Aku melangkah keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu depan. Kunci di tanganku sudah siap memutar lubang kunci, tapi…
Klek-klek.
"Eh? Kenapa terkunci?" gumamku bingung.
Seharusnya Lian sudah sampai di rumah. Tapi kenapa pintunya dikunci? Aku melirik ke sekeliling. Secercah cahaya lampu dari dalam rumah menyelinap lewat celah jendela. Dia pasti ada di dalam—mungkin ketiduran atau malah keluar lagi. Dasar, Lian.
Tok... tok... tok...
Aku mengetuk pintu berulang kali, namun tak ada jawaban sama sekali.
"Huh…" Aku menghela napas panjang sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. "Terpaksa menunggu di luar, deh."
Pusat Makanan
"Untung saja rumah dekat dengan pusat makanan," ujarku lega sambil mengantre untuk membeli tahu bau.
Sebelumnya, aku sudah membeli roti panggang dan Sanbeiji—makanan favoritku. Kalian tahu Sanbeiji? Itu adalah ayam yang dimasak dengan tiga cangkir bumbu: kecap, minyak wijen, dan arak beras. Namanya memang sesuai dengan resepnya—tiga cangkir.
Oh ya, tadi aku juga mampir ke toserba untuk membeli mi instan untuk sarapan besok. Sebenarnya, aku ingin sekali memasak sendiri, tapi aku sadar akan batasku. Aku dan dapur bukanlah kombinasi yang baik. Rumah ini pernah hampir terbakar hanya karena aku mencoba memasak telur. Sejak insiden itu, Kak Zhan atau Mama yang selalu mengambil alih urusan dapur jika Papa butuh bantuan.
Penjual tahu bau menyerahkan pesananku. Aku membayarnya lewat WeChat Pay, lalu berjalan pulang dengan kantong plastik penuh makanan di tangan.
POV Huan Yi
"Semoga Kak Zhan baik-baik saja di jalan," gumamku cemas sambil terus menatap layar ponsel.
Seharusnya aku tidak memberitahunya. Bagaimana kalau terjadi sesuatu di perjalanan? Apa yang harus kukatakan pada Lian nanti?
"Ahh… lebih baik aku beri tahu Lian sekarang."
Huan Yi: "Lian"
Huan Yi: "Maafkan aku, aku memberi tahu kakakmu kalau kamu pergi ke Zhengzhou sendirian"
Huan Yi: "Aku harap kamu tidak marah padaku"
Aku menatap layar, cemas menunggu balasan. Tiga jam yang lalu dia seharusnya sudah sampai, tapi kenapa belum membalas? Apa dia sudah tahu dan sekarang marah padaku? Pikiranku mulai berkecamuk.
Di Depan Rumah
Dari kejauhan, aku melihat sebuah mobil hitam asing terparkir tepat di depan gerbang rumah.
"Sialan… parkir sembarangan di depan rumah orang," gerutuku dalam hati sambil mempercepat langkah. Tapi semakin dekat, mobil itu terasa familier.
Tiba-tiba, seseorang keluar dari mobil itu.
"Ka-Kakak?" ujarku terkejut, nyaris tak percaya dengan apa yang kulihat.
Kak Zhan berdiri di sana. Ada lingkaran hitam di bawah matanya dan beberapa helai rambutnya tampak lepek oleh keringat, jelas sekali ia kelelahan. Namun, tatapannya tetap tajam dan sepenuhnya terfokus padaku. "Kamu dari mana, Dek?" tanyanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Protect My Brother [END]
ActionLian seorang adik laki-laki dan Zhan adalah kakak laki-lakinya. Zhan yang menderita gangguan psikologis membuat Lian harus selalu berada di samping Zhan. Bagaimana kisah perjalanan mereka? Akhir akhir ini, kakak pulang dengan bau alkohol yang menyen...
![Protect My Brother [END]](https://img.wattpad.com/cover/290369412-64-k980387.jpg)