Seberapa banyak kenangan yang kita ciptakan hingga rasa cinta ini masih bersarang dalam raga masing-masing?
Seandainya rasa cinta merupakan suatu benda, barangkali benda itu sudah tak berguna lagi hingga disebut sebagai sampah, lalu menumpuk memenuhi unit apartemen kita.
Secara mengejutkan dan tanpa dipinta-pinta, kau menghubungiku setelah kau meninggalkan unit apartemen kita setahun lalu. Sejujurnya ini adalah harapanku.
'Boleh aku ke rumahmu?'
Padahal kau tak perlu mengatakan rumah itu rumahku. Itu juga rumahmu. Kita membayar deposit bersama-sama. Tapi, saat hubungan kita berakhir kau bilang kalau aku bebas untuk memilih memiliki rumah itu atau meninggalkannya juga.
Lalu, kau pun sudah berada di depan pintu rumah. Sedang menyandarkan punggungmu ke pagar koridor gedung-meski aku melihatmu dari halaman parkir, di mana kau berada di lantai tiga, aku segera mengenal sosokmu itu. Kau tidak banyak berubah, kecuali rambutmu yang dipotong lebih pendek bersama dahi yang kau biarkan terlihat, padahal terakhir kali kita bertemu rambut hitammu sedikit melewati bahu. Tangan kirimu menenteng sebuah kantong belanjaan berwarna putih.
Seperti biasanya, bila kau merasa canggung, kau tidak dapat tersenyum dengan bebas. Jadi, kau memilih untuk tidak tersenyum. Kau pun sebenarnya tidak suka berbasa-basi. Itulah kenapa kau tidak melontarkan pertanyaan, 'kau baru pulang dari kerja?' kepadaku, karena kau memang tahu bahwa aku baru pulang dari kerja.
"Ada perlu apa?" tanyaku tanpa melihatmu.
Kau tahu, dadaku bergemuruh bila melihatmu terlalu lama, itulah kenapa aku segera memasukkan anak kunci ke lubang kunci pintu.
"Mengambil barang-barangku." Sahutmu.
Saat kau pergi dari rumah, kau hanya membawa setengah pakaianmu bersamamu. Kau juga meninggalkan barang-barang lainnya di rumah. Secara ajaibnya, aku membiarkan barang-barangmu masih berada di tempatnya. Padahal tempat yang kita sewa adalah apartemen dengan 1LDK, barangkali aku akan merasa nyaman bila barang-barangmu juga ikutan pergi karena unit apartemen kita menjadi luas.
"Mengapa baru mau kau ambil sekarang?"
Sementara aku bertanya seraya menunggu ramen cup-ku lembek, kau mengeluarkan sesuatu di dalam kantong yang kau bawa di meja kabinet dapur. Itu dua botol bir dengan merk Red Stripe. Dulu kau selalu menyebutnya dengan kata bir Jamaika, karena Red Stripe berasal dari Jamaika. Bir kesukaanmu.
"Aku tiba-tiba teringat kalau barang-barangku masih di sini. Aku harus mengambilnya dan membawanya ke rumah pacarku." Jelasmu. Kau melirik ruangan di sekitar kita, sudut bibirmu sedikit terangkat sebelum menatapku. "Kupikir kau sudah membuang barang-barangku. Ternyata tidak"
Ya. Kau sudah punya pacar. Aku pun tahu itu berkat Instagram-mu. Kau tidak mengunggah apa pun tentang pacarmu di sana, tapi setiap kali pacarmu mengunggah sesuatu di Instagram Stories yang menandaimu, kau akan menambahkannya.
"Pacarmu cantik." Aku berkomentar asal-asalan, lalu menarik kursi dari dalam meja makan dan duduk di sana bersama makananku. Kau pun juga ikut duduk di seberangku bersama sebotol bir Jamaika-mu.
"Tahu dari mana?"
"Bukankah itu jelas kalau kau tahu aku sering bermain Instagram?"
"Aku menyimpan bir di kulkasmu." Ucapmu, mengabaikan perkataanku. Sebelumnya kau pun memang sering menyimpan bir itu ke dalam kulkas. Padahal kau tahu bahwa aku tidak pernah menyukai bir itu.
"Kau seharusnya tahu kalau aku tak akan meminumnya."
Mengapa ya aku berbohong? Padahal bir milikmu yang tertinggal di kulkas saat kita putus, beberapa bulan lalu aku meminumnya. Bir itu bahkan telah kadaluwarsa. Rasa rindu paling gila yang pernah kualami berkat foto-foto kita di galeri ponselku yang tak sengaja kulihat. Aku hampir mati karena terus muntah keesokan harinya dan dibawa ke rumah sakit oleh pemilik apartemen.
KAMU SEDANG MEMBACA
Healing
FanfictionCerita pendeknya Sakurazaka46 yang agak melokal. [Ditulis menyesuaikan mood dan pengalaman]
