"BERHENTI! KENAPA TABIATMU BURUK SEKALI!? APA SALAH LOUIS?"
Jeffrey yang semakin diliputi rasa marah, kini langsung melesakkan anak panah hingga mengenai leher kuda hitam yang biasa Jeno gunakan. Membuat Joanna memejamkan mata karena mengira jika ujung panah akan mengenai dirinya.
"Blacky..."
Jeno jatuh terduduk sekarang, menangisi kuda hitam yang sejak beberapa hari terakhir menemani dirinya. Air mata mulai membasahi pipinya sekarang. Apalagi setelah suara debuman keras terdengar karena Blacky tumbang dan meregang nyawa di tempat.
Joanna marah, jelas dia marah karena Jeffrey lagi-lagi berbuat jahat. Terlebih pada anaknya. Bukan melukai fisiknya, namun perasaannya. Lihat saja, Jeno sudah menangis sesenggukan sekarang. Membuat Joanna ikut terluka dan memeluk Jeno dari belakang.
"KAU SELINGKUH DENGAN LOUIS DAN KAU MASIH BERTANYA APA SALAH ORANG INI!?"
Jeffrey sudah berjalan mendekat, berniat kembali melesakkan busur panah pada Louis yang sama sekali tidak tampak kesakitan seolah sedang menantang dirinya. Louis tampan, dia bermata hijau dan berdarah Jerman. Tubuhnya juga beberapa senti lebih tinggi darinya. Mana mungkin Jeffrey tidak cemburu dan takut Joanna perpaling darinya, apalagi sampai ditinggalkan. Jeffrey jelas tidak akan sanggup kehilangan wanita yang telah dicinta sejak usia muda hingga sekarang.
Joanna berdiri, berjalan mendekati Jeffrey yang berniat melepaskan busur panah lagi. Tepat di lehernya, Joanna mendekatkan ujung panah yang luar bisa tajam pada lehernya. Membuat Jeffrey jelas takut wanitanya terluka dan langsung memundurkan badan.
"APA YANG KAU LAKUKAN!? DEMI DIA KAU SAMPAI SEPERTI INI, HAH!?"
"LALU APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN? DATANG TIBA-TIBA DAN LANGSUNG MELUKAI ORANG? BAHKAN MEMBUNUH KUDA YANG SUDAH JENO ANGGAP SEBAGAI TEMAN! APA KAU INI MANUSIA? DI MANA LETAK HATI NURANIMU? TUHAN MEMBERIMU MULUT TIDAK HANYA BERFUNGSI UNTUK MAKAN DAN MINUM! TAPI JUGA UNTUK BERBICARA! JIKA ADA MASALAH, LEBIH BAIK LANGSUNG KATAKAN! JANGAN ASAL MELUKAI ORANG!"
Jeffrey tertegun di tempat, karena baru kali ini dia melihat emosi Joanna meletup-letup seperti sekarang. Sebab, Joanna yang dulu---dia sangat penurut dan lemah lembut. Bahkan tidak pernah menyela ucapannya sekalipun. Tetapi sekarang, dia justru berani membentaknya seperti itu.
Joanna langsung membalikkan badan, meminta para penjaga dan pelayan yang sejak tadi berada di sana untuk segera menguburkan kuda Jeno yang baru saja meninggal.
Sedangkan Jeffrey, dia masih shock di tempat. Karena lagi-lagi Joanna telah melukai harga dirinya sebagai bangsawan, orang terhormat yang selalu disegani orang.
Rosa, saat ini dia tengah memapah Louis memasuki rumah. Berniat mengobati si sepupu yang telah dijadikan tumbal. Padahal, sebenarnya---Louis juga bisa bangun dan mengobati sendiri lukanya.
"Sudah, jangan menangis lagi. Blacky sudah tenang di surga. Setelah ini, kita cari kuda lagi. Mama yang akan antar Jeno ke pasar besok pagi. Kali ini Jeno bisa memilih kuda sendiri, tidak perlu memakai salah satu kuda di sini. Jeno masih mau sekolah, kan? Bagaimana kalau pendaftarannya dipercepat menjadi besok saja?"
Jeno yang awalnya masih menangisi gundukan tanah berisi kuda yang telah meninggal, kini mulai menatap ibunya. Memeluk Joanna erat-erat karena dia begitu menyayangi ibunya dan tidak ingin kehilangan dirinya.
"Mama jangan pernah tinggalkan Jeno, ya? Blacky sudah tidak ada, Jeno tidak mau kehilangan sesuatu yang Jeno sayang lagi seperti sekarang."
Joanna membalas pelukan anaknya, diam-diam air matanya turun membasahi pundak Jeno sekarang. Lima hari waktu yang sangat singkat dan Joanna masih belum tega jika harus meninggalkan anak ini sendirian. Terlebih Jeffrey jahat luar biasa. Bisa saja Jeffrey membunuh anaknya jika dia sudah tidak ada.
6. 19 PM
Makan malam berlangsung begitu senyap, tidak ada obrolan apalagi candaan Jeno dan Louis seperti biasa. Karena Louis sudah kembali ke tempat asal. Bahkan tanpa berpamitan pada Jeno dan Joanna. Padahal, Joanna sempat memiliki niat untuk menitipkan saja Jeno padanya, karena waktunya hidup di tahun 1940 sudah tidak lagi lama.
Jeffrey segera meninggalkan meja makan bahkan sebelum seluruh makanannya tandas. Membuat Joanna mengusap punggung Jeno pelan seolah mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja.
"Kau puas? Karena kau Louis terluka, dia sudah pergi sekarang! Sedih, kan? Karena tidak ada lagi yang berpihak padamu dan anak harammu itu!"
Jeno berhenti mengunyah, lalu menatap Rosa yang kini menatapnya tajam. Padahal, selama ini Rosa selalu bersikap baik di depannya. Tidak pernah sekalipun menunjukkan gelagat jahat seperti apa yang dulu pernah dia bayangkan.
"Tutup mulutmu! Anakku bukan anak haram! Dia memiliki ayah! Suamimu, dia ayahnya! Di sini kau yang merebut Jeffrey dariku! Kau masih bukan siapa-siapa! Seharusnya kau merasa terancam sekarang, karena anakku akan menjadi pewaris tunggal semua harta yang suamimu punya! Kau tidak lupa jika Jeffrey bukan Raja, kan? Mau anak di luar nikah ataupun tidak, Jeno akan tetap dianggap anak dan mendapat warisan!"
Rosa menggeram pelan, dia kalah telak dan semakin murka karena baru tahu jika Jeno adalah anak suaminya. Karena selama ini Louis tidak membocorkan hal ini padanya. Atau bahkan---mungkin saja dia diam-diam memihak Jeno dan Joanna, bukan dirinya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
9. 50 PM
Joanna baru saja selesai mandi. Dia bahkan sengaja berendam di dalam bak mandi yang telah berisi melati selama setangah jam agar dapat berhasil bernegoisasi dengan Jeffrey nanti. Iya, Joanna ingin meminta maaf akan sikap kasarnya tadi. Namun bukan atas perkataan yang telah dilontrkan tadi dan tamparan yang telah dilayangkan pada beberapa waktu terkahir.
Jika kesabaran perempuan diuji ketika si laki-laki tidak memiliki apa-apa. Maka, kesabaran laki-laki diuji ketika si perempuan tidak memakai apa-apa.
Seperti sekarang, Jeffrey baru saja membuka mata dan mendapati Joanna sudah berada di atas ranjangnya dengan pakaian tipis seperti yang dulu pernah dipakai Rosa. Tentu saja tanpa dalaman apa-apa, ditambah---aroma harum tubuh Joanna mulai terasa dan membuat rasa kantuk Jeffrey sirna tiba-tiba.
"Sedang apa kau kemari?"
Tanya Jeffrey sok tidak peduli. Padahal, saat ini dia sedang menikmati sapuan jari lentik Joanna yang sudah bermain di area bawah perut yang sudah menegang sekali.
"Aku ingin bernegoisasi. Besok pagi, aku ingin mendaftarkan Jeno sekolah. Aku ingin kau ikut mengatar supaya tidak ada yang berani mengganggunya. Hanya itu saja. Sebagai imbalan, aku akan membuatmu melayang."
Bisikan Joanna berhasil membuat bulu kuduk Jeffrey meremang. Bahkan pusat tubuhnya semakin menegang karena Joanna sudah berani memasukkan salah satu tangan ke dalam celana. Memainkan kantung testisnya hingga membuat jantung dan otaknya seakan enggan kembali bekerja.
Masih mau dilanjutin scene ini? Ramein dulu, ya! Chapter 10-11 harus sama-sama dapet 150 comments dulu baru dilanjut. Kalo enggak, khusus scene ini bakalan aku publish di karyakarsa aja :)
Udah liat visualisasi main cast di feed IG thisisnnana? Jangan lupa kasih komentar, ya! Karena masih setengah jalan, komentar kalian bisa aja mempengaruhi ending cerita :)