelnya keliatan gini jadi agak menuhin space gak sih?"

"Tinggal di buat gak kelihatan aja, gini nih," kataku sembari menunjukkan langkah langkahnya pada Hawa.

"Manteb banget lo, thanks ya pril."

"Sama sama."

Segera ku kembalikan posisi laptop milik Hawa ketempat semula, setelah memastikan dokumennya tadi tertata rapi seperti permintaannya.

"Btw, gue perhatiin lo kelihatan gak tertarik sama guru ganteng itu ya Pril?" katanya menjahiliku ketika ia telah memastikan dokumennya aman.

Aku hanya bisa terkekeh lucu mendengar kejahilannya, "jangan aneh aneh ya, Hawa."

Tentu saja pertanyaannya hanyalah sebuah candaan. Bukan apa apa, sosok guru ganteng yang tadi jadi bahan ledekan Hawa merupakan topik yang sangat sering dibahas dirumah hunian kami. Tentu saja bersama anak anak magang yang lain. Sebenarnya sosok yang dibicarakan Hawa tidaklah buruk. Beliau malah terkesan baik, namun hanya saja terkadang memberikan perlakuan yang sebenarnya kataku tidak diperlukan. Dan akibatnya, ada yang sampai menyalah artikan perlakuan beliau.

Bukan apa apa sih, masalahnya sudah terdapat satu anak magang anggota kami yang akhirnya terbawa perasaan karena sikap baiknya. Padahal kenyataannya, sepertinya beliau hanya murni ingin berbuat baik.

"Eh, lo udah ada cowok ya? Sorry sorry, bercanda doang kok tadi."

Aku hanya terkekeh, tanpa memberikan respon membenarkan maupun memperbaiki kalimatnya. Takut terlalu panjang jika aku harus menjelaskan statusku saat ini yang tak kunjung move on ini juga.

"Padahal enakan single tau, Pril."

Aku pun mengeryitkan dahi spontan, "emang lo single ya Wa? Yang kemaren yang nganterin lo itu?"

Head Over HeelsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang