Mobil terus melaju membelah jalanan malam kota yang mulai lengang. Lampu-lampu jalan berkelebat, menorehkan bayangan panjang yang menari di wajah Kak Zhan. Ia menyetir dengan tenang, senyum tipis belum juga pudar dari bibirnya.
"Tahu tidak, Dek?" Kak Zhan memecah keheningan, suaranya terdengar lebih hidup dari biasanya. "Waktu melempar kaleng tadi, aku sadar satu hal. Selama ini aku mengira duniaku sudah hancur. Tapi ternyata, aku hanya sedang bersembunyi di sudut ruangan yang gelap, padahal pintunya tidak pernah dikunci."
Aku menelan ludah. "Iya, Kak."
"Setelah terapi besok, kalau semuanya lancar..." Kak Zhan menjeda kalimatnya, menatap lurus ke jalan tol di depan kami. "Aku berencana menemui Pak Prapti. Aku rasa... aku sudah siap untuk mulai kuliah lagi. Kakek pasti kecewa melihatku mengurung diri bertahun-tahun. Lagipula, pendaftaran musim semi pasti sebentar lagi ditutup, kan?"
Jantungku berhenti berdetak. Darahku terasa surut hingga ke ujung kaki.
Kata-kata itu menghantam dadaku seperti godam. Kak Zhan sedang merajut kembali sayapnya yang patah, tepat di hadapanku. Sementara aku, adik yang selalu berlagak menjadi pelindungnya, adalah orang yang telah mematahkan sayap itu menjadi kepingan-kepingan kertas di atas rooftop sekolah.
"Dek? Kok diam? Kamu pasti dukung Kakak, kan?" tanyanya sambil melirikku sekilas.
Udara di dalam mobil tiba-tiba terasa mencekik. Panda raksasa di kursi belakang seolah menatapku dengan mata kancingnya yang menghakimi. Mengingat air mata di makam Kakek, mengingat kemarahan Kak Rego, dan melihat senyum tulus Kak Zhan saat ini... pertahananku hancur lebur.
"Kak..." panggilku. Suaraku pecah, bergetar hebat.
Kak Zhan langsung menoleh, senyumnya lenyap berganti kepanikan. "Lian? Kamu kenapa? Ada yang sakit?" Ia buru-buru menyalakan lampu sein, menepikan mobil di bahu jalan yang sepi, dan menarik tuas rem tangan.
Begitu mobil berhenti, tangisku pecah. Aku menutup wajah dengan kedua telapak tangan, meredam isakan yang terasa menyobek tenggorokan.
"Lian, hei, tatap Kakak. Kamu kenapa? Apa gara-gara tadi? Kakak memaksamu ya?" Tangan Kak Zhan yang hangat menyentuh pundakku, suaranya gemetar oleh kepanikan yang amat sangat.
"Bukan... bukan Kakak..." isakku di sela napas yang tersengal. "Aku... aku yang jahat, Kak. Aku..."
"Jahat apanya? Kamu bicara apa?"
Aku menurunkan tanganku, menatap matanya yang memancarkan kecemasan murni. Kepeduliannya yang begitu besar justru membuatku semakin merasa seperti monster.
"Surat itu..." ujarku terputus-putus. "Pak Prapti... dia tidak menunggu Kakak bulan depan. Batas waktunya... sudah lewat, Kak."
Kening Kak Zhan berkerut bingung. "Batas waktu apa? Pak Prapti belum pernah menghubungiku."
"Undangan dari Universitas Beijing," kataku, memaksakan setiap kata keluar meski rasanya seperti menelan pecahan kaca. "Tiga minggu lalu, Pak Prapti menitipkannya padaku. Formulir undangan langsung untuk Kakak. Kalau Kakak menerimanya, musim semi ini Kakak sudah jadi mahasiswa di sana."
Keheningan yang mematikan turun di dalam mobil. Suara deru napasku sendiri terdengar terlalu keras.
"Lalu... di mana formulir itu sekarang, Dek?" tanya Kak Zhan pelan. Nadanya tidak marah, hanya... kosong.
"Aku merobeknya, Kak," tangisku meledak lagi. "Aku merobeknya sampai hancur di rooftop! Aku berbohong pada Pak Prapti. Aku membiarkan batas waktunya lewat!"
Kak Zhan menarik tangannya dari pundakku secara perlahan, seolah tubuhku baru saja berubah menjadi bara api.
"Kenapa?" Hanya satu kata itu yang keluar dari bibirnya. Singkat, tapi mengiris.
"Karena Beijing terlalu jauh!" jeritku putus asa. "Karena sejak Kakek pergi, aku cuma punya Kakak! Kalau Kakak pergi ke sana, siapa yang akan Kakak andalkan? Bagaimana kalau fobia Kakak kambuh dan aku tidak ada? Bagaimana kalau... bagaimana kalau Kakak bahagia di sana dan tidak membutuhkanku lagi?!"
Aku menunduk dalam-dalam, mencengkeram lututku sendiri, bersiap menerima kemarahannya. Bersiap diusir dari mobil ini. Inilah akhir yang paling kutakutkan di makam Kakek tadi. Aku pantas dibenci.
Satu menit berlalu. Dua menit. Hanya isak tangisku yang mengisi ruang sempit ini.
Lalu, aku mendengar suara embusan napas panjang. Bukan napas kemarahan, melainkan napas seseorang yang memikul beban teramat berat.
Terdengar suara sabuk pengaman dilepas. Sedetik kemudian, dua lengan melingkari tubuhku yang bergetar. Kak Zhan memelukku. Erat. Kuat.
Aku terkesiap, tubuhku kaku. "K-Kak...?"
"Bodoh," bisiknya di telingaku. Suaranya serak, menahan tangisnya sendiri. "Kamu pikir cinta itu mengurung, Lian? Kamu pikir aku akan sembuh kalau kamu terus mengikat kakiku supaya tidak bisa pergi ke mana-mana?"
Aku membalas pelukannya, menangis sejadi-jadinya di bahunya. "Maafkan aku, Kak... Maaf..."
Kak Zhan mengurai pelukannya, menangkup kedua pipiku yang basah. Matanya memerah, tapi tidak ada kebencian di sana. Yang kulihat justru tatapan seorang kakak yang, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mengambil kembali perannya sebagai pelindung.
"Kakek pergi meninggalkan kita bukan supaya kita saling merantai, Dek. Kakek pergi supaya kita belajar berjalan sendiri," ucapnya lembut, mengusap air mataku dengan ibu jarinya. "Selama ini aku membiarkan fobiaku membuatmu menjadi penjagaku. Aku yang salah. Aku yang membuatmu merasa seluruh duniamu hanya sebatas menjagaku."
"Kakak tidak marah?" tanyaku dengan suara serak.
Kak Zhan tersenyum pedih. "Marah? Sedikit. Kecewa? Ya. Kesempatan ke Beijing itu mungkin tidak akan datang dua kali." Ia menoleh ke depan, menatap jalanan yang membentang gelap namun lurus. "Tapi aku lebih kecewa pada diriku sendiri. Karena aku tidak sadar bahwa bukan cuma aku yang butuh disembuhkan, tapi kamu juga, Lian."
Malam itu, di tepi jalan tol Zhengzhou, kami berdua melebur dalam pemahaman yang baru. Dinding kodependensi yang selama ini memerangkap kami perlahan retak.
Kak Zhan kembali menghidupkan mesin mobil.
"Kita pulang," katanya tegas. "Besok, setelah ke psikiater, Kakak akan pergi menemui Pak Prapti. Kita lihat apakah masih ada celah atau ujian masuk jalur biasa yang bisa Kakak kejar. Dan kamu..." Ia menatapku dengan senyum yang kali ini jauh lebih tulus dari sekadar senyum lega di taman bermain. "...kamu harus mulai memikirkan universitasmu sendiri. Pilih kota yang kamu inginkan, bukan kota yang dekat denganku."
Aku menatapnya, dan untuk pertama kalinya, aku tidak melihat seorang pasien rapuh yang harus kulindungi. Aku melihat kakakku.
"Iya, Kak," jawabku sambil mengusap sisa air mata, hatiku terasa seringan kapas.
Mobil kami kembali melaju, meninggalkan masa lalu di kaca spion. Di kursi belakang, panda raksasa itu seolah ikut tersenyum. Tahun depan, kami pasti akan kembali ke taman bermain itu. Menjemput janji menaiki bianglala, bukan lagi sebagai pengawal dan pasiennya, melainkan sebagai dua saudara yang akhirnya belajar bagaimana caranya untuk benar-benar terbang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Protect My Brother [END]
AcciónLian seorang adik laki-laki dan Zhan adalah kakak laki-lakinya. Zhan yang menderita gangguan psikologis membuat Lian harus selalu berada di samping Zhan. Bagaimana kisah perjalanan mereka? Akhir akhir ini, kakak pulang dengan bau alkohol yang menyen...
![Protect My Brother [END]](https://img.wattpad.com/cover/290369412-64-k980387.jpg)