Adelia Faranisa Aznii dan Gavin Aldevaro selalu dipertemukan dalam segala hal. Mereka adalah musuh bebuyutan yang nggak pernah bisa akur, entah itu di rumah karena tetanggaan, atau di sekolah karena satu kelas dan satu sekolah. Setiap kali bertemu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Malam pun tiba. Setelah menunaikan salat berjamaah di Masjidi, Gavin dan keluarganya melanjutkan rutinitas makan malam bersama, menunggu sang Papi yang baru saja pulang kerja. Suasana meja makan hangat seperti biasa, dipenuhi percakapan ringan dan sesekali tawa kecil.
Selesai makan, Gavin segera pamit pada Papi dan Maminya sebelum masuk ke kamar. “Aku masuk kamar dulu, Pi, Mi,” ujarnya sambil tersenyum kecil.
Di dalam kamar, Gavin duduk di atas kasur, sibuk dengan ponselnya. Namun, keheningan tak berlangsung lama karena tiba-tiba Fikri membuka pintu tanpa mengetuk lebih dulu. "Lo malam ini keluar, nggak?" tanya Fikri tanpa basa-basi.
Gavin mendongak dari layar ponsel. "Kenapa emangnya?"
"Motor lo gue pinjem, dong. Gue mau keluar sama Dira," jawab Fikri santai sambil menyandarkan badan ke pintu.
Gavin menyipitkan mata. "Emang motor lo kenapa?"
"Entah, tadi gue coba starter, tiba-tiba nggak nyala," kata Fikri dengan wajah sedikit kesal.
"Padahal tadi sore masih bisa, kan?" Gavin memandang kakanya dengan alis terangkat.
"Iya, makanya gue bingung. Barusan gue coba, nggak mau nyala," balas Fikri sambil mengangkat bahu.
Gavin terkekeh kecil. "Gue keluar malam ini. Jadi, nggak bisa pinjemin," katanya santai.
"Yah, lo nongkrongnya besok aja!" sergah Fikri dengan nada tak terima.
"Lah, lo aja yang keluar besok. Itu tandanya motor lo ngambek, emang lo nggak dibolehin keluar malam ini," Gavin menimpali sambil tersenyum mengejek.
Fikri mendengus. "Nggak adil banget alasan lo!" protesnya. Gavin hanya tertawa kecil, menikmati kekesalan kakaknya.
🦀🦀🦀
Di rumah Aznii, suasana serupa terjadi. Keluarganya baru saja selesai makan malam, dan kini Aznii sedang sibuk bersiap-siap di kamarnya. Sebelumnya, ia sudah meminta izin kepada Bunda dan Papanya untuk pergi bersama teman-temannya.
Tak lama kemudian, suara bel rumah berbunyi. Kayla datang menjemput Aznii. Alena, sang Bunda, membuka pintu dan menyambut Kayla dengan ramah.
“Masuk dulu, Kay. Aznii belum selesai siap-siap,” kata Alena sambil mempersilakan Kayla duduk di ruang keluarga bersama Alena dan Arka, suaminya.
Kayla tersenyum, duduk dengan sopan. "Terima kasih, Tante."
"Eh, kak mau ke mana malam-malam begini?" tanya Dika, adik bungsu Aznii, yang muncul tiba-tiba sambil memandang Kayla dengan penasaran.