Sembilan : Jadi Bagaimana?

420 79 39
                                        

Ramein lagi dong hehehe

Sedih lihat votenya nggak sebanyak sebelum sebelumnya 🥲

Happy reading!




•••

Tak terasa sudah berjalan hampir 2 minggu aku tinggal disini-jauh dari Mama pastinya. Yang ku jumpai seringnya adalah Kahiyang dan anak anak yang lain-pastinya.

Jadi kemarin Pandu dan Kahiyang sebagai ketua dan wakil kelompok sepakat atas penyusunan jadwal baru mengenai siapa siapa saja yang wajib stay di sini. Untuk sistemnya, akan ada 4 orang yang terdiri dari 2 perempuan dan 2 laki laki yang wajib stay selama seminggu penuh-sekalipun harinya masuk weekend. Nah, kalaupun yang lain mau ikut stay tidak apa apa namun itu bukan suatu kewajiban. Dan ya, minggu kemarin adalah giliranku untuk tak bisa pulang, jadi minggu ini adalah kesempatanku bisa pulang saat weekend nanti.

Alasan utamaku untuk pulang weekend ini sebenarnya adalah, karena kabar dari Mama. Mama bilang, beliau berniat akan mengenalkanku dengan teman yang selama ini bisa dibilang dekat dengan Mama. Ya, akhirnya setelah sekian lama, Mama baru mau mengambil keputusan ini. Aku yang menghargainya pun memutuskan untuk setuju akan pulang weekend ini. Ya siapa tahu, sosok yang akan Mama kenalkan memang sosok yang baik untuk kami kedepannya.

Hari ini kebetulan aku tidak memiliki jadwal untuk terjun kegiatan ke masyarakat sekitar. Alhasil, sedari pagi aku hanya menghabiskan waktu di kamar untuk melanjutkan penyusunan tugas akhirku. Kahiyang sendiri tentu sudah pergi sejak pagi tadi, karena kebetulan hari ini merupakan jadwalnya.

Berhubung rasa lapar tiba tiba mendera, maka kuputuskan untuk keluar dari kamar, berniat makan. Namun sebelumnya aku sudah memastikan laptop milikku sudah dalam kondisi mati.

Keluar dari kamar, rasa sunyi seketika menghampiri. Entah yang lain masih sedang melanjutkan tidur, ataukah hanya aku saja yang memang disini, aku tak tahu. Menghela nafas mencoba tidak merasa terganggu maka aku segera ke dapur. Saat kubuka tudung yang ada di meja, ternyata yang bisa kutemukan hanyalah ada nasi dan sayur bayam yang tersisa.

Tidak ada lauk pauk.

Astaga.

Kenapa aku selalu kelupaan seperti ini. Padahal sudah 2 minggu berjalan aku disini.

Inilah akibatnya kalau aku tak segera mengambil jatah makan. Lauk pauk sudah ludes. Kalau sudah begini, ah shit. Nafsu makanku tiba tiba menurun, padahal perutku sudah terasa sangat lapar.

Aku memutuskan kembali menutup tudung saji di meja, dan kembali berjalan keluar. Opsi yang kupunya saat ini adalah membeli makan diluar, karena tidak mungkin aku kembali memasak mie instan pagi pagi seperti ini, apalagi harus mengolah makanan sendiri.

Saat keluar, tak sengaja kulihat sosok Zidan yang tengah duduk diteras rumah sambil terpejam. Dan seperti biasa ada sebuah airbuds pada telinga kirinya-ini pemandangan yang hampir sering kutemukan saat tak sengaja menemukan ia tengah sendiri. Aku sama sekali tak berniat menjadi pemerhati sosok tersebut, namun ingatan bahwa aku sudab beberapa kali melihatnya seperti ini merasa tak nyaman saja.

Mungkin ada tiga atau empat kali aku berhasil memergokinya yang tengah terdiam sambil terpejam dengan sebuah airbuds yang terpasang disana. Ngapain gitu memangnya?

"Ekhem," dehemku sengaja namun sialnya Zidan sama sekali tak berniat merubah posisi.

Hal itu membuatku semakin penasaran, apa sih gerangan yang ia dengarkan. Sampai sampai bisa membuatnya nampak tenang seperti itu.

"Ngapain berdiri disitu? Sengaja buat lihatin gue?"

Shit!

Sejak kapan laki laki itu terbuka matanya, bahkan kini ia tengah memperbaiki duduk bersandarnya.

Head Over HeelsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang