Cekrik ... Cekrik ...
Flash yang berasal kamera membuatku mataku berkedip-kedip akibat silau cahayanya.
Keramaian yang seakan menodongku dengan jutaan pertanyaan, berhasil membuat tubuhku teekulai lemas tidak berdaya. Keringat serasa membasahi seluruh tubuhku.
Karena kini, aku terduduk di muka lautan wartawan yang haus akan 'Konten'.
Seorang pria berumur yang telah berada di sisi kananku berdehem dan menenangkan para wartawan yang ricuh.
"Selamat siang para hadirin sekalian. Di siang hari yang cerah ini kami dari pihak kepolisian resort mengadakan pertemuan pers untuk memberikan penjelasan kepada media terkait perundungan yang saat ini ramai dibicarakan, terjadi di salah satu sekolah Tinggi di prefektur Hangzhou yaitu Hangzhou No. 0 High School." Ucapan bapak tersebut mengalihkan sorotan media yang sebelumnya tertuju ke arahku, menjadi ke arah beliau.
"Pertama-tama mari kita dengarkan dengan seksama sambutan dari bapak Gubernur Zhejiang. Lalu, mengenai perkembangan hukum akan disampai kan oleh Bapak komisaris jenderal yang berada di sebelah kanan bapak Gubernur dan yang terakhir adalah saudara Zhan yang berada di sebelah kiri saya sendiri sebagai selaku korban." Lanjutnya,
Ketika bapak gubernur Zhejiang mulai mengeluarkan sepatah kata, seisi perutku mulai dipenuhi oleh kupu-kupu, mual dan gugup menjadi satu-kesatuan. Keringat dingin juga tidak luput menambah sensasi ketegangan berada di depan sini.
Aku berusaha menenangkan diriku dengan menarik dan mengeluarkan napas dalam-dalam.
Ku seka keringat dengan ujung kemeja, ku bayangkan lautan manusia yang ada tepat di depan mataku merupakan sayur-sayuran untuk menghilangkan rasa gugupku.
Napasku memburu, walau sudah kulakukan berbagai cara untuk menenangkan pikiran.
Suara keramaian tenggelam oleh suara pikiranku, aku menautkan jari-jemariku dengan erat.
Entah berapa lama lagi menunggu, hingga giliranku untuk berinteraksi dan mengekspresikan segala kegundahan hati.
Kita yang telah memasuki jaman serba digital, perundungan sudah sangat ketinggalan jaman.
Kasus seperti ini, selalu terjadi berulang-ulang. Namun, kenapa tidak ada manusia yang mau belajar dari kesalahan pendahulunya? Memang apa yang akan mereka dapatkan dari merundung seseorang yang lebih lemah dari mereka?
Apakah kepuasan batin? Pelampiasan amarah? Tidak seharusnya manusia yang juga memiliki perasaan, menjadi korban dari masalah yang kalian miliki.
Apakah kalian tidak pernah membayangkan? Bagaimana jika kalian yang berada di posisi orang yang kalian Rundung?
Kini manusia tidak memiliki sisi kemanusiaan. Pikiran tersebut memenuhi isi kepalaku.
~~
Aku memaksa kedua orangtuaku untuk segera memasuki ruang pers.
Pidato sambutan dengan suara berat dan serak yang dihasilkan dari pengeras suara di dalam ruangan, terdengar hingga ujung koridor tempatku berada.
Mama dan papa yang sedari tadi menahan tubuhku, kini melepaskan dan mendudukkan diriku di sebuah bangku panjang.
Mama mengusap kedua netraku dengan sapu tangan yang disulam indah dengan motif bunga mawar kuning.
Seraya mengusap secara perlahan, mama membisikkan sebuah kalimat di indra pendengarku.
"Bersihkan dulu air matamu, dan tenangkan dirimu. Nanti kita akan menyusul kesana." Ucapnya lirih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Protect My Brother [END]
AçãoLian seorang adik laki-laki dan Zhan adalah kakak laki-lakinya. Zhan yang menderita gangguan psikologis membuat Lian harus selalu berada di samping Zhan. Bagaimana kisah perjalanan mereka? Akhir akhir ini, kakak pulang dengan bau alkohol yang menyen...
![Protect My Brother [END]](https://img.wattpad.com/cover/290369412-64-k980387.jpg)