"Riku, apa tadi momo-san ada mencari ku?" Tenn bertanya sesaat setelah dirinya keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambut basahnya, ia duduk di sisi riku yang sedang sibuk bermain ponsel. Riku terlihat sedang mengobrol dengan seseorang via chat, entah siapa.
"Riku, kau dengar aku kan?"
"Ada, tapi ku suruh dia untuk menitipkannya pada haruka," riku menjawab dengan santai, tatapannya tidak berpaling sedikitpun dari ponselnya yang terus meletupkan notifikasi tentang pesan-pesan baru.
Gerakan tangan tenn yang menggosok rambut terhenti, ia sekarang mengerutkan kening, menatap riku.
"Loh, kapan dia kembali? Bukannya Isumi haruka masih menemani neneknya yang sedang sakit?" Tanyanya dengan heran.
"Oh soal itu? Haruka tiba dan melapor pada ku sesaat setelah kau masuk dan menggunakan kamar mandi ku, tenn-nii." Jawabnya lagi, masih tidak menatap lawan bicaranya.
"Maaf karena sudah membuat mu harus kerepotan dengan mencari-cari haruka nantinya, tenn-nii."
Wajah tenn yang tadinya berekspresi heran, kini sekaku dan sedatar permukaan tembok.
Tenn sesekali melirik ponsel yang berada di tangan riku, di selingkuhi dengan gadget saat pembicaraan mereka kembali menajam rasanya sungguh tidak menyenangkan.
"Dasar riku, padahal kau tahu sendiri kalau aku paling tidak suka saat harus mencari para bawahan mu itu." Matanya melirik sekilas, mulai jengkel karena riku justru membuka game COC. "Riku, bisakah kau letakkan dulu android-mu dan memandang diri ku sepuluh menit saja? Kau bisa bermain lagi nanti."
"Kalau mau bicara, ya bicara saja." Riku tidak menggubris, "Memandang mu justru membuat ku luluh dan membiarkan haruka yang masih kelelahan untuk kembali berjalan kemari. Aku sangat menghindari hal yang dapat membuat para bawahan ku tidak produktif, jangan memancing ku untuk mengiyakan keinginan mu, tenn-nii."
Tenn bangkit secara tiba-tiba dari sisi riku.
Kesal.
"Riku sudah tidak sayang pada ku lagi ya?" Mendadak ia menjadi sensitif. "Yang benar saja, masa aku harus berjalan menujuk kamar Isumi haruka dan mengetuk pintu kamarnya dengan sopan gara-gara barang pesanan ku berada di tanganya?" Manik mata mawar lembut menikam tajam. Jelas sekali merasa tersinggung.
Riku berpura-pura sibuk dengan permainan, COC di gunakan sebagai pelarian untuk mengesampingkan sengatan kecil yang tak di undang.
"Ternyata kau lebih cinta pada ponsel mu daripada kakak mu sendiri," tenn menghela napas, "kalau begitu mungkin aku harus membahayakan nyawa ku sekali lagi agar aku tidak di abaikan begini."
Tidak biasanya kata-kata tenn bisa mencolek emosi riku, mungkin ada sedikit sisa trauma yang masih sangat segar hingga lelaki muda itu menatap marah pada kakaknya.
"Jaga ucapan mu tenn-nii, kau tidak tahu betapa khawatirnya aku saat kejadian tadi? Kau jangan menganggap itu sebagai kejadian yang sepele."
Tubuh berbalik, mata memandang penuh pertanyaan, "Bukannya aku memang sepele? Kau yang meremehkan ku."
"Tenn-nii, serius, jangan membuat aku marah pada mu." Kali ini riku meletakkan ponselnya, berdiri menyejajari tenn. "Masalahnya tadi hanya karena paket yang berpindah tangan, jangan meluberkannya kemana-mana."
"Masalahnya aku tidak ingin pergi kemanapun saat malam hari tiba," tenn masih tidak mau mengalah sedikitpun.
"Tenn-nii kau egois sekali, padahal kau tahu kalau tidak hanya satu hati yang harus kau jaga. Kau sudah memiliki aku."
Tenn memalingkan muka, berusaha menimbang jawaban.
"Kalau begitu katakan pada ku tentang sudut pandang mu," ia menuntut meski dengan suara pelan. "Apa aku hanyalah seorang kakak yang lemah dan egois, yang tidak bisa mendapatkan serta memiliki segala keinginan ku?"

KAMU SEDANG MEMBACA
No Exit
FanfictionKeluarga Nanase merupakan sebuah keluarga yang memasuki kategori keluarga abnormal. Mereka saling menjaga dan melindungi sekaligus saling membahayakan.