(11) Hari yang Ditunggu

13 4 0
                                        


Hari minggu tanggal 25 bulan 5 tahun 2025.

Adalah hari pernikahan Arfan dan Adyra.

Pernikahan yang diselenggarakan di kota suci Makkah.

Bertepatan dengan hari ini.

Hari yang di tunggu oleh mereka berdua.

"قبلت نكاحها وتزويجها على المهر المذكور ورضيت بهى والله ولي التوفيق"

Arfan mengucapkan lafal itu dengan begitu fasih.

"Bagaimana saksi? Sah?"

"Sah"

Dan penghulu pun mensahkan mereka.

Adyra telah resmi menjadi seorang istri dari Arfan Aulian Azhar. Mereka menikah secara agama, dan hanya keluarga besar yang menghadiri akad pernikahan mereka.

Tak ada resepsi. Sengaja, karena menghindari kejadian yang sama. Akan dilaksanakan resepsi pernikahan setelah pelaku pembunuh kakaknya terungkap.

Adyra menghampiri Arfan yang begitu tampan dengan setelan tuxedonya.

Adyra menatap mata hazel suaminya, "Terima kasih telah mau menerimaku."

Setelahnya, Adyra mencium tangan suaminya. Dan Arfan yang menatap istrinya dengan tatapan hangat pun mengecup kening sang istri.

"Akan ku jaga dirimu hingga akhir hayatku permaisuriku," tutur Arfan.

2 Minggu kemudian

--- Arfan's POV ---

"Mentari pagi telah terbit dari timur. Bergegaslah bangun dari tidur, bidadariku." ku berbisik di telinga istriku untuk membangunkannya.

Aku tahu dia sedang berhalangan, jadi wajar dia sulit untuk bangun.

"Bangunlah, atau mau ku siram hemm... coba pilih yang mana?" bisikku padanya.

Dengan segera ia membuka matanya, dan membelalakkan matanya padaku.

Lucu banget sih bidadariku.

"Mas tahu bahwa mas tampan, jadi matanya jangan seperti itu ya." ujarku dengan percaya dirinya.

"Ihh mas Ar, pede banget sih. Yaudah ku ke kamar mandi dulu," ia pun mulai bangkit dari kasur. Tapi ku hentikan langkahnya itu.

Ku tunjukkan pipiku padanya.

Dyra memberengut tanda tak mengerti.

"Morning kissnya sayang,"

Ia pun langsung mencium kedua pipiku. Dan bergegas mengambil handuk.

Ku yakin pipinya bersemu.

--- Arfan's POV END ---



Selesai mandi, Adyra turun dari lantai dua menuju dapur. Rumah yang Arfan beli sangatlah megah.

Adyra menyiapkan bahan-bahan masakan yang akan ia masak.

Ia ingin memasak spaghetti sebagai sarapan pagi ini.

--- Adyra's POV ---

"Dek," panggil Mas Ar. Aku memanggilnya Mas Ar karena biar tidak kepanjangan manggilnya, hehehe.

"Iya," sahutku sambil menoleh padanya, dan mengalihkan kembali pandanganku dari dan fokus pada makanan yang sedang ku masak.

"Kamu kapan dek mulai masuk kuliahnya?" tanyanya.

"Hari ini Mas, mengapa?"

"Tidak apa-apa, hanya bertanya saja. Oh ya, kamu kuliah dimana?"

"Emm, di UIN MALANG Mas." ucapku sambil menyiapkan hidangan di atas meja makan. Ia terus memandangiku di tempat duduknya.

Iya, aku memang menikah di kota Makkah, Arab Saudi. Karena permintaan darinya. Aku dan dirinya dipertemukan di kota itu. Karena sedari kecil ku sudah tinggal di kota suci. Padahal aku hanyalah orang desa yang berasal dari Jawa Barat. Rezeki sesorang memang tak bisa ditebak.

Kenyataan lainnya adalah aku diterima di kampus UIN MALANG, dan setelah menikah sekaligus berbulan madu di Arab aku dan suamiku pindah ke Indonesia dan tinggal di kota Malang.

"Kalau begitu kamu di kampus yang sama dengan Mas," ujarnya dengan mata berbinar.

"Apa? Maksud Mas? Bukannya Mas udah gelar S3? Kok masih kuliah?" tanyaku spontan.

"Ckckck... dek, dek. Mas itu Dosen di sana," balasnya dengan santai.

Ku membelalakkan mataku. Masya Allah, bisa kebetulan seperti ini. Ku menganggukkan kepalaku sebagai balasan tanda mengerti.

Kami mulai membaca doa sebelum makan yang dipimpin oleh Mas Ar. Dan mulai memakan spaghettinya.

Usai makan Mas Ar berkata, "Berangkat bersama ya dek."

"Iya Mas," balasku sambil mencuci piring.

UIN MALANG

"Dek, belajar yang rajin ya. Jangan mau di deketin laki-laki. Ingat ada Mas sebagai suamimu," ujarnya memberi perintah.

"Iya siap Mas. Mas juga awas kalau ganjen sama cewek lain. Pokoknya aku ngambek!"

Cup

Ia mengecup keningku sebagai balasannya.

"Tidak akan, karena Mas sudah memiliki bidadari surga." ia mengatakannya dengan tulus. Tak ada kebohongan dalam matanya.

"Baiklah, ku duluan ya Mas. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," pamitku padanya dan mencium tangannya.

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," tuturnya dengan senyuman manisnya.

Ah betapa beruntungnya aku mendapatkan dirinya. Terima kasih ya Allah. Sudah berakhlak, Saleh, tampan, dan mapan. Siapa yang tak akan bersyukur atas semua nikmat yang telah diri-Mu beri.

Ku mulai turun dari mobil Mas Ar, dan melambaikan tangan sebagai perpisahan kami.

--- Adyra's POV End ---







--- TBC ---

Nantikan part selanjutnya ya 😆
Jangan lupa tinggalkan jejak, vote dan commentnya.
Tandain typo jika memang ada, dan boleh memberikan kritik dan sarannya.
Tarima kasih 😊

Hitam & PutihCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang