(Name) memutuskan untuk kembali berkerja.
Dengan semangat dan hati yang berdebar, (name) langsung pergi dengan bahagia.
Saat di jalan ia di cegat oleh Levi.
"Mau kemana?" Tanya Levi sambil mencengkram tangan (name).
"Mau kerja ke kediaman." Jawab (name) polos.
Levi langsung marah.
"Kamu ngak kapok-kapok ya? Gara-gara bangsawan kamu hampir sekarat kayak kemarin!" Ceramah Levi.
"Ngak kok sir itu baik! Buktinya dia menyelamatkanku berkali-kali." Jawab (name).
"Sebagai kekasih yang baik aku akan mengantarmu." Dercih Levi.
"Satu lagi dia sudah tahu kalau aku berpura-pura kalau kau kekasihku..." lirih (name).
"Bagaimana dia?" Levi kaget.
"Katanya dia melihat dari gelagatku." Jawab (name).
"Bagaimana kalau...(name) kau benar menjadi kekasihku?" Tanya Levi.
"Maksudmu?" Tanya (name) polos.
"Aku mencintaimu." Lirih Levi.
Tangan Levi beralih memegang lembut tangan (name).
(Name) terdiam sambil mengatupkan bibirnya.
"Aku? Tapi Levi...maaf kau tak pernah berada di ruang romansaku." (Name) menunduk lesu.
"Kenapa? Apa kau lebih memilih bangsawan itu?" Tanya Levi.
(Name) mendorong Levi.
"Keterlaluan jangan menuduhku yang bukan-bukan! Hanya saja....hanya saja kau tak pernah tahu bagaimana rasa sakitnya di cintai dan di akhiri oleh kutukan gila!" Teriak (name) sedikit terisak.
Levi hanya terdiam masih mencerna perkataan (name).
"Apa maksudmu? Kau yang terkutuk itu hanya bohongan (name). Itu hanya...aku tak tahu kebetulan mungkin?" Jawan Levi.
"Bodoh ya aku? Tapi itu memang betul aku ini begitu, siapa yang bertanggung jawan atas kematian itu? jadi ku minta jangan merasakan hal itu. Terimakasih Levi..." (name) memutuskan meninggalkan Levi yang masih.
"Kau lebih dari bodoh..." lirih Levi dalam hati.
"Ah...dosa apa yang ku buat?" Lirih (name) dalam hati. Kini ia pun mulai takut kutukannya akan menimpa temannya tersebut.
Sekaras apapun (name) menolak walau apapun yang terjadi, kutukan itu tak akan pernah patah. Semua orang yang mencintainya cepat atau lambat akan mati.
(Name) kembali ke tempat kerjannya sendiri.
Kepala pelayan meyambutnya hangat.
"Kau akan segera keluar yah?" Tanya kepala pelayan.
"Kemungkinan iya, terimakasih padamu yang membuatku di izinkan kemari." Jawab (name).
"Baiklah siap-siap, lalu kembali pada jadwalmu!" Tegas kepala pelayan.
(Name) mengangguk lalu kembali dengan semua jadwalnya.
Keadaan masih seperti biasa. Tidak ada yang membuat (name) merasa senang ataupun sedih.
(Name) memgerjakan semuanya dengan santai.
Erwin sedang tak ada di kediaman.
Jadi para pelayan dapat berkerja dengan riang tanpa takut apapun.
KAMU SEDANG MEMBACA
To Far
FanfictionCerita ini bercerita saat dunia masih memandang kelas status sosial seseorang. (Name) yang berada di bawah dan dia yang ada di atas, saling mencintai. tapi kelas sosial sama sekali tak mengizinkan mereka. Walau sudah saling mencintai tapi perasaan...
