CHAPTER 19: ITS TIME

53 30 3
                                        

Lian:
"Hey kak, bisakah kau temani aku ke sekolah sekarang?"

Kak Rego:
"Sekarang?"

Lian:
"Iya."

Kak Rego:
"Oke."

Sebenarnya, aku sempat ingin menghubungi Limay, tapi lalu teringat bahwa dia sedang liburan di London bersama teman-temannya. Dia pernah mengajakku ikut, tapi aku menolak. Aku memilih menemani kakakku di libur musim dingin tahun ini.

"Pak, cepat sedikit ya," ujarku pada sopir taksi.

"Baik, Dek," jawabnya.

Ngomong-ngomong, aku agak terkejut melihat sopir taksi ini. Dia masih muda, mungkin mahasiswa yang bekerja paruh waktu. Pasti banyak penumpang, terutama cewek, yang senang naik taksinya kalau sopirnya seperti ini—tampan dan ramah.

"Kenapa, Dek? Dari tadi Mas lihat kok senyum-senyum sendiri," tanyanya tiba-tiba.

Lah, dia memperhatikanku dari tadi?

"Tidak apa-apa, Mas. Fokus saja sama jalannya," jawabku cepat.

Lain kali mending naik bus saja kalau begini, pikirku dalam hati.

Perjalanan dari rumah sakit ke sekolah memakan waktu sekitar 20 menit jika lancar. Tapi kalau macet, tentu lebih lama.

***

Di Sekolah

Aku menyerahkan uang pada sopir taksi. "Terima kasih, Mas," kataku sambil turun dari mobil. Taksinya langsung melaju pergi dengan tergesa-gesa. Apa dia marah karena ucapanku tadi? Entah kenapa aku malah memikirkannya.

"Udahlah, ngapain jadi mikirin sopir taksi," gumamku pada diri sendiri.

Aku berjalan menuju gerbang sekolah. Di sana, kulihat kak Rego sudah berdiri menunggu. Dia mengenakan kemeja lengan pendek ungu dengan kaos hitam sebagai dalaman, dipadukan dengan celana jeans stretch dan sepatu kets putih. Penampilannya keren.

"Hey, kak! Apa kau menunggu lama?" tanyaku sambil mendekatinya.

"Tidak, aku baru sampai tiga menit yang lalu," jawabnya santai.

"Kalau begitu, ayo. Pak Prapti pasti sudah menunggu."

Kami berdua masuk ke dalam sekolah dan langsung menuju ruang guru, tempat Pak Prapti biasanya berada.

***

Ruang Guru

Klek.

Pintu ruang guru terbuka. Kulihat Pak Prapti sedang sibuk membolak-balik tumpukan kertas di mejanya.

"Pagi, Pak," sapaku sambil mendekat bersama kak Rego.

"Pagi," balas Pak Prapti singkat.

"Rego, apa kau bisa keluar sebentar? Bapak ingin bicara dengan Lian tentang sesuatu yang penting."

Aku menoleh ke kak Rego dan mengangguk sambil mengedipkan mata, memberi isyarat agar dia mematuhi permintaan Pak Prapti. Kak Rego mengangguk balik, lalu berjalan keluar dari ruang guru.

"Ada apa, Pak?" tanyaku penasaran.

Pak Prapti menyerahkan beberapa lembar kertas kepadaku. "Ini formulir undangan masuk perguruan tinggi untuk kakakmu. Dia mendapat tawaran dari berbagai universitas ternama di Beijing. Tapi, batas waktunya sampai bulan depan saja. Jadi, pikirkan baik-baik."

Aku terdiam. "Jika kakakmu menerima salah satu undangan ini, musim semi depan dia akan langsung jadi mahasiswa," lanjutnya.

Aku tak bisa berkata apa-apa. Bulan depan? Bukankah itu terlalu cepat? Aku memang tidak terkejut kakakku mendapatkan tawaran ini—dia pintar, prestasinya luar biasa. Tapi aku belum siap ditinggalkan.

"Terima kasih, Pak. Segera akan kusampaikan pada kakak," kataku akhirnya. "Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan kakakmu?" tanya Pak Prapti lagi.

"Baik, Pak. Dia akan segera keluar dari rumah sakit," jawabku. Pak Prapti tersenyum kecil. "Kalau begitu, saya pamit, Pak," ucapku sambil membungkuk hormat, lalu keluar dari ruangan.

Klek.

Aku berjalan menuju rooftop sekolah tanpa tahu kenapa aku ingin ke sana. Setiap langkahku terasa berat, pikiranku dipenuhi kata-kata Pak Prapti tadi.

Tak terasa, aku sudah sampai di depan pintu rooftop.

Klek.

***

Aku berjalan menuju kursi yang dulu sering kugunakan bersama Kak Zhan. Aku menatap formulir undangan itu, dan tanpa kusadari, air mataku mulai menetes. Perlahan, tanganku meraih kertas-kertas itu dan merobeknya menjadi potongan kecil. Air mataku semakin deras, membasahi robekan kertas yang berserakan.

"Tidak… Kakak tidak boleh pergi meninggalkanku," ujarku lirih sambil terus merobek. "Kakek, jangan pisahkan aku dari kakakku. Aku mohon…" Tangisanku semakin menjadi-jadi.

Tiba-tiba, seseorang berlari mendekatiku. "Hey, Lian! Kenapa kau menangis?" Itu kak Rego. Dia langsung duduk di sampingku dan memelukku erat.

Kak Rego tak berkata apa-apa, hanya memelukku, mencoba menenangkanku. Setelah beberapa menit dalam pelukannya, aku mulai sedikit tenang, meski air mataku masih mengalir.

"Kak Rego… Apa yang akan kau lakukan jika seseorang yang kau sayangi dalam keluargamu tiba-tiba pergi meninggalkanmu?" tanyaku, masih dalam pelukannya.

Dia terdiam sejenak. "Jika kepergiannya demi kebahagiaannya di masa depan, aku akan menerimanya," jawabnya pelan.

Rego melepaskan pelukannya, lalu memungut sepotong kertas yang berhamburan di lantai. "Kertas apa ini?" tanyanya.

Aku terdiam, tak ingin berbohong. "I-itu… formulir undangan universitas Kak Zhan," jawabku pelan.

"Dan kau merobeknya?!" kak Rego terkejut, wajahnya menunjukkan kekecewaan. Aku menunduk. "Aku hanya tidak ingin kakakku pergi dariku…"

"Tapi semua ini—kertas yang kau robek ini—adalah kebahagiaan kakakmu. Apa kau tega menghancurkannya?" Nada suaranya sedikit meninggi.

Aku terdiam lagi. Kak Rego benar, tapi bagiku, kakakku adalah kebahagiaanku, dan aku adalah kebahagiaannya. "Tapi Beijing terlalu jauh… Ini bukan saat yang tepat untuk dia meninggalkanku."

"Kenapa? Kenapa ini bukan saat yang tepat?" tanya kak Rego, penasaran.

"Entah… Aku hanya merasa begitu," jawabku lirih.

Aku berdiri dan berjalan menuju pintu keluar rooftop, meninggalkan kak Rego sendirian. Aku hanya ingin sendiri sekarang.

This is not the right time.
I don’t know why.
But that’s how I feel now.

Protect My Brother [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang