2. Dia Gavin Aldevaro

522 19 8
                                        

Seorang pemuda kini tampak rapi dan beraroma wangi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Seorang pemuda kini tampak rapi dan beraroma wangi. Dari penampilannya, jelas ia hendak pergi, meski tujuannya masih misteri. 

“Mau kemana, Vin?” tanya seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba muncul menghampirinya. 

“Biasalah, Mi, urusan anak muda,” jawab Gavin santai, sambil memasang senyuman kecil. Wanita paruh baya itu tak lain adalah ibunya sendiri. 

“Yaudah, Mi, aku pamit dulu,” ujar Gavin sebelum melangkah pergi, menyisakan aroma parfumnya yang samar tertinggal di udara.

Pemuda itu bernama Gavin, atau lebih lengkapnya Gavin Aldevaro. Ia adalah putra dari pasangan Anisa dan Ardan. 

“Iya, hati-hati di jalan. Jangan pulang terlalu malam, nanti kamu kena omel Papi,” pesan Anisa, sang Mami, dengan nada penuh perhatian. 

“Siap, Mi,” jawab Gavin singkat sambil tersenyum tipis. 

Setelah mendapat izin dari Maminya, Gavin melangkahkan kakinya keluar rumah. Namun, saat tiba di pintu utama, ia tanpa sengaja berpapasan dengan seorang pria yang usianya tiga tahun lebih tua darinya. 

“Mau kemana lo malam-malam begini?” tanya pria yang berdiri di depan pintu, menatap Gavin dengan sorot tajam. 

“Biasalah, Kak, urusan anak muda,” jawab Gavin santai, sambil merapikan jaketnya. 

Pria itu adalah Fikri Alvino, kakak sulung Gavin. Ia adalah anak pertama dari pasangan Ardan dan Anisa. Keduanya memang hanya dikaruniai dua anak, Fikri dan Gavin. 

“Nongkrong terus lo! Bukannya belajar? Sebentar lagi UTS, kan?” tegur Fikri, tak melewatkan kesempatan untuk menasihati sang adik. 

“Tenang aja, Kak. Santai,” balas Gavin dengan nada ringan, tanpa sedikit pun terlihat cemas. 

“Santai-santai! Kalau nilai lo jeblok nanti uang jajan lo dipotong sama Papi. Baru tau rasa!” ujar Fikri, mencoba memperingatkan. 

“Gak bakal, Kak. Gue yakin nilai gue aman,” sahut Gavin penuh percaya diri. 

Fikri hanya mendengus pelan. “Ya udah, terserah. Tapi jangan pulang malam-malam. Lo tau sendiri gimana Papi, kalau lo telat pulang.” 

“Siap, Kak,” jawab Gavin. Ia menambahkan dengan nada bercanda, “Lagian kalau gue dikunciin, gue tinggal minta lo bukain pintunya.” 

“Dih, ogah banget!” balas Fikri dengan cepat, membuat Gavin tertawa kecil sebelum melangkah pergi. 

Gavin segera menuju garasi, menyalakan motor kesayangannya, lalu melaju keluar pekarangan. Namun, baru sampai di depan gerbang, ia tak sengaja bertemu dengan seorang anak laki-laki yang tinggal tepat di seberang rumahnya. Anak itu usianya tiga tahun lebih muda darinya. 

“Mau kemana, Kak?” tanya bocah itu polos. 

“Mau nongkrong,” jawab Gavin singkat sambil memutar gas motornya. “Lo mau ikut, Dik?” tawarnya dengan nada bercanda. 

Enemies to Lovers [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang