Pengarang Handal (Naruto)

951 112 28
                                        

Saat mendapat notifikasi yang berasal dari aplikasi grup chat, wajah Mugiwara menyeringai senang,
{Dingg!!! Selamat telah berhasil menyelesaikan quest. Hadiah akan diberikan setelah waktu misi berakhir}

'Giliranku beraksi'batin Mugiwara balik kedalam kerumunan.

Ditempat lain.

"Ahh itu dia"seru Jiraiya menunjuk kearah Mugiwara yang mendekat kearahnya.

"Kami tadi mencarimu Mugiwara-san"ucap Fukasaku memberitahu.

"Anda tadi kemana??"imbuh Shima bertanya.

"Tadi ada urusan sebentar" jawab Mugiwara tersenyum melihat kemereka, dan juga Naruto yang melihatnya dengan wajah kebingungan.

"Ero senin, dia siapa???tanya Naruto kepada Jiraiya. Pertama kali ini Naruto bertemu dengan Mugiwara. Dia penasaran, kenapa gurunya dan kedua katak yang mengajari senjutsu terlihat akrab dengannya.

Tapi bukan Jiraiya yang membalas melainkan Mugiwara.
"Ayah kau Jahat sekali, muridmu sendiri bahkan kau tidak beritahu" Mugiwara dengan ekspreai kesal

Jawaban Mugiwara membuat Naruto dan lainnya yang ikutan mendengar sampai terkejut
"Ehhh....A-ayah!!!Eeeeehhhhhh"

"Benarkah itu Jiraiya-sama" (Kakashi)

Dengan gugup Jiraiya menjawab,
"B-benar dia putraku, Mugiwara namanya"

Mendengar Jiraiya sangat gugup dalam menjawab, semua orang mulai merasa ragu dengan ucapan Mugiwara, apalagi saat melihat bagaimana Fukasaku dan Shima tampak sopan sekali dengan Mugiwara yang menyebabkan mereka semakin yakin kalau Mugiwara dan Jiraiya sedang berbohong.

"Ayah, Jangan malu mengakuiku. Jujur saja, aku sebenarnya juga tidak mau mengungkit ini lagi. Tapi kalau Ayah tetap bersikap seperti ini, yang ada mereka akan semakin curiga padaku" kata Mugiwara.

Semua orang terlihat bingung dengan perkataan Mugiwara,begitu juga Jiraiya yang semakin gagap dalam berbicara. Karena skenario percakapan ini belum pernah dia dengar.

"A-apa yang-"

"Sudah Yah"bentak Mugiwara dengan emosi yang membuat mereka yang mendengar itu semakin dilanda bingung ,antara percaya atau tidak dengan ucapan Mugiwara.

Jiraiya diam. Dan menundukkan kepalanya.

"Sudah kubilang jangan merasa bersalah Yah. Aku tahu ayah cuma minder dengan status sosial ibu. Tapi itu tidak merubah fakta kalau kalian dulu pernah bersama, jangan hanya karena status kalian, ayah sampai tidak mengakuiku sebagai anak, kita ini ayah dan anak, itu adalah fakta yang tidak bisa ayah bantah. Jangan lagi merasa bersalah, ibu sudah memaafkan ayah dan sudah melupakan semuanya. Buktinya aku ada disini sekarang, karena ibu sudah mengijinkanku untuk bertemu dengan ayah"ucap Mugiwara tersenyum tulus menatap Jiraiya.
'Kalau kayag gini harusnya mereka percaya'batin Mugiwara melihat semua orang terdiam tidak ada yang berani berkomentar.

Samahalnya dengan Jiraiya Fukasaku dan Shima, mulut mereka terlihat mengaga lebar, tak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar.
'Jir, bocah ini semakin membuatku takjub' (Jiraiya)

'Aku tidak menduga kalau Ikhwan-sama pandai berakting' (Fukasaku)

'Jika aku tidak tahu,siapa sebenarnya Mugiwara-san, pasti aku sudah tertipu olehnya' (Shima)

"Memangnya ibumu siapa???kenapa dari dulu sampai pertapa genit tidak mau cerita kepadaku" tanya Naruto tiba-tiba.

Mugiwara terdiam tidak segera menjawab. Dirinya agak terkejut karena mendengar Narutolah yang mengajukan pertanyaan. Bukan orang lain yang kapasitas otaknya lebih pintar dari Naruto.
'Hmmm...aku tak percaya malah anak ini yang bertanya'
Padahal sebelumnya ia yakin kalau Naruto, orang pertama yang akan percaya pada ucapannya. Dan dengan polosnya,dia akan mengasihani Mugiwara, bahkan membelanya didepan Jiraiya.

Fake God with Dimensional Group ChatCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang