Six

1.4K 230 18
                                    

Tarani menatap layar ponselnya. Tertulis nama ibu nya kini tengah melakukan panggilan padanya.

Tarani sudah tau maksud dari ibunya kenapa menelponnya sekarang. Justru aneh jika ibunya tidak menelponnya setelah kejadian di pesta ulang tahun Selena dua hari yang lalu itu.

Haruskah Tarani berterima kasih pada Agus, si sepupunya itu? Oh tentu saja tidak, karena dia sudah memberikan masalah untuk Tarani sekarang. Tarani lalu menekan tombol hijau di layar ponselnya lalu menarik napas dan tersenyum.

"Halo bu, apa kabar? Tumben nih nelepon, kangen Taran ya?"

"Kangen, kangen, kamu tuh ya dikasih kesempatan tinggal jauh sama ibu kenapa bukannya jaga diri baik-baik malah bikin khawatir!"

"Loh kan wajar seorang ibu khawatirin anaknya," Tarani menjawab kata-kata ibunya membuat ia mendengar dengusan ibunya dari ujung telepon.

"Ya tapi jangan soal beginian juga... Jadi kapan kamu mau putus sama dia?"

Tarani langsung tersenyum sinis. Pasti Agus sudah menceritakan hal macam-macam pada ibunya.

"Putus? Baru juga pacaran bu... Lagian Zale baik sama Tarani kenapa harus putus sih?"

"Katanya Agus Zale itu bukan anak baik-baik," sanggah ibunya.

Tarani langsung memutar bola matanya tidak menyangka kata-kata ibunya langsung memintanya putus dengan Zale.

"Kok katanya mas Agus sih bu? Kan yang pacaran sama Zale Taran bukan Mas Agus, atau jangan-jangan Mas Agus pengen pacaran sama Zale makanya ibu jadi suruh Taran putus sama Zale..."

"HUSH! Kamu tuh kalau ngomong jangan kemana aja! Ya masa mas mu suka sama laki-laki?"

"Ya abis mas Agus bikin ibu suruh Taran putus sama Zale sih!"

"Ya mas mu kan kenal Zale jadi-"

"Ya Taran juga kenal Zale kan bu," kata Tarani yang sudah mulai geram.

"Gini deh, besok kamu bawa Zale ke rumah, terus kenalin sama ayah dan ibu," kata Ibunya membuat Tarani lagi-lagi memutar bola matanya.

Tarani kesal karena biasanya ia bebas berpacaran tanpa kedua orang tuanya tau tapi kenapa sekarang ia seolah akan menikah dengan Zale sampai-sampai harus mengenalkan Zale pada kedua orang tuanya. Terlebih justru Zale bukan benar-benar kekasihnya.

"Zale lagi dinas ke Bali bu," sahut Tarani singkat.

"Yaudah akhir minggu ini, lagian kan Apartement kamu itu di Kota, dan rumah kita itu di Kabupaten kan nggak jauh juga Taran..."

"Yaudah nanti akhir minggu biar Tarani juga nggak sibuk kuliah,"

"Awas ya, kalau Zale nggak datang, ibu anggap kamu putus sama Zale," ancam ibunya.

"Ibu ih!"

Dan sambungan teleponnya di matikan oleh sang ibu. Rasanya Tarani ingin mencekik kakak sepupunya itu sendiri.

Tapi sayangnya ia terlalu lapar, apalagi mie di depannya sudah matang. Tarani langsung membawa mie itu ke meja makan.

Ini hari pertama tanpa Zale. Rasanya bagaimana? Tentu saja Tarani senang, tidak akan ada Zale yang tiba-tiba muncul di dalam Apartementnya dan berebut mie dengannya.

Tapi setelah dipikir-pikir, Zale tidak menghubungi Tarani sama sekali sejak keberangkatannya kemarin. Bukan karena rindu dan khawatir pada Zale. Tarani kahwatir jika terjadi sesuatu pada Zale bagaimana nasib Apartement ini? Tarani sudah terlanjur nyaman disini.

UncoincidenceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang