CHAPTER 23: FOUND OUT?

16 0 0
                                        

Tangan Kak Zhan terasa hangat dan kering di genggamanku, sebuah kontras dari tangannya yang basah oleh keringat dingin beberapa saat yang lalu. Kami berjalan menjauhi bianglala yang gemerlap, meninggalkan hiruk pikuk di belakang kami. Semakin jauh kami melangkah, semakin tenang suasananya. Suara jeritan dan musik yang memekakkan telinga perlahan berubah menjadi dengungan samar di kejauhan, digantikan oleh suara langkah kaki kami di atas paving block dan desau angin malam yang sejuk.

Di sudut taman yang lebih terpencil ini, dunia seolah bertransformasi. Lampu-lampu yang tadinya menyilaukan kini tampak lebih lembut, tergantung di antara pepohonan rindang seperti kunang-kunang raksasa. Ada beberapa keluarga yang duduk di bangku-bangku, menikmati suasana tanpa harus berdesakan. Aroma popcorn kini berganti dengan wangi samar bunga nokturnal yang ditanam di petak-petak taman. Rasanya seperti menemukan sebuah oase di tengah gurun kekacauan.

Tak lama, kami menemukan sebuah kedai es krim kecil yang tersembunyi di dekat area air mancur. Hanya ada satu keluarga yang sedang dilayani. Sempurna.

"Nah, ini baru tempat yang benar," gumam Kak Zhan, senyum lega terukir di wajahnya.

Kami mendekat, dan aku langsung menatap deretan rasa es krim di balik etalase kaca. Cokelat, vanila, stroberi, mangga, matcha... pilihannya banyak.

"Kamu mau rasa apa, Dek?" tanya Kak Zhan sambil mengeluarkan dompetnya.

"Aku matcha," jawabku tanpa ragu. "Kakak?"

Dia tampak berpikir sejenak. "Aku... kopi saja."

Penjual yang ramah itu dengan cekatan mengambil dua cone dan mulai menyendok es krim untuk kami. Saat Kak Zhan membayar, aku memperhatikannya. Wajahnya tidak lagi sepucat tadi. Meski jejak kelelahan masih terlihat jelas di matanya, ada sebersit kelegaan di sana, seolah dia baru saja melewati sebuah ujian berat dan berhasil selamat.

Kami mengambil es krim kami dan menemukan sebuah bangku kosong yang menghadap langsung ke air mancur. Dari sini, kami bisa melihat siluet bianglala di kejauhan, berputar tanpa suara seperti roda impian yang tak pernah berhenti.

Aku menjilat es krim matcha-ku, rasa pahit dan manis yang khas langsung menyebar di mulut. Kak Zhan juga tampak menikmati es krim kopinya dalam diam. Selama beberapa menit, hanya ada suara air mancur yang menenangkan dan sesekali suara tawa dari kejauhan.

"Dek," panggilnya, memecah keheningan yang nyaman itu.

"Hmm?"

"Soal tadi... terima kasih," ujarnya pelan, matanya menatap lurus ke depan. "Kalau kamu tidak menarikku keluar dari antrean, aku tidak tahu apa yang akan terjadi."

"Sudah kewajibanku, Kak," jawabku. "Lagipula, aku yang paling tahu batasan Kakak."

Dia tersenyum tipis. "Justru itu masalahnya, Lian. Aku tidak mau selamanya punya 'batasan' itu. Aku lelah."

Aku berhenti menjilat es krimku dan menatapnya. "Lelah kenapa, Kak?"

"Lelah karena takut," jawabnya, kali ini menoleh padaku. "Lelah karena tidak bisa melakukan hal-hal sederhana yang orang lain anggap biasa. Lelah karena selalu membuatmu khawatir."

"Aku tidak pernah merasa khawatir berlebihan," kataku, meskipun itu adalah kebohongan terbesar yang pernah kuucapkan hari ini. Seluruh hidupku adalah serangkaian kekhawatiran untuknya.

"Jangan bohong," katanya, seolah bisa membaca pikiranku. "Aku melihatnya di matamu setiap kali kita akan pergi ke suatu tempat. Kamu selalu memindai ruangan, mengecek jumlah orang, memastikan ada jalan keluar yang mudah. Kamu lebih mirip pengawal daripada seorang adik."

Aku terdiam. Dia benar. Aku tidak sadar kalau aku sejelas itu.

"Itulah kenapa aku menelepon dokter tadi," lanjutnya. "Aku tidak mau kamu terus hidup seperti itu. Aku ingin kita bisa pergi ke tempat seperti ini dan benar-benar menikmatinya. Aku ingin naik bianglala itu bersamamu, melihat pemandangan kota dari atas tanpa merasa seperti akan mati."

Protect My Brother [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang