03

20.7K 1.1K 19
                                        

7 bulan kemudian

Seorang perempuan dengan perut buncitnya menuruni anak tangga dengan dress yang cantik terpasang di tubuhnya.

Seorang perempuan dengan perut buncitnya menuruni anak tangga dengan dress yang cantik terpasang di tubuhnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

(Dress Naura).

Hari ini Naura bersama dengan Ayana akan menghadirkan pesta pernikahan Demian dan Berlian, di sana mereka jua akan bertemu dengan yang lainnya karena semua pegawai intin Naura di undang semua.

"Kalian hati-hati di jalan," kata bu Ayu.

Bu Ayu tidak ikut karena sedang tidak enak badan dan kepalanya pusing.

"Ibu istirahat saja" kata Naura, "bi, titip ibu ya, jangan dibolehkan ngapa-ngapain" pesan Naura kepada bi Nina yang susah bekerja selama 5 bulan di rumah ini.

"Siap Nyonya," kata bi Nina.

Setelah itu Naura dan Ayana berangkat menggunakan mobil Naura yang dikendarai oleh Ayana, karena Ayana tidak memperbolehkan Naura buat nyetir sendiri, apalagi perut Naura sudah besar.

"Kakak serius nih mau datang?" Tanya Ayana yang sebenarnya malas-malasan buat datang ke pernikahan Demian dan Berlian karena mereka akan bertemu dengan keluarga mantan suami Naura.

"Niat kita kan datang ke sana mau menghadiri pernikahan Demian sama Berlian, bukan mau ngajak bertengkar," kata Naura yang sudah tidak mau bermasalah dengan keluarga mantan suaminya.

Naura masih sangat sakit hati dengan hinaan yang berikan oleh keluarga mantan suaminya dan sampai sekarang belum bisa melupakan hinaan itu.

Mereka menempuh perjalanan selama 10 menit dan akhirnya mereka sampai di gedung pesta pernikahan dilaksanakan.

Ayana memarkirkan mobilnya diparkiran mobil yang kosong dan sepertinya mereka salah mengambil parkiran.

"Kayanya aku salah ambil parkiran," kata Ayana saat ada mobil yang parkir di samping mobil mereka dan itu adalah mobil Brian.

"Sudah, pura-pura tidak tau saja," kata Naura dan melepas sabuk pengamannya.

Naura turun dari dalam mobil dan bersamaan dengan Brian yang juga turun dari dalam mobil.

Mata mereka sempat bertemu dan mata Brian beralih ke perut buncit Naura, tapi Naura dengan cepat mengalihkan pandangannya.

"Kak, ayo, yang lain sudah nungguin kita," ajak Ayana dan Naura menganggukkan kepalanya.

Naura menghampiri Ayana dan mereka melangkahkan kaki masuk kedalam gedung yang sudah di hiasa dengan snagat mudah cantik dan penuh dengan bunga.

"Itu Naura?" Tanya mama Dira yang turun dari dalam mobil Brian dan  memperhatikan punggung Naura yang menjauh.

"Iya ma," jawab Brian.

"Tidak tau malu banget jalang itu dengan percaya dirinya memperlihatkan perut buncitnya yang berisi anak haram," kata mama Dira.

"Ayo ma kita masuk, nggak ada gunanya kita membahas jalang," kata Brian.

Mama Dira menggandeng tangan Brian dan mereka melangkahkan kaki masuk kedalam gedung yang sudah banyak tamu undangan datang.

"Selamat ya, pokoknya doa yang terbaik buat kalian berdua," ucap Naura yang sudah naik ke atas pelaminan buat mengucapkan selamat.

"Makasih ya sudah sempatkan buat datang," ucap Berlian dan memeluk Naura sebentar.

"Makasih juga sudah ngundang gue, maaf ibu nggak bisa ikut datang, lagi nggak enak badan," kata Naura.

"Nggak apa-apa" kata Berlian, "gimana nih hasil keponkan gue?" Tanya Berlian dan mengusap perut buncit Naura.

"Baby girl," beritahu Ayana yang berdiri di depan Naura.

"Yeeee, tebakan gue benar, pokoknya nanti lo harus belanja sama gue," kata Berlian.

"Iya," kata Naura.

Setelah itu Naura dan Ayana turun dari atas pelaminan karena banyak yang sudah ngantri buat mengucapkan selamat.

Naura dan Ayana bergabung duduk bersama yang lainnya, mereka sudah datang lebih dulu daripada Naura dan Ayana.

"Kakak mau makan apa, biar aku ambilkan?" Tanya Kris kepada Naura yang sudah duduk di kursi.

Perut Naura sudah besar dan berat, jadi Naura tidak bisa terlalu lama berdiri karena punggungnya sakit dan kakinya cepat pegal.

"Apa aja deh," jawab Naura.

"Kalo gitu aku ambilkan dulu, kaka tinggu di sini saja," kata Kris yang langsung pergi mengambilkan makanan buat Naura.

"Aw," ringis Naura saat merasakan tendangan dari dalam perutnya.

"Kenapa kak?" Tanya Ayana.

"Kakak sudah mau lahiran?" Tanya Fuji.

"Enggak apa-apa, tadi kaget saja baby nya tiba-tiba nendang," kata Naura dan mengusap perut buncitnya dengan lembut.

"Dipikir sudah mau lahiran," kata Juna (20 tahun).

"Aman, masih dua bulan lagi," kata Naura dan bersama dengan Kris datang membawa semangkok bakso buat Naura.

"Nih kak," kata Kris dan meletakkan di depan Naura.

"Makasih ya," ucap Naura.

"Sama-sama kak," balas Kris dan duduk di kursinya.

Naura menyantap baksonya dan yang lain sibuk berbicara dan tentu saja yang mereka bahas bukan tentang pekerjaan karena ini hari libur.

Setiap 3 bulan sekali, para pegawai akan mendapatkan waktu cuti selama 1 minggu dan mereka bagi 4 sesi biar pekerjaan jug tidak terbengkalai.

Misalkan minggu pertama sesi 1, nanti minggu depannya saat sesi 1 sudah kembali, baru sesi 2 yang cuti dan seterusnya.

Karena kebanyakan pegawai Naura adalah perantau dan mereka bisa menggunakan waktu cuti buat pulang kampung atau liburan untuk merilekskan badan dan pikiran dari pekerjaan.

"Nggak tau malu, dasar jalang," kata mama Dira yang melewati meja yang di duduki Naura dan pegawainya.

"Sudah ma, jangan dekat-dekat sama jalang," kata Ayna (menantu kesayangan) dan menggadeng lengan mama Dira.

Bulan kemarin Ayna sudah melahirkan dan anaknya berjenis kelamin laki-laki, hanya itu yang Naura tau.

Naura pura-pura tidak mendengar saja dan tetap melanjutkan makan bakso miliknya, dia juga tidak mau membuat keributan di pernikahan kedua sahabatnya.

Mama Dira dan Ayna pergi dari meja mereka dan semua orang yang ada di meja langsung menggerutu, terkecuali Naura.

"Nggak ada sopan santunnya," kata Dewi.

"Aku doakan, semoga anak kak Naura mirip sama papinya, biar satu keluarga itu menyesal dan malu," kata Fuji yang sangat kesal.

"Syukur perempuan sama orangtua," kata Adit.

"Di sini kita mau bahagia, jangan terlalu didengarkan omongan-omongan yang tidak benar itu," kata Naura menghentikan para pegawainya.

Naura dan Ayana hanya 1 jam berada di pesta pernikahan itu dan setelah itu mereka pulang karena punggung dan pinggang Naura sudah sakit terlalu lama duduk dan kalo berdiri kakinya pegal.

HERO (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang