Motor milik Alkena berhenti di sebuah taman Bunga. Evelyn menyeringit menatap sekeliling, Alkena membawa dirinya ke taman Bunga?
"Ngapain bengong, buruan turun." Tukas Alkena membuyarkan lamunan Evelyn.
Gadis itu turun dari motor milik Alkena, lalu jemari lentiknya menarik jaket milik Alkena.
"Lo yakin ngajakin gue ke taman Bunga? Lo ngga lagi berusaha romantis ke gue kan?" Ucap Evelyn heran, namun tak ayal senyum menggoda terpatri di bibir tipisnya.
Alkena membuka helm yang ia kenakan lalu menatap gadis itu datar.
"Tingkat percaya diri lo setinggi itu ternyata?"
"Iya lah! Dari pada jadi cewe insecure." Jawab Evelyn tak mau kalah.
Alkena terkekeh, untuk pertama kalinya Evelyn melihat senyum Alkena yang terlihat sangat manis.
"Ayo. Ngga usah banyak bacot." Kata Alkena, laki laki itu mulai melangkah masuk kedalam taman Bunga.
Evelyn, gadis itu mengekor berusaha menyamai langkah Alkena yang lebar. Netra gadis itu menelisik seluruh taman yang dihiasi berbagai macam bunga. Bibirnya menganga takjub, senyumnya tak pernah luntur melihat betapa cantiknya bunga bunga di sana. Hingga tanpa Evelyn sadari, Alkena sudah berhenti. Menyaksikan gadis itu yang begitu antusias.
"Lo suka?"
Evelyn menoleh dengan senyum yang tak pudar. Gadis itu mengangguk lucu.
"Sukaa!"
Alkena menggelengkan kepalanya pelan, lalu lengannya terulur memetik bunga Lili putih di dekatnya.
Evelyn melotot, "Heh! Kenapa di petik? Nanti dimarahin, lo ngerusak fasilitas disini."
Alkena berjalan santai mendekat ke arah Evelyn.
"Nggak akan, lagian cuman satu. Gue sering metikin bunga buat bunda disini." Ujar Alkena, lalu menyerahkan bunga itu kepada Evelyn.
"Dih? Kok boleh? Bukanya ga boleh metik bunga disini?"
"Santai aja, Penjaga kebun disini udah hafal sama gue."
Evelyn terkekeh lalu menerima bunga itu dengan senang.
"Cantik banget."
"Iya. Yang jelek itu kan lo." Saut Alkena membuat Evelyn menatapnya tajam.
"Ngeselin banget sih lo. Kirain udah tobat, taunya masih aja kaya setan." Gerutu Evelyn kesal.
"Gue bawa kamera. Lo pose, gue mau nyoba kamera."
"Apasih gue lagi kesel, lo suruh pose. Stres."
Tak memperdulikan Evelyn, Alkena tetap memotret gadis itu. Hasilnya bagus, karena memang fotografi adalah salah satu kesukaan Alkena.
"Gausah cemberut gitu, lo makin jelek. Sini gue ajarin caranya motret." Tukas Alkena, Evelyn menurut walaupun dengan perasaan kesal.
Alkena mengajari gadis itu dengan sabar, hingga kekesalan Evelyn menguap begitu saja ketika berhasil memotret objek dengan gambar yang memuaskan.
"Anjir! Jago juga gue." Pujinya pada dirinya sendiri.
Alkena menggelengkan kepalanya pelan, tiba tiba netranya menatap pipi bagian bawah gadis itu yang terlihat membiru. Bahkan ia baru menyadari itu.
"Ini kenapa?" Tangan Alkena terulur menyentuh pipi Evelyn.
"Hah? Nggak papa cuma kepentok meja." Bohong Evelyn, padahal yang sebenarnya terjadi akibat ulah Ayah tirinya yang tiba tiba menamparnya sepulang Camping tempo lalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
to ALKENA
Fiksi Remaja"Lo adalah rangkaian senyawa memabukan. Di dekat lo, jantung gue ser-seran gak karuan." Evelyn Cleasika. "Cewek bebal kayak lo harusnya dilempar aja kelaut, biar dunia jadi tentram!" Alkena Julian Garpati. ---FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA. BUAT YANG U...
