Aku turun dari mobil, membuka pintu belakang, dan mengambil seikat bunga lili putih yang kami beli di perjalanan tadi. Kak Zhan masih di dalam mobil, katanya ingin menelepon seseorang sebentar.
"Aku ke makam Kakek dulu, ya, Kak," ujarku sebelum berjalan pergi.
Setelah beberapa menit melangkah di antara deretan nisan yang sunyi, akhirnya aku sampai. Makam Kakek terlihat sederhana, hanya ditandai batu nisan kecil dengan namanya yang terukir rapi. Aku meletakkan bunga itu di atasnya, lalu mundur beberapa langkah.
Aku memejamkan mata, memanjatkan doa dalam hati. Tak lama kemudian, aku merasakan kehadiran seseorang di sampingku. Kak Zhan sudah tiba dan kini berdiri di sisiku. Dia ikut menunduk, kedua tangannya tergenggam erat di depan dada, turut berdoa dalam keheningan.
Kami berdiam dalam hening selama kurang lebih sepuluh menit. Saat hari mulai beranjak sore, angin berembus lebih kencang, menerbangkan beberapa helai rambutku yang tadinya tertata rapi.
"Lian, ayo kita pulang," ajak Kak Zhan dengan suara lembut.
"Aku mau di sini sebentar lagi, Kak," jawabku, tatapanku masih tertuju pada makam Kakek.
"Baiklah. Kakak tunggu di mobil. Jangan lama-lama, ya," pesannya sebelum berbalik dan meninggalkanku sendirian.
Aku melangkah tiga kali lebih dekat, hingga ujung sepatuku nyaris menyentuh nisan.
Kek... mungkin Kakek sudah tahu semua yang terjadi dari atas sana. Tapi, aku tetap ingin bercerita pada Kakek.
Kek, cepat atau lambat, Kak Zhan akan tahu kebenarannya. Kalau hari itu tiba, apa yang harus aku lakukan? Kalau Kakak benar-benar marah dan pergi meninggalkanku, aku harus bagaimana, Kek?
Dulu, setiap kali aku bingung, Kakek selalu punya jawaban. Tapi sejak Kakek pergi-meninggalkan aku, meninggalkan kami semua-aku tidak tahu lagi harus bertanya pada siapa.
Cukup Kakek saja yang pergi dari hidupku. Jangan Kak Zhan juga. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpanya. Tapi, apa dia bisa bertahan di luar sana tanpa aku, Kek? Bagaimana kalau kondisinya memburuk saat aku tidak ada di sisinya?
Setetes air mata jatuh membasahi pipiku. Cepat-cepat kuusap sebelum jejaknya terlihat. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan gejolak di dadaku.
"Aku harap Kakek bahagia di atas sana," gumamku lirih, lalu berbalik meninggalkan makam menuju mobil.
"Lama banget," komentar Kak Zhan saat aku mendekat. Sorot matanya tampak redup karena lelah, tapi ada sekelebat emosi lain di sana yang tak bisa kutangkap. Aku memilih untuk mengabaikannya dan masuk ke dalam mobil.
Melihatku sudah duduk, dia ikut masuk dan kami berdua memakai sabuk pengaman.
Keheningan menyelimuti kami saat mobil mulai bergerak. Hanya ada deru halus mesin dan pemandangan pepohonan pemakaman yang perlahan menjauh. Aku masih merasakan sisa kesedihan dari makam tadi, dan sepertinya Kak Zhan juga merasakannya.
Namun, beberapa saat kemudian, aku sadar ada yang aneh.
"Kak, kita mau ke mana? Bukannya jalan pulang ke arah sana?" tanyaku bingung saat mobil berbelok ke arah yang berlawanan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Protect My Brother [END]
AksiLian seorang adik laki-laki dan Zhan adalah kakak laki-lakinya. Zhan yang menderita gangguan psikologis membuat Lian harus selalu berada di samping Zhan. Bagaimana kisah perjalanan mereka? Akhir akhir ini, kakak pulang dengan bau alkohol yang menyen...
![Protect My Brother [END]](https://img.wattpad.com/cover/290369412-64-k980387.jpg)