Kring ....
Dering Bel menandakan kelas telah dimulai.
Kak Zhan yang telah mengalami kejadian menyedihkan terpaksa harus kembali ke kelas. Akupun menawarkan jasa untuk mengantarkannya kembali ke kelas.
"Kak, Apakah kakak sudah merasa baikan setelah kejadian tadi?" tanyaku khawatir.
"Kurasa itu bukan hal yang tepat jika kamu yang mengatakannya." Kak Zhan menatapku dengan iba.
"Jangan menatapku seperti itu, luka ku telah diobati. Tinggal menunggu kering saja. Apa kakak tidak ingin diantarkan sampai ke depan kelas? Agar para bajingan itu tak lagi berani menyentuhmu, bahkan sehelai rambutmupun."
"Aku bisa berjalan sendiri, tak apa. Kamu Kembali lah bersama temanmu. Li May tolong jaga anak bandel ini, jangan sampai dia berulah lagi."
"Ihh kakak kenapa begi-"
"Siap Kak, akan ku jaga Lian agar dia tidak gegabah lagi," potong Li May dengan cepat.
"Heey, jangan potong pembicaraan ku seenaknya," ucapku dengan wajah cemberut.
"Biarin, Wlee." Li May menjulur kan lidahnya mengejekku.
"Hahahaha, terimakasih. Kelakuan kalian menghiburku." Kak Zhan tertawa puas melihatku di ejek oleh Li May.
Dasar kakak tidak tahu terimakasih, huh. Aku berdecak mendengar omongan Kak Zhan.
Kami bertiga segera kembali ke kelas masing-masing.
Syukurlah belum datang, Ku kira aku telah terlambat memasuki kelas. Ternyata, gurunya lebih telat lagi.
Ku elus dada dengan telapak tangan sebagai tanda lega. Duduk dengan punggung yang ku majukan, karena takut terkena lukaku dan akan semakin perih.
Teman semejaku melirik dengan tatapan dingin, sebelum kemudian ia menatapku lekat-lekat.
"Kenapa kau? Habis Tawuran?" Ia menaikkan ujung bibirnya, mengejekku.
"Diam kau!" Ku tutup mulut nya dengan tanganku, menyuruhnya untuk diam.
"Kalau bukan tawuran, lalu habis apa kau dengan Li May? Apa dia begitu ganas? Khekhekhe." Ia memegang tanganku, agar tanganku tak lagi berada di mulutnya, kemudian terkekeh sambil menatapku.
"Membayangkan apa kau ha?" Aku mendengus sambil memukul ringan pundaknya.
Malas sekali duduk sebangku dengannya. Tetapi hanya kursi ini yang tersisa.
Kau tanya kenapa? Ya, dia murid terpandai di angkatanku, walau begitu kadang dia pelit contekan. Kelakuan jahilnya pun membuatku semakin malas se bangku dengannya.
Sebagai teman sebangkunya, aku merasa tertekan. Karena sering menjadi korban akan tingkahnya yang sering membuat anak-anak di kelas geleng geleng.
"Lian"
"Lian, hey bangunlah."
Seseorang mengganggu mimpi indahku. Tiba-tiba dia mencubit tanganku.
Aaargh, dasar Mu Qing. Apa dia tak lihat aku sedang tidur. Kenapa dia selalu mengganggu ku. Batinku.
"Ada apa?" Ku buka sebelah mataku, menatapnya.
"Guru memanggil mu kedepan."
Haah, mengganggu saja. Baiklah ayo kita maju dan kemudian tidur lagi. Pikirku.
"Kerjakan soal nomer 5 ini," perintah sang guru sambil menunjuk papan tulis, dimana soal berada.
Ku amati soal matematika yang telah di tulis di papan dengan cermat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Protect My Brother [END]
AçãoLian seorang adik laki-laki dan Zhan adalah kakak laki-lakinya. Zhan yang menderita gangguan psikologis membuat Lian harus selalu berada di samping Zhan. Bagaimana kisah perjalanan mereka? Akhir akhir ini, kakak pulang dengan bau alkohol yang menyen...
![Protect My Brother [END]](https://img.wattpad.com/cover/290369412-64-k980387.jpg)