Seokjin membuka mata di pagi itu, tertidur di apartemen Namjoon. Berdempetan bertiga. Masalah kecilnya dengan Namjoon selesai, dia tersenyum mengingatnya.
Menyingkirkan kaki Hoseok di atas tubuhnya, dia bangkit dari sana lantas mencari ponselnya langsung.
Tidak ada pesan atau telepon dari Taehyung. Setelah dia mencoba menghubunginya semalam, dia tidak mendapat balasan apa-apa. Sekarang pun tidak. Tidak tahu sesibuk apa anak itu sampai tidak bisa memberinya kabar setelah menerima banyak panggilan dan pesan darinya.
"Seokjin hyung, bisa kau masak pagi ini?" Hoseok setengah sadar bertanya dan meminta. Sudah lama dia tidak merasakan masakan Seokjin.
"Tidak. Pesan saja." Jawab Seokjin masih melihat ponsel.
Hoseok mendesah kecewa dan jatuh telentang. Tidur lagi. Seokjin terlihat berpikir sebelum pergi ke kamar mandi.
#
Suha sudah mendengar apa yang terjadi kemarin. Pamannya bilang dia tidak bisa mencegah Taehyung dibawa ayahnya. Masalahnya dia tidak bisa menghubungi anak itu sekarang.
"Paman, aku masih tidak bisa menghubungi Taehyung. Aku ke sana saja bagaimana?"
"Kau tahu rumahnya?"
Suha mengangguk. Tapi pamannya tidak setuju. "Dia mungkin tidak sempat mengisi daya ponselnya. Kau tunggu kabar sajalah."
"Tapi paman,"
"Sudah. Sudah. Kau pergi kuliah. Paman tidak bermaksud apa-apa. Hanya, jangan terlibat jauh dengan masalah orang. Kau bisa ikut kena masalah nanti."
"Pamaaaan,"
Si paman justru mendorong keponakannya untuk pergi. Kebetulan Yoongi sampai pada saat itu. Karena pagi, Yoongi masih mengantuk, menyapa paman Suha sebagai sopan santun. Kemudian membawa pergi Suha seperti yang disuruh si paman.
"Ada apa?" Yoongi ini tidak terlalu cuek sebenarnya. Dia tahu mood kekasihnya sedang tidak bagus.
"Taehyung dibawa pergi ayahnya semalam dari restaurant. Sampai sekarang belum ada kabar, aku cemas."
"Kenapa memangnya?"
"Kau tidak tahu. Ayah Taehyung selalu membuat masalah. Menurutmu, jika ayahnya baik, apa perlu Taehyung bekerja seperti ini? Pria itu hanya bisa merampas uang dari anaknya." Suha merasa kesal. Dia menceritakan keburukan Kim Woo Bin dengan jengkel. Seakan dia bisa mengumpati pria itu dengan seribu kata.
Yoongi memperhatikan Suha, juga peduli dengan hal-hal yang dipikirkannya. Lengannya yang bebas mengusap rambut Suha ke belakang. "Nanti kutanya Jimin bagaimana keadaannya. Akan segera kukabari begitu aku tahu."
Suha tersenyum pada Yoongi. "Terima kasih."
Yoongi mengangguk, mengusak sebentar belakang kepala Suha dan kembali fokus pada jalanan.
#
Jimin sudah ada di depan rumah Taehyung saat menerima panggilan Yoongi. Masih di atas motornya dia menjawab.
"Ada apa, hyung?"
'Apa kau bertemu anak itu?'
"Siapa yang kau maksud?"
'Taehyung'
Jimin melihat ke rumah Taehyung. "Aku baru sampai di sini. Kenapa?"
'Tidak apa-apa. Ini, Suha ingin tahu keadaannya karena semalam anak itu dibawa pulang ayahnya begitu saja.'
Mendengar itu Jimin merasa tegang di punggungnya. Kembali melihat ke rumah. Tepat saat itu pintu rumah dibuka dari dalam. Seorang pria bermantel, yang tidak Jimin tahu, keluar dari dalam. Perawakannya tinggi dan berisi sedang merokok, berjalan dengan santai.

KAMU SEDANG MEMBACA
sepenggal hati
FanfictionKim Seokjin yang kehilangan dan terluka karenanya. penuh penyesalan. penuh kemarahan. Tanpa sengaja melihat Kim Taehyung yang butuh ketegaran. beberapa kekuatan. sedikit dukungan. Melihat Kim Taehyung, hati Seokjin berteriak menuntut penawar.