How It's End Up (Re-post)

3.1K 136 20
                                        

Yang katanya nggak bisa dibuka :D

masih no proofred many many typos

How it’s end up (Another Beginning)

Bunyi klik mouse terdengar konstan mengisi ruang kerja yang dihuni seorang laki-laki muda jika dibanding beberapa petinggi rumah sakit. Kemeja lengan pendek yang terbuat dari ulos warna biru tua masih rapih di badannya, berbanding terbalik dengan rambut kusut yang sudah jatuh di dahi.

Tok Tok Tok

 

Pintu kayu jati warna coklat terbuka kecil sekedar menampilkan kepala seorang wanita cantik.

“Maaf mas Sabit, sudah jam makan siang. Mau keluar atau saya pesankan sesuatu?”

“Pesankan makanan seperti biasa. Dan Rosa, kecuali hal mendesak sekali, jangan ganggu saya sampai jam pulang nanti.”

“OK, mas.” Rosa segera menutup pintu meninggalkan Sabit  berkonsentrasi pada monitor datar di depannya.

Sabit atau oleh teman-temannya di luar kantor dipanggil Bintang duduk menyender pada kursi putar besar yang biarpun tak terasa nyaman tapi cukup untuk melemaskan punggungnya yang sedikit tegang.

Matanya melirik undangan berwarna putih dengan tulisan bertinta emas. Mikah Maximme Yudhistira. Entah sudah berapa kali Bintang menghela napas berat sejak tadi pagi sekretarisnya mengantar undangan berbentuk persegi panjang ke atas mejanya.

Bahkan sudah terhitung 7 tahun setelah dia wisuda dari kampus. Dan meskipun sama-sama berada di Inggris untuk mendapat gelar master selama dua tahun lebih, Bintang juga sama sekali tidak mendapat kesempatan bertemu dengan laki-laki itu. Dan secara tiba-tiba undangan pertunangan ada di atas mejanya. Dirinya yang berusia 31 tahun saja masih belum terpikir untuk bertunangan, apalagi menikah. Kalau saja semudah itu move on dari perasaan yang terlambat disadarinya.

“Gue bisa stress kalau lama-lama di sini.” Bintang mengacak sendiri rambutnya yang sudah kusut. Segera saja dimatikan PC dan membereskan beberapa lembar kertas lalu mengambil tas ransel yang tergeletak di bawah meja untuk bergegas keluar dari ruangan yang membuatnya sumpek hanya gara-gara sebuah kertas undangan. Yang benar saja.

“Rosa, saya keluar dan mungkin tidak akan kembali lagi ke kantor. Dan jangan ganggu saya hari ini. Caranya terserah bagaimana suka-suka kamu. Dan kalau kamu terlanjur pesan makanan, kamu ambil saja.”

Rosa cuma melongo melihat atasannya berjalan tergesa-gesa tidak seperti biasa. Selama tiga tahun Rosa menjadi sekretaris General Manager RS Mitra Purnama, hal seperti sekarang sangat jarang bahkan mungkin tidak pernah terjadi. Karena dari yang dia tahu, mas Sabit, Sabit sendiri yang lebih nyaman dipanggil ‘mas’ ketimbang ‘pak’ oleh orang-orang kantor, adalah orang yang sangat bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.

Mungkin masalah perempuan? Pati bukan. Rosa tak habis pikir dengan bosnya yang sampai sekarang masih betah melajang. Apalagi selama ini juga tak ada perempuan-perempuan aneh yang mendatangi kantornya. Yang mengaku dihamili bossnyapun tidak pernah ada.

::

“Dari mana saja kamu.”

Bintang menghentikan langkahnya yang hendak menaiki undakan tangga. Dari arah ruang makan, ayah serta bundanya duduk dengan piring terbuka.

“Pergi dari rumah sakit dengan tidak bertanggung jawab seperti itu. Mau membuat ayah malu?”

Entah kapan hubungannya dengan sang ayah akan membaik. Sejak keluar dari kedokteran dan memilih ekonomi, ayahnya makin menjadi-jadi terhadapnya.

STALKERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang