Huit

1.3K 224 33
                                    

"Mama mau lo datang buat makan malem bareng di rumah," kata Delia saat ada kesempatan untuk berbicara dengan Zale.

Zale merapikan sarung tangannya. "Gue sibuk," sahut Zale datar lalu berjalan melewati Delia.

"Sibuk ngapain lo? Sibuk malmingan sama ur slut girl?" cibir Delia membuat Zale menghentikan langkahnya lalu mengepalkan tangannya.

Zale berbalik lalu menatap Delia yang tengah menyilangkan tangannya.

"Slut girl? Siapa yang lo maksud?"

"Ya cewek yang tinggal di Apartement lo lah, siapa lagi?" sahut Delia sinis.

"Dia nggak seburuk yang ada di otak kotor lo," protes Zale.

"Jadi berhenti bilang dia slut girl!" tambah Zale lagi.

"Bela aja terus tuh cewek!" Delia mendekati Zale. "Dan lo sekarang lebih milih untuk ngabisin malem bareng tuh cewek daripada kumpul sama keluarga lo sendiri?"

"Kalau iya kenapa?"

"Ya berarti tuh cewek emang bukan cewek baik-baik," kata Delia lagi yang kemudian tersenyum menyeringai.

"Cewek baik-baik nggak akan egois minta cowoknya biar lebih milih nemenin dia daripada si cowok nemuin keluarganya," lanjut Delia lagi membuat Zale semakin emosi.

"Keluarga? Keluarga siapa yang lo maksud hah?"

Delia berdecak. "Astaga dia bahkan buat lo jadi menghargai keberadaan keluarga sendiri. Bener-bener licik itu cewek!"

"Kalau dia bukan cewek baik-baik seperti yang pikiran lo mau. Terus apa kabar lo? Lo cewek apaan hah? Ngabisin malem minggu nemenin client. Halah, gue cowok dan gue tau fungsi lo disini," kata Zale yang kemudian memperhatikan pakaian Delia dan sengaja menatap kearah sensitif tubuh Delia yang membuat Delia canggung dan Zale hanya tersenyum menyeringai melihat Delia yang mencoba menutupi bagian tubuhnya itu.

Zale mendekati Delia lalu sedikit menunduk agar bisa berbisik. "Kalau disuruh perkenalan pastikan lo nggak bawa nama Isfandyar. Gue nggak mau nama keluarga gue tercoreng gara-gara anak haram kaya lo," kata Zale yang kemudian kembali membawa stick golf nya lalu meninggalkan Delia yang mematung dengan mata merah dan berkaca-kaca.

***

Tarani mondar-mandir sambil memperhatikan jam di tangannya. Sudah melenceng setengah jam dari perjanjian nya dengan Zale tapi Zale masih tidak muncul menampakkan batang hidungnya.

Apa Zale mengerjainya?

Jika iya awas saja Tarani akan membunuh Zale saat pertama kali melihat Zale lagi. Walau ujung-ujungnya Tarani mana tega. Bukan tidak tega pada Zale tapi ia tidak tega pada masa depannya yang akan ia dihabiskan di penjara jika dia membunuh salah satu orang penting itu.

Tarani memberi waktu Zale setengah jam lagi. Dan itu ia debatkan dengan dirinya sendiri. Kalau ada yang heran kenapa Tarani tidak menelpon Zale?

Tentu saja jawabannya karena Tarani tidak mau menelpon laki-laki itu duluan tentu saja.

Dan terdengar suara pintu Apartement nya dibuka. Senyumpun tanpa sadar mengembang di wajah Tarani.

"Sorry gue telat. Gue bingung mau pakai baju brand siapa buat ketemu keluarga lo," kata Zale yang membuat Tarani geleng-geleng kepala.

"Zal, lo tuh mau ketemu keluarga gue bukan mau ketemu designer mode terkenal. Mikirin brand segala dan..." Tarani mencium aroma di sekitar Zale. "Lo pakai parfum baru?"

Zale terlihat ikut menciumi aroma tubuhnya juga. "Baru buka sih memang, parfum lama baru sempet gue pake sekarang. Tapi..."

"Tapi?"

UncoincidenceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang