"Zal kapan lo baikan sama bokap lo?" Tarani yang sejak tadi menatap citylight lewat jendela apartementnya langsung menoleh pada Zale yang sibuk dengan ponselnya.
"Emang kenapa Taran?" Tanya Zale tanpa memalingkan wajah dari ponselnya.
Tarani memutar bola matanya. "Ya lo mikir aja nih ya kan gue jadi sugar baby lo biar hidup gue enak ya kalau lo jadi hemat begini mana enak," ucap Tarani jujur.
Ujung bibir kanan Zale naik mendengar kata-kata Tarani. "Gue kira dulu lo jadi sugar baby karena dijebak kok ternyata sekarang karena pengen hidup enak?"
"Ya ini sambil menyelam minum air namanya," sanggah Tarani.
Zale pun menaruh ponselnya di nakas agar ia kini bisa sepenuhnya menaruh perhatian pada perempuan di depannya ini.
"To the point aja lo mau apa?"
Mata Tarani langsung berbinar mendengar pertanyaan Zale.
"Gue mau ngerayain malam taun baru liat kembang api di Puncak Zal..." kata Tarani yang membuat Zale geleng-geleng kepala.
"Tarani lo tau kan kita ini tinggal di Bandung dan jalanan pasti macet malam ini? Dan Bandung-Bogor itu bukan perjalanan yang sebentar. Yang ada pas sampai sana udah ganti tahun."
Tarani mengangguk.
"Ya kalau tau terus kenapa lo masih berharap yang nggak mungkin?"
"Bukan nggak mungkin tapi lo nggak bisa jadiin karena lo kekurangan uang kan, kalau kita ke Puncak pasti kita bakal ngehabisin banyak uang jadi lo sebenernya butuh bokap lo," jelas Tarani membuat Zale menyeringai.
"Astaga itu nggak ada korelasinya dan gue tau sebenernya lo nggak pengen-pengen banget buat ngerayain malem taun baru di Puncak kan? Lo cuma pengen gue baikan sama bokap gue biar gue keluar dari apartement ini kan?"
Tarani terlihat berpura-pura terkejut. "Nggak kok, gue cuma pengen ngerayain malem taun baruan kaya orang-orang!" Nada Tarani mulai menaik. "Emangnya pengen itu aja nggak bisa lo kabulin Zal? Apaan dah punya sugar daddy nggak guna banget sih!"
Zale mendengus. "Lah lo sendiri udah ngerasa jadi sugar baby yang bener belum?"
"Maksud lo?"
"Lo disentuh aja nggak mau udah ngerasa jadi sugar baby paling pro."
"Gue nggak ngerasa gitu ya! Dan kalau emang lo nyari sugar baby yang bisa lo pake seenaknya ya udah sana cari lagi jangan gue!" Kata Tarani yang langsung masuk ke kamar dan membanting pintu kamarnya.
***
Tarani bukan benar-benar ingin Zale segera keluar dari Apartement mereka. Dia hanya ingin hubungan Zale dan keluarganya baik-baik saja walau kemungkinannya sulit melihat dari bagaimana keadaan keluarga Zale seperti apa. Tapi ya Tarani merasa gengsi jika dia menunjukkan keinginan yang baik untuk Zale.
Dan sekarang Zale justru membuatnya kesal.
Tarani sebenarnya tau tugas sugar baby sebenarnya itu apa. Dan saat sahabat-sahabatnya itu membuatnya mencoba menjadi sugar baby kala itu sebenarnya Tarani sudah mempersiapkan diri. Toh kedua sahabatnya juga katanya sudah bukan perempuan polos lagi. Jadi apa salahnya Tarani mengikuti jejak sahabat-sahabatnya.
Tarani sudah besar juga kan.
Tapi tetap saja hati nurani nya masih belum bisa membenarkan perbuatan seperti itu. Terlebih sugar daddy yang ia dapatkan Zale. Bukan benar-benar karena membenci Zale. Ya walaupun kadar kebencian Tarani pada Zale masih ada. Tapi hal yang membuat Tarani tidak mau disentuh Zale adalah karena Tarani percaya Zale bukan orang jahat yang seperti dia pikirkan. Zale pasti bisa diajak kompromi dalam hal ini. Setidaknya sampai Tarani siap suatu saat nanti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Uncoincidence
RomansaGimana rasanya iseng jadi baby girl taunya sugar daddy nya musuh kamu waktu sma? Tarani akan menjawabnya. Jungri lokal.
