--- Adyra's POV ---
"Dyra, sebentar lagi kita akan kedatangan banyak tamu. Bersiap-siaplah, dan gunakan pakaian yang telah ibumu belikan," sambil merapikan pakaian yang ayah kenakan.
Ayah terlihat tampan hari ini.
"Memangnya ada acara apa yah?" tanyaku.
"Hari ini adalah acara lamaranmu, ayah mengatakannya dengan raut muka yang serius dan menatapku.
"Mengapa baru memberitahu sekarang ayah? Aku aku baru saja lulus sekolah ayah," dengan suara nada bergetar menahan tangis.
"Nak, dengarkan Ibu, kamu bisa melanjutkan pendidikanmu dengan didampingi oleh suamimu, dengan begitu kami tenang ada yang menjagamu. Kami ingin yang terbaik untukmu, maafkan kami yang baru memberitahukanmu sekarang. Cepatlah, ganti pakaianmu," sahut Ibu.
Aku tak mengerti dengan ini semua, namun kewajibanku sebagai seorang anak adalah memenuhi kewajibanku sebagai seorang anak. Aku hanya bisa menurut.
"Apa kakak juga mengetahui hal ini?" ku tatap kakak yang sedang duduk bersebrangan denganku.
"Iya dek," penjelasan yang cukup singkat.
"Haah baiklah, Dyra akan menuruti Ayah dan Ibu. Selama kalian bisa bahagia,"
Akupun lekas menuju kamar, dan kembali duduk di sofa yang ku tempati tadi.
Tok... tok...
"Assalamualaikum," suara banyak orang dari luar membuat jantungku berdebar. Aku gugup.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, silahkan masuk." ujar Ibu.
Aku menunduk mendengar langkah kaki yang mendekat, ketika mereka sudah mendekat aku mulai berdiri dan menyambut mereka dengan hangat. Namun siapa sangka, lelaki 3 bulan yang lalu telah menolongku ada di hadapanku.
Ayah mempersilahkan mereka semua untuk duduk, aku bergegas mengambil minuma dan cemilan yang telah disiapkan oleh ibu yang ada di dapur. Dan kembali duduk di tempat yang tadi, dan tepat aku duduk di sofa yang berhadapan dengan lelaki itu. Ia menatapku, tak bisa ku pingkiri ia sangatlah tampan. Astagfirullah, aku terlalu mengaguminya. Ingat Dyra dia bukan mahrammu.
"Begini Bapak dan Ibu, maksud kedatangan kami kesini adalah adanya niatan baik anak kami. Untuk selebihnya bisa disampaikan oleh Arfan putra kami, nak ayo" seorang pria paruh baya mempersilahkan anaknya untuk berbicara.
Aku menunduk tak berani melihat.
------- TBC -------
Nantikan part selanjutnya ya... 😆
Jangan lupa votenya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hitam & Putih
RomanceSemua kisah selalu ada Hitam dan Putih. --- Mengisahkan kehidupan seorang gadis sederhana yang beruntung mendapatkan lelaki impiannya, yang ternyata memiliki rahasia di balik kesederhanaannya. Siapa yang tahu bahwa lelaki yang ia nikahi merupakan D...
