Chapter 6: Justice

303 198 277
                                        

Kringgg....

Bel mata pelajaran ke lima sudah berdering, tanda kelas akan dimulai.

Setelah kembali dari toilet, aku segera berlari agar tidak tertinggal mata pelajaran selanjutnya.

Saat akan melangkahkan kakiku menuju ruang kelas, terdengar suara pria paruh baya memanggilku.

"Lian, kemari sebentar!" ucapnya,

Aku mendekati arah wali kelasku, Pak Prapti.

"Ada yang bisa saya bantu pak?" Aku menunduk memberikan hormat setelah mengucapkan sepatah kalimat tersebut.

"Setelah pelajaran ini selesai, ikut bapak ke ruang konseling. Ada yang ingin bapak sampaikan perihal kejadian kemarin."

Akhirnya, kasus kakak ada kejelasan. Semoga mereka di hukum dengan parah. Harapku

"Baik pak." Jawabku dengan senyuman yang melebar.

"Ya sudah, kamu segeralah kembali ke kelas."

"Terimakasih pak." Aku menundukkan tubuhku limabelas derajat dan segera kembali ke bangku milikku.

Setelah kembali ke bangku, aku segera menghubungi kak Zhan.

—————————

Lian :
Kak, aku membawa berita baik. Hari ini aku akan pergi ke ruang konseling, semoga para brengshake itu segera mendapatkan hukuman.

————————

Aku memainkan ponselku di kolong meja, menunggu balasan dari Kak Zhan.

Setelah sekian lama menunggu, balasan pesan dariku tak kunjung datang.

Huh, dasar anak rajin.

Tidak terasa, pelajaran ke lima telah mencapai ujungnya. Aku meminta izin kepada ketua kelas untuk pergi ke ruang konseling mengikuti Pak Prapti. Ia pun mengiyakan izinku.

Aku tidak tahu apa yang Pak Prapti akan bicarakan dengan ku. Tapi lebih baik aku mendengar nya terlebih dahulu.

~~

Ruangan pengab yang dilengkapi dengan Air Conditioner, adalah tempat yang saat ini tengah ku kunjungi.

Pantas saja banyak murid yang merasa tidak nyaman ketika dipanggil kesini. Ruangannya saja membuatku keringat dingin.

Aku duduk tepat di depan Pak Prapti, kulihat beliau Menyatukan kedua tangannya. Kuharap ini merupakan kabar baik.

Walau aku juga heran, kenapa hanya aku yang dipanggil. Padahal dari pihak kami ada tiga orang yang terlibat.

"Jadi, mengenai kejadian yang menimpa Zhan kemarin di tempat pembuangan sampah. Kami para guru sudah memutuskan untuk memakai jalan berdamai. Jadi, bapak harap jangan terlalu dihiraukan lagi, lagipula kalian hanya bercanda bukan?"

"BAPAK BILANG BERCANDA?!" Aku hampir kehilangan kontrol emosiku.

Ku tarik napas dalam, agar emosiku tidak semakin naik.

"Tapi pak, kak Zhan sudah menjadi korban perundungan. Bukankah perundungan merupakan hal yang tidak terpuji? Kenapa bisa si pelaku tidak mendapatkan hukuman? Lihat, apa yang mereka lakukan terhadap punggungku." Ujarku dengan sedikit tercengang mendengar apa yang baru dikatakan oleh Pak Prapti.

"Bapak tau ini tidak adil untuk kakakmu, tapi keputusan ini telah disepakati oleh semua guru. Bapak, sudah berusaha sebisa bapak di dalam rapat itu. Tapi keadilan tidak berpihak kepada kita Lian. Maaf kan bapak."

"Yah, Terimakasih pak." Aku menunduk kan kepala ku pada Pak Prapti dan meninggalkan ruang guru.

Ku tahan segala rasa marah dan sedih yang membuncah.

Lagi dan lagi, mungkin ini alasan kakak selalu di rundung di sekolah. Bagaimana tidak, sekolah tidak memberikan perlindungan pada korban perundungan dan menganggap hal tersebut hanya bercanda?!

Tidak habis pikir, Aku sangat kecewa dengan sekolah ini.

Perundung memang berasal dari keluarga lebih terpandang, tapi Perundung tetaplah Perundung. Mereka harus diberi pelajaran.

Aku membuka ponselku dan kulihat muncul balasan pesan dari Kak Zhan.

—————————
Kak Zhan :
Semangat ya, maaf aku tidak dapat menemanimu di ruang konseling.

Kak Zhan :
Lian, apakah kamu sudah kembali? Bagaimana hasilnya? Apakah mereka di hukum?
—————————

Aku tersenyum kecut.

~~

Damn, what a bad day
Justice only favors someone who has a higher position.

Protect My Brother [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang