"Anak sialan! Berhenti membuat masalah! Kau membuat ku malu, untuk mengakui mu sebagai anak! "
Pria paruh baya itu terus menerus melontarkan kata kata pedas dan menyakitkan pada gadis berseragam sekolah yang meringkuk kesakitan di dinginnya lantai.
"Cuih! Untung saja ada Anna yang membuat keluarga ku kembali ke posisi teratas! "
"Pergi kau dari sini! Kau tidak di butuhkan lagi, di keluarga saya!! "
Pria paruh baya itu menarik tangan gadis berseragam sekolah yang sedikit mengeluarkan darah menuju ke pintu utama.
Semua pelayan mau anggota keluarga gadis itu, hanya menatap datar seolah momen inilah yang mereka tunggu tunggu.
Sedang gadis bersurai pendek warna cokelat muda itu tersenyum, sambil mengarahkan jari tengahnya pada gadis berseragam sekolah.
Brak!!
Pintu menjulang tinggi itu tertutup dengan kencang sedetik setelah gadis berseragam sekolah itu di luar rumah.
Gadis bersurai panjang warna biru itu terdiam cukup lama, hingga bola mata yang awalnya cokelat muda berganti menjadi biru laut.
Tangannya mengepal kuat hingga melukai telapak tangannya karna kuku gadis itu yang teramat panjang, lalu darah menetes mengotori lantai luar rumahnya.
Carol.
Gadis bernama Carol itu melangkah keluar menuju gerbang rumahnya, membebaskan diri dari jeratan neraka yang selama ini ia huni.
Seragam yang melekat di tubuhnya kini menjadi alat untuk menghilangkan darah yang masih basah, akibat ulahnya sendiri.
Satpam penjaga gerbang dengan senang membuka gerbang dengan cepat, membuat Carol berdecih sinis dalam hati.
Sudah sepuluh menit, Carol berjalan melewati beberapa tokoh yang berjualan.
Hingga, dirinya menyerong sedikit tubuhnya dan melangkahkan kaki nya menuju ke tengah jalan raya.
Beberapa orang disana berteriak histeris saat Carol sudah berada di tengah tengah jalan raya yang sangat di padati mobil mobil maupun truk dan bis.
Mereka hanya berteriak saja, tidak berniat menolong atau menarik Carol. Huh.
Hingga netra biru laut nya menangkap seorang lelaki yang menatapnya khawatir dan cemas. Disaat itu juga, truk yang melaju cepat langsung menabrak tubuh ringkih milik Carol.
Gadis berseragam itu terpental beberapa meter dan terhenti saat kepalanya menabrak sesuatu yang keras, hingga membuat keningnya berdarah.
"CAROL!!! JANGAN TUTUP MATA, GUE MOHON!!" Teriakan histeris itu dari lelaki yang tadi menatap Carol dengan cemas.
Laki laki yang juga berseragam sekolah itu memupuk kepala Carol ke pahanya, mengakibatkan darah yang masih mengalir itu membasahi celana abu abu sekolah lelaki itu.
"No, Carol. Don't leave alone, please" Lirih lelaki, saat melihat Carol dengan perlahan menutup mata.
"CAROOOLL!!!"
--------
Di hari minggu ini terasa begitu aneh bagi keluarga harmonis ini. Kenapa?
Karna si bungsu, Ainsley. Dari tadi hanya diam dengan jari yang menari nari di layar ponsel bermerk Oppo itu.
"Ainsley, kamu kenapa, hm?" Tanya Manda seraya mengelus kepala Ainsley yang berada di sampingnya.
Ainsley menyudahi bermain dengan ponselnya, lalu mendongak menatap semua anggota keluarga yang juga menatapnya.
Diri nya berdehem pelan, lalu menyugar rambut hitamnya ke belakang.
"Mommy, mau ngomong berdua aja?" Pinta Ainsley menatap memohon pada Manda.
Manda melirik Ainsley lalu menatap keempat lekaki di hadapannya. Manda akhirnya mengangguk dan menarik tangan Ainsley pelan menuju kamar pribadi milik Manda.
"Jadi, kenapa sama anak Mommy yang satu ini?"
"Mom, jangan marah dulu, ya?" Manda mengangguk mantap lalu tersenyum tipis saat Ainsley meliriknya diam diam.
"Mom percaya transmigrasi, kan?"
Deg!
Degub jantung Manda langsung berhenti saat Ainsley bertanya tentang transmigrasi.
"Ya, percaya dong" Balas Manda dengan memaksakan bibirnya tersenyum.
"Mom, ak-aku bukan Ainsley asli. Aku, aku Caroline, tokoh antagonis di novel 'Te Amo' "
Manda membeku saat mendengar perkataan Ainsley, ah ralat. Jiwa Caroline yang berada di tubuh anaknya.
"Jadi, kamu bukan Ainsley asli?" Bibir Manda bergetar menahan isakan yang akan keluar.
Anak perempuan satu satu nya, anak bungsu yang sangat amat di sayanginya meninggalkan nya?
Ainsley menundukkan kepalanya lalu menggeleng samar.
"Aku, aku bisa keluar dari rumah ini, kok. Kalo Mom, em.. Kalo tante mau"
Manda menggeleng ribut lalu menarik tubuh Ainsley, mendekapnya dengan kuat dan menumpahkan kesedihannya saat ini.
"Kenapa bisa, Carol? Apa yang terjadi?" Tanya Manda nyaris seperti bisikan.
"Ainsley yang minta, Tan. Carol jadi Ainsley, dan... Ainsley jadi Carol di novel Te Amo"
Deg
Tangis Manda semakin histeris, membayangkan hidup anak perempuannya di novel. Apalagi ini menjadi tokoh antagonis. Sulit pastinya.
"Tante-"
"Jangan panggil tante! Bagaimana pun, aku tetaplah Mommy mu. Tidak peduli jika kamu Carol sekalipun!!"
End.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dahlia To Athea
Teen FictionDahlia Amanda Deandra adalah gadis muda yang berumur 19 tahun. Dirinya sekarang menempuh pendidikan di perkuliahan. Sikapnya random namun lebih dominan dingin dan acuh dengan sekitarnya. Entah bagaimana bisa, saat Dahlia menyebrang jalan, sudah dir...
