°°°
"Kok kak Ali baru bilang sekarang, sih?"
"Aku nggak mau kamu sedih."
"Apa bedanya bilang kemarin atau sekarang, toh keduanya juga bakal sama sama bikin aku sedih."
Jujur, aku yakin pasti setelah meluapkan emosi seperti ini, nanti aku pasti merasakan penyesalan. Ya. Menyesal kenapa aku harus berbicara dengan nada keras seperti ini.
Tapi sikap kak Ali jali ini nenurutku sangat tidak benar.
Bagaimana bisa ia baru memberitahuku bahwa besok ia harus keluar kota selama 3 bulan untuk menjalani program training. Dimana setelah mengikuti program tersebut, kak Ali akan bekerja di kantor daerah yang berbeda dengan jabatan baru.
Ya, itu memang bagus. Sangat bagus malah bagi karirnya. Hanya saja aku menyayangkan akan sikapnya yang baru berani mengatakannya padaku.
Apa tadi katanya?
Kak Ali baru bilang karena tak mau aku sedih?
Terus sekarang apa?
Dia lebih mau lihat aku marah marah begini, di sisa beberapa hari terakhirnya disini?
"Kita mau spending time bareng sebelum aku pergi lama lho, kamu nggak mau romantis romantisan aja gitu? Dari pada marahin aku gini."
Dasar perayu profesional.
Bagaimana marahku tidak hilang seketika, ia tak hanya sekedar mengatakan kalimat tersebut saja. Tapi ia juga langsung merangkulku dari samping, dan memberikan kecupan singkat pada pipiku.
"Nyebelin," kataku memutuskan untuk luluh. Tentu aku mencubitnya terlebih dahulu sebelum akhirnya menyambut dekapannya. "Cuma 3 bulan?"
"Iya sayang," jawabnya. "Aku usahain pulang kalau nemu jadwal weekend kosong."
"Kalau nggak kosong kosong?" Tanyaku.
"Kamu yang harus samperin aku berarti."
Aku seketika mendengus, "enteng banget kak Ali ngomong gitu."
"Kan emang yang berat itu cuma nahan kangen sama kamu, sayang." Lalu tawaku tak dapat kutahan ketika mendengarnya.
Sekelebat bayangan menjalani hari tanpa adanya kak Ali dalam keseharianku, rasanya sudah pasti sepi. Tiada sosok yang menungguiku didepan rumah untuk mengantarku, menemaniku menyelesaikan skripsi, apalagi menghiburku dikala nanti sedih.
"Bulan depan padahal aku mau sidang skripsi, lho kak," gumamku pelan.
Dan salah satu keinginanku adalah kak Ali bisa hadir mendampingiku. Menungguku diluar ruangan sidang. Menyambutku setelah selesainya agenda tersebut, kemudian merayakan kesenangan setelahnya.
"Tanggal berapa?"
Aku mengendikkan bahu, kemudian berusaha melepaskan dekapan kak Ali. Sepertinya memang aku tidak perlu mengharapkan kedatangan kak Ali. Sebab sudah pasti ia tak bisa datang, karena pelaksanaannya di hari kerja.
"Yaudah mau gimana lagi," aku menoleh, dan memberikan seulas senyum padanya. Sengaja tak ingin memberitahunya dahulu. "Kak Ali cukup doain aku lancar ya."
"Kalau soal mendoakan, tanpa kamu minta pun aku selalu mendoakan yang terbaik buat kamu pril."
Lalu aku memutuskan menggenggam telapak tangannya. Setelah di amati, ternyata telapak tanganku, sangat mungil jika dibandingkan dengan telapak tangannya. Pantas saja aku selalu kesulitan bergerak apabila sudah berada dalam dekapannya itu.
Cukup lama aku memperhatikan kedua tangan kami yang saling menggenggam, dan hasilnya malah rasa haru yang menyeruak muncul. Aku terlalu payah memang.
Tadinya aku fikir kami kemari hanya untuk berkencan, menghabiskan sisa malam minggu bersama dengan saling bercengkrama. Tak pernah ku duga bahwa malam ini justru menjadi salah satu momen perpisahan selama beberapa bulan kedepan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Head Over Heels
ChickLitHead Over Heels 'Menggambarkan perasaan seseorang yang sedang jatuh cinta, namun lebih ke arah terlalu tergila-gila akan seseorang lawan jenisnya. Perasaan rumit yang terkadang penjelasannya tak bisa dicerna logika maupun akal sehat, sehingga sehar...
