Chapter 5: Bath And Hug

384 212 297
                                        

Tubuh jenjang Lian terasa sangat berat, membuatku kewalahan saat membopongnya menuju ke arah kamar miliknya.

"Fuh.. fuh... fuh... hah..." Napasku tersengal. Kurasakan tulang vertebrataku yang terasa sakit saat ini.

Namun, aku tidak ingin mengganggu tidur adik kesayanganku ini.

Kupaksakan kakiku menapaki anak tangga yang saat ini menjadi musuh terbesarku.

Ku dorong pintu kamar yang terbuka sedikit dengan sebelah kakiku.

Krieett...

Terengah-engah, akupun segera menidurkan dirinya di atas ranjangnya.

Ku regangkan badanku untuk melepas kepenatan.

Kretek..kretek

Aaah, suara surga, Pikirku

Setiap persendian ku telah berteriak karena mengangkat tubuh berat Lian. Namun, setelah melakukan peregangan, tubuhku terasa jauh lebih ringan.

Walau terasa ringan, tubuhku tetap merasa kelelahan. Akupun memutuskan untuk pergi membasuh diri.

Aku beranjak keluar dari kamar Lian lalu menuruni setiap anak tangga untuk pergi ke kamar mandi.

~~


Bathtub yang berisi air hangat, sejenak melemaskan otot-otot yang tegang. Aroma dari bath bombs dan lilin aromatherapy membantuku menenangkan pikiran dari segala kejadian rumit hari ini.

Aku memainkan busa seraya menikmati sesi mandiku yang menyenangkan.

"Segarnya," ucapku ketika mulai berdiri untuk mengakhiri mandiku.

Ku balut tubuh kurus dan menyedihkan milikku dengan handuk  kimono yang tersedia.

Setelah mandi, aku segera kembali menuju kamar untuk beristirahat.

Sesampainya di kamar tercintaku ini, aku membuka lemari pakaian milikku dan memutuskan untuk memakai kaos oblong polos berwarna hitam dan celana pendek abu-abu.

Aku berjalan di keheningan malam menuju ke arah kekasih terbaikku—tempat tidur.

Namun, tiba tiba suara ketukan pintu menghentikan langkahku.

Tok.. Tok..

"Masuk," ucapku lirih, takut membangunkan seisi rumah.

Lian dengan penampilan berantakan dengan membawa guling kini telah memasuki kamarku.

"Kakak harum..." celetuknya.

"Kenapa terbangun? Karena sudah terlanjur bangun, kamu juga pergilah mandi."

"Tapi, kakak bisa menemaniku? Punggungku masih sakit. Aku harap kakak mau membersihkannya untukku."

"Maaf sudah membuatmu seperti ini, baiklah aku akan bertanggung jawab atas luka-lukamu," timpalku.

Kami berdua segera menuju ke arah kamar mandi.

~~


Aku dan Lian duduk di pinggiran bathtub.

Ku buka bajuku agar tidak basah terkena cipratan air saat membasuh Lian.

Aku membantu Lian untuk menanggalkan pakaiannya. Melepas perban pembalut yang melekat di otot-otot punggungnya dengan hati-hati.

Protect My Brother [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang