Douze

1K 208 7
                                    

Tarani tentu saja tidak nyaman dengan tatapan Delia. Belum lagi Delia yang berusaha memeluk tangan Zale dan mendekatkan lengan Zale itu dengan bagian tubuh Delia yang cukup besar.

Ah sialan, otak Tarani mulai berpikir kemana-mana.

Dan Zale nya kenapa juga tidak menghindar?

Mau menunjukkan family goals depan Tarani?

Oh tidak bisa semudah itu.

Meskipun Tarani sedikit bodoh dalam bidang fisika tapi dia bisa membedakan mana keluarga harmonis dan mana keluarga pura-pura harmonis.

"Kak Zale nanti pulang langsung ke rumah kan?" tanya Delia.

"Antar Tarani dulu lah!" sanggah Raya yang terlihat kesal dengan sikap sok manja Delia depan Zale, Tarani, Raya, nenek dan kakek.

"Kok gitu?"

"Loh kan Tarani tunangan Zale. Dia datang ke pesta kakek nenek juga sama Zale ya harus diantar pulang lagi dengan selamat," kata nenek mereka dan berhasil membuat Delia berhenti merengek.

Zale lalu melepaskan pegangan tangan Delia lalu menghampiri Tarani dan memeluk pinggangnya.

"Sayang tadi katanya ngantuk mau pulang?"

"Hah?"

"Udah ayo pulang aja," bisik Zale.

"Ah iya ngantuk banget nih!" Kata Tarani sambil berpura-pura menguap karena mengantuk.

"Kita izin pulang duluan ya. Kakek, Nenek semoga panjang umur agar selalu bersama..." kata Zale yang kemudian berpamitan.

"Loh mau kemana Zal? Mama sama Papa baru dateng kok kamu malah pulang?" cibir mama tiri Zale yang muncul bersama papa nya Zale.

"Ini siapa? Pacar barumu lagi?" Cibir papanya Zale sambil melirik kearah Tarani.

"Bukan, dia tunangan Zale," sanggah Kakek Zale sambil tersenyum.

"Loh kamu sudah tidak trauma untuk menjalin komitmen?" Cibir papanya Zale.

Tarani merasakan genggaman tangan Zale semakin mengerat.

Oh ini kelemahan Zale?

Tarani lalu tersenyum dan berdeham agar mengambil atensi mereka yang tadi fokus pada Zale kini fokus pada Tarani.

"Sebelumnya saya minta maaf. Saya yang ngajak Zale pulang duluan soalnya besok saya ada kelas pagi. Jadi sekali lagi mohon maaf, saya dan Zale permisi dulu," kata Tarani yang langsung menarik Zale keluar dari tempat itu.

"Anggap aja ini bonus," bisik Tarani sambil membawa Zale pergi.

***

"Papa lo ngomongin soal trauma enteng banget ya?" dumel Tarani yang kini sudah berganti pakaian dan duduk di samping Zale di sofa Apartement mereka.

Zale masih saja tidak membuka suaranya sejak tadi.

"Jujur sorry aja nih ya Zal... Gue... kurang suka keluarga lo ya minus Kak Raya, kakek dan nenek lo, sisanya gue kurang suka tapi nggak tau kalau yang lain..." Tarani melanjutkan dumelannya tanpa menghiraukan Zale yang masih terdiam.

"Gue...juga."

"Nah kan! Lo juga setuju sama gue kan?" kata Tarani bersemangat yang kemudian teringat sesuatu. "Eh itu kan keluarga lo, kok lo jadi ikutan nggak suka keluarga lo sendiri?"

Zale tersenyum lirih. "Gue udah lama nggak ngerasa mereka keluarga gue..."

Tarani berdecak. "Sumpah gue nggak suka ya lo yang jadi mellow begini Zal!"

UncoincidenceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang