Suka banget baca komentar kalian di chapter kemarin ❤
Ramaikan lagi yak ❤
•••
Astaga, Tuhan.
Begitu kelopak mataku terbuka secara lebar, aku segera mencari keberadaan ponselku. Berhasil mendapatinya di atas meja nakas, maka segera ku sahut dan kulihat pukul berapa sekarang.
Sudah pukul 7 lebih 10 menit.
Sungguh ini adalah rekor bangun tersiangku.
Ah, bisa sekalian kulihat pula notifikasi beberapa alarm yang terlewat.
Sial.
Menyadari bahwa aku berada tersembunyi dibalik selimut, membuatku seketika terdiam dan berfikir. Ini aneh. Tunggu dulu.
Yak, kenapa bisa sekarang aku disini?
Di ranjang kamar tidurku.
Sebab yang terakhir ku ingat, aku tengah memutar musik kencang kencang sambil fikiranku melantur kemana mana. Jadi dugaanku, aku tertidur di sofa harusnya. Jadi mungkinkah aku bisa tidur sambil berjalan sendiri menuju kesini? Aku ragu, sangat tidak mungkin itu bisa terjadi.
Menyibakkan selimut secara kasar, aku segera keluar. Mbak Jenna kemungkinan sudah datang, jadi aku berniat meminta tolong dibuatkan sarapan.
"Mbak Jenna?"
Kudengar sahutannya berada tak jauh dari tempatku berdiri, maka aku segera menghampirinya.
"Mbak boleh minta tolong buatin aku sarapan? Apapun boleh deh, Aku buru buru banget soalnya harus berangkat habis mandi," pintaku.
"Iya, sana mandi."
Aku bergegas menuju kamar mandi dengan langkah cepat. Berusaha secepat mungkin melakukan ritual bersih bersih ini. Karena jangan sampai Kahiyang dan 2 orang lainnya marah kelamaan menungguku.
Pagi ini aku mendapat giliran pergi melakukan survei awal ke desa yang akan dijadikan tempat timku melakukan KKN. 4 orang yang hari ini berangkat ada aku, Kahiyang, Zidan dan satu orang lain bernama Ghani. Ya aku sangat tidak beruntung karena lagi lagi harus mendapat giliran yang sama dengan laki laki menyebalkan seperti Zidan.
Ah, bahkan laki laki itu kemarin juga sudah sekalian sempat mengabarkan di grup line bahwa dirinya yang akan menjemputku sekalian.
Sial sekali bukan.
Mandi 15 menit. Rekor tercepat juga bagiku. Gila, dihari yang sama sudah ada 2 rekor yang bisa aku ciptakan.
Setelah siap dan nampak rapi, aku segera menyahut sebuah tas dan juga jas almamater yang tergantung. Lalu aku segera keluar. Menuju meja makan.
Melihat tanda notifikasi dari Zidan yang memberitahu bahwa ia sudah sampai didepan, membuatku mengeluh. Sebab perutku sungguh lapar pagi ini. Ini mengingatkanku bahwa tadi malam aku skip makan malam, hanya memakan snack bermicin.
"Ini sarapannya sengaja mbak taruh di wadah bekal. Pasti udah buru buru kan?"
Thanks to Mbak Jenna yang paling pengertian ini. Lihatlah bagaimana beliau menyerahkan bekal yang sudah siap kubawa pergi. Meskipun aku tak tahu entah apa isinya.
Karena merasa terharu atas pengertian Mbak Jenna maka akupun memeluknya kilat, "thanks banget, Mbak."
Mbak Jenna berdehem, "sama-sama." Beruntung sekali aku dipertemukan dengan sosok sebaik Mbak Jenna ini. "Oh iya, ada yang mau Mbak tanyain bentar."
KAMU SEDANG MEMBACA
Head Over Heels
Genç Kız EdebiyatıHead Over Heels 'Menggambarkan perasaan seseorang yang sedang jatuh cinta, namun lebih ke arah terlalu tergila-gila akan seseorang lawan jenisnya. Perasaan rumit yang terkadang penjelasannya tak bisa dicerna logika maupun akal sehat, sehingga sehar...
