Kami berlima bergantian masuk ke ruang interogasi.
Tiga orang preman, Aku, dan juga Lian.
Tibalah saatnya dimana aku memasuki ruangan.
"Duduk saja, tidak perlu tegang." Ucap petugas kepolisian yang saat itu tengah bertugas menangani kami.
"Baik pak,"
"Jadi, bagaimana hal ini dapat terjadi?" Polisi tersebut menatapku dengan tajam.
"Baiklah, saya akan menceritakannya pelan-pelan."
Petugas tersebut mengangguk dan Menyatukan jemarinya di atas meja.
Aku menyiapkan diriku, ku ambil napas dalam-dalan, dan menghembuskannya. Setelah itu, mulai bercerita.
"Awalnya saya akan membelikan air minum untuk adik saya. Saat akan keluar dari minimarket, tiba-tiba ada tiga orang yang membuntuti saya. Saya mencoba kabur dari kejaran mereka,"
Aku menderapkan kakiku pelan, menceritakan kisah ini sedikit menegangkan bagiku.
" Kemudia saya terpikirkan untuk mengabari adik saya, saya mengirimkan beberapa lokasi saya melalui pesan, saat saya agak jauh dari kejaran mereka, "
Polisi tetap menatap lurus mataku dengan tajam. Aku tidak berani menatap langsung ke arah matanya. Kutundukkan kepalaku menghadap ke lantai, sambil memegang kedua lututku.
" Namun, setelah beberapa kali mencoba kabur dari mereka. Saya terjebak di sebuah gang. Mereka telah memblokir jalan keluar, saat saya ingin kabur dari kejaran mereka. Saya sudah mencoba berteriak, namun tidak ada satupun orang yang menjawab."
Aku memainkan jari - jemariku, sembari melanjutkan cerita.
"Sepertinya, mereka membuntuti saya karena pada malam ini saya menggunakan mobil Sport yang jarang di pakai."
Polisi itu terus menganggukkan kepala sambil mendengarkan ceritaku panjang lebar.
"Saat saya ingin mengeluarkan dompet untuk memberi mereka uang, tiba-tiba adik saya datang dan menyerang salah satu pelaku." Ucapku gemetar.
"Dan saya kabur, agar tidak menjadi beban adik saya. Selain itu juga, saya berusaha mencari pertolongan walau gagal. Sekian."
"Apakah hanya itu saja?" Petugas tersebut melunakkan tatapannya.
"Iya pak."
"Baiklah, silahkan keluar."
Aku berdiri dan mulai melangkahkan kaki ke arah pintu,
Kini giliran Lian yang dipanggil masuk ke dalam.
~~
Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya Lian telah keluar.
Kami berlima telah selesai menyelesaikan interogasi dan sepakat untuk menyelesaikan masalah secara kekeluargaan.
Aku melepaskan mereka, dari segala hukuman.
Mungkin kalian bertanya, apa untungnya bagiku jika memaafkan mereka semudah itu?
Jawabannya mudah, karena bila masalah ini diperpanjang, maka orangtuaku tahu dan semakin protektif terhadapku.
Aku tidak mau, jika nantinya ada larangan untukku keluar rumah.
Jadi kukira, lebih baik memaafkan saja.
Beberapa polisi menyalami kami berlima, dan mengucapkan
"Terima kasih atas atas kerja samanya,"
"terimakasih kembali." jawab salah seorang preman yang kepalanya telah diperban.
Aku segera menarik lengan Lian, dan mengajaknya untuk segera kembali ke rumah.
Aku menatap jam dinding kantor polisi dan melihat waktu telah menunjukkan pukul,
03:27
Waktu yang sangat lama untuk menyelesaikan masalah ini.
Mungkin kita bisa sampai di rumah saat sang surya telah menampakkan dirinya.
Malam-malam yang dingin, aku lewati dengan memapah Lian masuk ke dalam mobil.
~~
Saat berada di dalam mobil untuk menuju ke rumah. Keheningan muncul di antara kami, aku tidak mampu menatap mata Lian.
"maafkan kakak." gumamku lirih.
"Kak, sudah kubilang. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri." Nada suara Lian mulai meninggi.
"Lalu ini salah siapa? Aku yang salah! Karena aku lemah." Suaraku bergetar.
"Tidak perlu di lanjutkan lagi. Kita pulang saja." Ucap Lian, mengakhiri pembicaraan diantara kita.
Dalam perjalanan panjang aku memikirkan banyak hal, termasuk alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan mama saat kita sampai di rumah nanti.
Kemungkinan besar mama akan bertanya ' darimana saja kami? '
Jawaban paling aman untuk saat ini, yang dapat kupikirkan adalah 'menginap di rumah Rego'. Aku harap Rego dapat membantuku, ketika mama tiba-tiba meminta konfirmasi dari Rego.
Jalanan yang berkabut, membuat pikiranku menjadi kalut.
Dinginnya udara yang menusuk kulit, tidak ku hiraukan asalkan aku dapat pulang tidak lebih dari jam lima pagi.
Aku melirik Lian sekilas, karena daritadi aku tidak mendengar kicauan dari mulutnya.
Rupanya ia telah tertidur pulas.
Pasti dia merasa sangat lelah, menghadapiku, masalahku yang tiada akhir, dan segala permasalahannya sendiri.
Aku ingin meminta maaf kepada Lian, karena kakaknya adalah laki-laki yang tidak pernah bisa menang menghadapi para pembuat onar.
Dan justru, melimpahkan semuanya kepadamu.
"maafkan kakak." aku bergumam di sepanjang perjalanan.
Tentu saja, hal tersebut tidak digubris oleh Lian. Tidurnya terlalu nyenyak untuk mendengarkan permintaan maaf dariku.
Namun, satu hal yang pasti. Aku sangat menyayangimu dengan tulus. Tentu saja sebagai sebuah keluarga. Tidak akan pernah ku relakan, kamu menjadi korban atas kelemahan diri ini.
"Maaf dan terimakasih, Lian."
~~
I will always be with you,
even if you are weak

KAMU SEDANG MEMBACA
Protect My Brother [On Go]
Fiksi RemajaLian seorang adik laki-laki dan Zhan adalah kakak laki-lakinya. Zhan yang menderita gangguan psikologis membuat Lian harus selalu berada di samping Zhan. Bagaimana kisah perjalanan mereka? Akhir akhir ini, kakak pulang dengan bau alkohol yang menyen...