•••
"Iya kenapa Zidan?" Sapaku mengangkat sambungan telfon darinya.
"Gue didepan tempat lo."
Tentu saja aku langsung bangkit dari tempat dudukku semula.
"Hah?"
"Pagernya bener warna hitam kan?" Ujarnya memastikan dan semakin membuatku dilanda kepanikan. Tak menyangka laki laki itu beneran ada didepan rumah.
"Jangan bercanda deh."
"Sini keluar dulu makanya, oke?"
Lalu sambungan percakapan kami berhasil diputus olehnya.
Sedang mengigaukah dirinya berada disini?
Lagian untuk apa ia kemari?
Demi memastikan kejujurannya serta memuaskan rasa penasaranku, aku segera bergerak mencari cardigan untuk ku kenakan. Menuruni tangga, kemudian segera turun ke pintu utama bagunan.
Tanganku dengan lugas membuka kunci rumah, lalu berjalan mendekati pagar. Samar-samar bisa kutemukan sebuah kendaraan terparkir disana, kendaraan tersebut masih menyala dan memancarkan cahaya lampunya. Dengan perlahan pun aku mencoba membuka pagar, sembari berharap kendaraan itu tak menyembunyikan keberadaan Zidan didalamnya.
Namun ternyata doaku tak terkabul, dan Zidan benar benar membuktikan kejujurannya.
Ia duduk sambil menoleh kearah pagar yang kini telah terbuka. Tangannya yang kini tengah melambai semakin membuktikan bahwa keberadaanya ternyata benar adanya.
"Zidan?" Ucapku masih belum sepenuhnya percaya.
Kuperhatikan ia segera turun, "hai." Sapanya berjalan mendekat ke arah aku berdiri.
"Lo sendirian kesini?"
"Kelihatannya gimana?" Ia sendirian, gumamku dalam hati. "Nih, semoga lo nggak dalam mode diet," katanya mengulurkan sebuah kantong, yang kutebak isinya makanan.
Mencoba menguasai diri dari keterjutanku, aku segera mengambil kantong tersebut dan mempersilahkannya masuk kedalam rumah tanpa menutup pagar.
"Duduk disini nggak apa-apa kan?" Kataku saat mempersilahkannya duduk di teras rumah. Bukannya aku tidak ingin menawarinya duduk didalm, namun aku lebih kearah takut anak anak lain yang tinggal disini merasa tak nyaman karena kehadiran Zidan. Beruntungnya Zidan memberikan anggukan sebagai tanda tak keberatannya. "Gue buat minum sebentar ya," pamitku meninggalkannya.
Satu hal perbedaan yang berhasil kutemukan pada Zidan di akhir pertemuan kami. Tatapan legamnya tadi sudah tak menunjukkan kesedihan seperti beberapa waktu yang lalu. Yang mampu kutemukan adalah binar keceriaan. Aku ikut bersyukur menyadari fakta tersebut.
Aku segera kembali ke teras depan sambil membawa secangkir teh dan sepiring martabak manis coklat-kacang-keju yang tadi ia bawa.
"Enak ya udara disini," katanya membantu menerima minumannya.
"Iya, apalagi kalo pagi-pagi cocok banget buat jogging," sahutku. "Ngomong-ngomong, gimana perasaan lo sejauh ini? Feel better?"
"Yap, kurang lebih begitu. Berkat petuah dan nasehat yang lo, sama anak-anak kasih, gue udah lebih dari baik."
Aku meringis tipis mendengar jawabannya. Kahiyang dan Pandu memang pasangan kompak.
Saat aku memang jauh dari mereka, keduanya tak henti berinisiatif melakukan apapun guna membuat Zidan kembali pulih dan produktif setelah masa berkabung yang ia lewati.
"Soal ajakan bokap lo buat tinggal bareng, gimana?"
Yap, itu topik terbaru kami di grup obrolan bersama. Sebab Zidan yang masih enggan tinggal bersama Papanya, membuat kami bertiga masih berupaya membujuknya. Lagian bagi kami, Zidan tinggal bersama Papanya adalah hal yang baik. Setidaknya ditempat barunya ia akan mendapatkan patner mengobrol, sekalipun mungkin tidak seintens keluarga lain karena kesibukan Papa Zidan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Head Over Heels
ChickLitHead Over Heels 'Menggambarkan perasaan seseorang yang sedang jatuh cinta, namun lebih ke arah terlalu tergila-gila akan seseorang lawan jenisnya. Perasaan rumit yang terkadang penjelasannya tak bisa dicerna logika maupun akal sehat, sehingga sehar...
