Satu tahun kemudian.
Angin musim semi berembus lembut, membawa serta aroma manis gulali dan popcorn yang sudah sangat kukenal. Suara musik yang ceria dan jeritan dari wahana roller coaster kembali memenuhi telingaku.
Namun kali ini, rasanya berbeda. Aku tidak lagi memindai kerumunan orang untuk mencari rute evakuasi. Tanganku bertengger santai di dalam saku jaket almamater universitasku—sebuah universitas di Shanghai, berjarak ratusan kilometer dari rumah.
"Dua tiket untuk dewasa."
Aku menoleh ke depan. Kak Zhan sedang berdiri di depan loket wahana bianglala, tersenyum ramah pada petugas sebelum menerima dua lembar tiket berhologram. Ia berjalan menghampiriku, langkahnya ringan dan tegap. Tidak ada lagi bahu yang menunduk atau mata yang bergerak resah menghindari tatapan orang-orang.
"Antreannya lumayan panjang, Dek. Enggak apa-apa, kan?" tanyanya sambil menyodorkan satu tiket padaku.
"Aku sih santai, Kak. Kakak sendiri bagaimana?" godaku, sengaja memancingnya.
Kak Zhan tertawa kecil. "Cuma antrean bianglala. Kakakmu ini sekarang sudah kebal menghadapi antrean kantin kampus di jam makan siang."
Mendengarnya bercanda tentang kehidupan kampusnya adalah sebuah keajaiban yang tak pernah bosan kusaksikan. Meskipun ia tidak bisa masuk ke Universitas Beijing musim semi lalu, nilai dan tekadnya berhasil membawanya lolos ujian masuk reguler ke universitas ternama di kota kami pada musim gugur. Terapi rutinnya membuahkan hasil, perlahan tapi pasti, meruntuhkan tembok ketakutannya terhadap dunia luar.
Kami melangkah masuk ke dalam barisan antrean. Aku sesekali meliriknya. Saat barisan menjadi sangat padat, kulihat Kak Zhan memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Sebuah teknik grounding yang diajarkan dokternya. Tapi bedanya, ia tidak panik. Ia mengendalikannya.
Dua puluh menit berlalu tanpa insiden. Akhirnya, giliran kami tiba.
Petugas membukakan pintu kabin bundar itu, dan kami melangkah masuk. Begitu pintu ditutup rapat, suara bising taman bermain perlahan teredam, digantikan oleh dengungan halus mesin hidrolik yang mulai mengangkat kami dari permukaan tanah.
Kabin perlahan naik. Cahaya lampu taman bermain perlahan menyusut menjadi titik-titik warna-warni yang indah.
Kak Zhan berdiri di dekat kaca, menatap pemandangan kota Zhengzhou yang membentang luas di bawah kami. Pantulan cahaya lampu jalanan menari-nari di matanya yang kini memancarkan kehidupan.
"Dulu, aku selalu berpikir dunia di luar sana itu menakutkan," ucap Kak Zhan tiba-tiba, tanpa menoleh padaku. "Seperti lautan badai, dan aku hanyalah perahu kertas yang akan hancur kalau nekat berlayar."
Aku berjalan mendekat, ikut berdiri di sisinya menatap ke luar jendela. "Lalu sekarang?"
Ia menoleh, menatapku dengan senyum yang begitu tenang. "Sekarang aku tahu, badainya memang ada. Tapi kapalku tidak terbuat dari kertas, Lian. Dan aku punya jangkar yang kuat."
Ia menepuk bahuku pelan. Sentuhannya tak lagi terasa seperti pegangan orang yang tenggelam, melainkan tepukan hangat seorang kakak yang bangga pada adiknya.
"Gimana kuliahmu di Shanghai? Susah?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Tugasnya banyak, tapi aku menikmatinya," jawabku jujur. "Bulan depan aku ada rencana ikut proyek penelitian ke luar kota dengan teman-teman."
"Bagus. Pergilah yang jauh, cari pengalaman sebanyak-banyaknya," pesannya sungguh-sungguh. "Jangan lupakan aku, tapi jangan juga menjadikan aku alasanmu untuk berhenti berjalan."
"Tentu saja, Kak," balasku sambil tersenyum.
Kabin kami perlahan mencapai titik tertinggi bianglala. Pemandangan seluruh kota kini tersaji sempurna di depan mata. Semuanya terlihat begitu kecil, namun begitu terang dan hidup. Rasa sesak dan ketakutan yang pernah mencekik kami di tempat ini setahun yang lalu, kini telah menguap tak bersisa.
Aku menatap langit malam yang bersih. Dalam hati, aku berbisik: Kakek, lihat kami. Kami baik-baik saja. Kak Zhan sudah bisa terbang, dan aku juga sedang belajar mengepakkan sayapku sendiri.
Roda bianglala terus berputar, perlahan membawa kami turun untuk kembali membumi. Namun kali ini, kami tahu bahwa kami selalu punya keberanian untuk kembali naik ke atas.
(Tamat)
KAMU SEDANG MEMBACA
Protect My Brother [END]
ActionLian seorang adik laki-laki dan Zhan adalah kakak laki-lakinya. Zhan yang menderita gangguan psikologis membuat Lian harus selalu berada di samping Zhan. Bagaimana kisah perjalanan mereka? Akhir akhir ini, kakak pulang dengan bau alkohol yang menyen...
![Protect My Brother [END]](https://img.wattpad.com/cover/290369412-64-k980387.jpg)