Ayok ngebut! Aku tau kalian kepo banget sama kelanjutan cerita ini! 150 comments for next chapter, ok! Ayo yang belum pernah komen, silahkan kasih feedback!
Gantian, kasihan yang lagi kerja, sekolah dll. Aku tau pembacaku cuman sedikit, tapi aku pengen pembaca yang sedikit ini bisa belajar untuk lebih menghargai usaha orang lain. Satu orang bisa ngasih 3-5 komentar, gak banyak kok.
Nanti pasti bisa cepet sampe target. Aku bisa loh namatin cerita ini dalam 1-2 hari lagi kalo kalian emang bisa kerjasama buat nyenengin aku lewat target komen.
Gak percaya? Buktiin aja :)
Jeffrey mendapati rumah Joanna yang sudah terbuka lebar, namun tidak ada siapa-siapa di dalam. Membuat degup jantungnya bertalu kencang karena takut wanita itu kenapa-kenapa. Dengan langkah lebar, Jeffrey langsung menggedor rumah Rama selaku pemilik rumah yang berada tepat di depan rumah Joanna.
"Saya tidak tahu, Tuan. Tetapi, kata orang-orang, dia dan anaknya pergi ke sungai. Mungkin sedang membersihkan luka."
Tanpa berkata apa-apa, Jeffrey langsung pergi menuju sungai. Diikuti Lucas yang mulai menghidupkan lampu petromax yang berasal dari kereta.
Lucas diam saja, sesekali dia juga mendengar umpatan Jeffrey yang sedang mengamuk sekarang. Karena mengira jika Jeno yang sedang terluka. Sehingga dia berniat menghukum Jeno setelahnya, sebab dia telah membuat Joanna keluar rumah ketika hari sudah petang.
"Sudah, jangan menangis. Mama tidak apa-apa, tidak sakit sama sekali. Dua tiga hari lagi juga sembuh. Sudah selesai, ayo pulang!"
Joanna baru saja berdiri, bersama Jeno yang tampak masih menangis sembari memegangi lampu petromax berukuran kecil.
"Siapa yang melukaimu!?"
Tanya Jeffrey dari jauh, karena sorot matanya yang tajam mampu melihat lengan kanan Joanna yang sudah dibalut kain bersih berwarna biru.
"Penjagal di pasar."
Jawab Joanna santai, kemudian berpegangan pada Jeno ketika melewati bebatuan kecil. Agar dia lekas tiba di jalan setapak dan kembali ke rumah guna mengistirahatkan diri.
"Kurang ajar! Siapa namanya? Akan kuhabisi dia malam ini juga! Lucas, panggil Tama dan bereskan penjagal yang telah melukai Joanna!"
Joanna tidak bereaksi apa-apa, karena dia mengira jika Jeffrey tidak serius dengan ucapannya. Sehingga dia mengatakan dengan gamblang nama Mario beserta anaknya yang telah mengganggu Jeno sebelumnya.
Setibanya di rumah, Jeffrey terus saja melihat luka di lengan kanan Joanna yang tampak begitu dalam ketika balutan kain bersih yang baru saja dililitkan kembali dibuka paksa olehnya. Sebab, Tama tidak bisa datang karena ada pekerjaan di luar kota. Sehingga mau tidak mau Jeffrey sendiri yang harus mengobati luka Joanna yang masih menganga.
"Lihat perbuatanmu! Lain kali jangan suka membuat masalah yang melibatkan Mamamu! Malam ini kau tidur di luar! Dengan Lucas dan para kuda!"
Pekik Jeffrey sebelum kembali membalut luka Joanna menggunakan perban yang lebih layak, tidak lupa mengoleskan obat yang didapat dari negara Barat.
Jeno hanya menunduk dalam, kemudian keluar dari rumah dan ikut duduk lesehan di teras rumah bersama Lucas dan dua kuda putih yang biasa bertugas untuk menarik kereta.
"Kenapa kau kasar sekali? Jeno anakmu! Anak kandungmu!"
Joanna langsung berdiri dari duduknya, berniat memanggil Jeno agar kembali memasuki rumah. Karena petir mulai menyambar dan hujan deras sepertinya akan datang.
![CHILDFREE [END]](https://img.wattpad.com/cover/290857515-64-k319158.jpg)