Cinta dan Segala Rasanya

10 1 0
                                        

🎶🎶
Kau memang manusia tak kasat rasa
Biar aku yang mengemban cinta
-Nadin Amiza

***

Ara memandang cukup lama nomor Pandji. Menimbang ulang apakah laki-laki itu tau bahwa beberapa jam yang lalu ibunya menelpon, terkesan tiba-tiba untuk hal penting seperti merekomendasikan desainer yang cocok untuk merancang baju pernikahannya nanti. Ini cukup membuat Ara bingung jika saja Tante Mala tidak mengatakan bahwa cuma merekomendasikan, kalau cocok bisa nanti dilanjutkan. Ada-ada saja ibu Pandji itu. Jangankan memikirkan tentang persiapan pernikahan, hubungannya saja dengan Pandji ini kadang bikin meradang. Setelah pertunangan dulu, tidak pernah ada lagi pembahasan atau pertemuan dua pihak keluarga untuk menentukan kapan tepatnya pernikahan mereka bisa dilaksanakan. Pun dengan Ara dan Pandji, mereka tidak pernah membicarakan itu. Seolah dengan pertunangan itu sudah cukup bagi mereka, terutama Ara.

"Iya, Halo?" Suara berat Pandji terdengar.

"Ganggu nggak?" Pada akhirnya ia menelpon laki-laki itu.

"Oh, nggak nggak. Ini dalam perjalan ke kantor." Ara menatap jam di dinding kantor. Hampir tengah hari, dan Pandji baru menuju kantornya. Habis kemana?

Ara diam sebentar, ia tidak mau bertanya lebih lanjut. Bisa saja ia dicap kepo oleh Pandji jika bertanya.

"Mama Lika gimana?" Sudah empat hari sejak mereka bertemu di rumah sakit dan ia tidak tahu bagaimana kondisi orang tua Lika itu.

Balasan itu tidak datang lebih cepat dari harapkan. Tidak ada suara. Pandji terdiam. Tadinya Ara pikir sambungan terputus. Jadi ia kembali bersuara. "Halo?"

"Iya?"

"Mamanya Lika gimana?"

"Udah mendingan."

"Lika sendiri gimana? Maksudku kuliahnya?"

"Lika ambil cuti Akademik."

Ara diam sebentar memberi jeda. "Oh ini, aku mau bilang, Tante Mala tadi nelpon, masa tiba-tiba disuruh fitting baju."

"Oh, Mama?"

"Iya, Mama kamu."

"Iya tadi juga aku ditelpon, tapi nggak ada salahnya dicoba. Mana tahu cocok. Kamu bisa kapan?"

Ara berpikir sejenak, "Jumat mungkin?"

"Jum'at depannya gimana?"

"Jumat depan aku nggak bisa." Dia ingat, dari beberapa hari lalu ia sudah merencanakan akan ke Bandung.

"Oh, okay. Jadi Jum'at yang dekat ini, ya?"

"Kalau kamu nggak sibuk." Di akhir kalimatnya, ada sebuah tawa kecil terdengar dari seberang.

"Nantilah aku sesuaikan jadwal."

Percakapan mereka terputus tak lama setelah itu. Dan tidak ada lagi percakapan bahkan pertemuan di hari-hari sebelum Jum'at yang mereka maksud. Laki-laki itu hilang kabar seperti biasa. Tidak ada informasi tentang Pandji dan Ara juga enggan untuk mencaritahu. Sampai akhirnya ketika Jumat itu hadir. Ara mengirimkan pesan ke Pandji. Memberitahu ulang janji mereka.

Tidak langsung mendapat jawaban karena last seen Pandji 15 menit yang lalu. Tidak, ia tidak memberengut kesal meninggalkan kubikelnya, ini hampir tengah hari jadi kemungkinan laki-laki itu dalam perjalanan untuk shalat Jum'at pikirnya. Sebenarnya yang ia sesali, harusnya ia bisa menghubungi Pandji lebih awal atau paling tidak Pandji punya inisiatif sendiri untuk menghubunginya kalau-kalau laki-laki itu ingat.

Bahkan ketika Ara sudah selesai dengan jam istirahatnya, belum ada juga kabar dari Pandji. Jadi ia sudah berpikir bahwa janji mereka akan batal.

"Ra, bantuin dulu dong," Dani mengangkat kepala mengulurkan hasil beberapa coretan tangannya di sebuah kertas. "Nama-nama yang ini, kok error ya?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 9 hours ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

PulangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang