Perjalanan Nanggok

185 18 25
                                        

Sebelum memulai cerita ini, penulis mau ngasi tau kalau nanggok merupakan tradisi bagi-bagi duit di malam Takbiran sama hari pertama Lebaran. Nanggok gak sama kayak keluarga kita ngasi duit/THR pas kita datang lebaranan, nanggok jangkauannya lebih luas, di mana anak-anak dari yang dikenal sampai gak dikenal datang ke setiap rumah, lalu pamit pulang setelah dapat duit. Penulis gak tau apakah di daerah lain punya tradisi begini, tapi setelah penulis cari tau di Google, ternyata di lingkungan Betawi juga punya tradisi nanggok (kalau salah kasi tau aja, ya?).

-------

Habis sholat Idul Fitri, Akiho, Marino, Kira, dan Hikari ngumpul di dekat gardu listrik tepi jalan raya. Seperti bocil-bocil pada umumnya di hari raya, mereka udah siap nanggok sambil bawa tas kecil warna pink gambar Barbie yang dikaetin di tubuh mereka buat nampung hasil tanggokan mereka. Dengan semangat yang membara karena bakal dapat banyak duit, maka dimulailah perjalanan menanggok mereka...

1. Rumahnya Yuuka

"Wadaw, rumahnya gede banget nih..." kata Akiho terkagum-kagum, mulutnya menganga lebar liat rumah Yuuka yang besar dan berkilau kayak rumah orang kaya di sinetron-sinetron RCTI.

"Pasti bakal dapat banyak duit nih." Tebak Kira. "Yuklah gaes..."

Mumpung gerbangnya gak ditutup, ni bocil berempat nyelonong masuk aja. Tapi, si Hikari ketinggalan. Marino yang nyadar langsung noleh ke belakang. Ternyata Hikari lagi lepasin sandalnya.

"Ngapain sih Hikari pakai lepas sandal segala?" keluh Marino.

"Habisnya halamannya keramik, bersih pula. Kesian sama tuan rumah, udah bersih-bersih sampai mengkilap begini."

"Ye... kagak apa-apa lah, lagi pula sandal lu kan baru, masih kinclong kok."

"Oh iya..."

Sampai di depan pintu rumah yang kebuka lebar, mereka berempat pun serempak berseru, "Assalamualaikom, raye~ raye~."

Meski rumahnya Yuuka ramai, si Yuuka yang merupakan pemilik rumah ternyata dengar dan langsung keluar sambil senyum sumringah. Di tangannya udah megang amplop tebal.

"Adek-adek manis dari mana aja nih?" tanya Yuuka ramahnya luar biasa. "Mau masuk dulu gak? Di dalem ada kue sama air kaleng banyak. Makan ketupat sama opor ayam, yuk? Ada rendang juga nih."

"Kita dari tepian sungai Tante." Jawab Akiho. "Gak papa Tante, kita makan di rumah aja. Kasian emak-emak kita udah masak, tapi gak dimakan sama kita."

"Oh, yaudah... ini, ya..." Yuuka pun ngeluarin duit dari amplop, ngebagi masing-masing bocil satu orang seratus ribu. Setelah ngucapin makasih, bocil berempat pun keluar dari halaman rumah Yuuka dengan perasaan girang bukan main.

"Anjaaay, di rumah pertama aja kita udah dapat seratus ribu!" seru Hikari, gak nyangka.

"Tuh kan, bener kata gua. Kalo udah rumah gede, pasti bakal dapat banyak duit kita." Sahut Kira dengan bangga.

"Nah, di depan tuh, ada rumah besar." Kata Akiho. "Eh, udah mau pergi tuh mereka... Yuklah cepat ke sana..."

2. Rumahnya Seki

Seki baru aja mau masuk ke dalam mobilnya, berencana mau lebaran ke rumah kakek-neneknya. Tapi, beliau gak jadi masuk ke dalam mobil pas bocil berempat teriak, "Assalamualaikom, raye~ raye~".

"Wa'alaikumusalaam..." sahut Seki. Lalu dia teriakin ART-nya. "Inoue, Inoue... nih, kasi bocil-bocil duit... Ntar habis gua keluar, pagar jangan lupa ditutup, ya..."

Sang ART pun keluar dari garasi, setengah berlari sambil bawa duit empat lembar warna biru. Terus dibagiin sama keempat bocil. Mereka masih seneng kok dapat duit 50 ribu meski sebelumnya dikasi 100 ribu, soalnya anak sekecil mereka mah uang segitu udah gede banget.

HealingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang