Adelia Faranisa Aznii dan Gavin Aldevaro selalu dipertemukan dalam segala hal. Mereka adalah musuh bebuyutan yang nggak pernah bisa akur, entah itu di rumah karena tetanggaan, atau di sekolah karena satu kelas dan satu sekolah. Setiap kali bertemu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Weekend telah berakhir, dan kini semua orang kembali ke rutinitas masing-masing. Yang bekerja kembali sibuk di kantor, yang sekolah kembali berkutat dengan buku pelajaran. Begitu pula dengan keluarga Ardan. Sebagai kepala keluarga, Ardan harus kembali ke pekerjaannya. Fikri, sang anak sulung, kembali dengan kesibukannya sebagai mahasiswa. Sementara Gavin, si bungsu, harus kembali berangkat ke sekolah.
"Selamat pagi!" sapa Gavin dengan semangat, sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
Fikri yang tengah duduk di meja makan menatapnya heran. "Tumben lo udah bangun segini pagi?" tanyanya curiga.
Gavin mendudukkan diri di kursi favoritnya. "Gue mah kalau hari Senin selalu bangun pagi," jawabnya santai.
"Ah, bohong banget lo," cibir Fikri sambil menyendok nasi goreng ke piringnya.
"Udah-udah, jangan debat pagi-pagi. Ayo sarapan dulu sebelum telat," kata Ardan dengan nada tegas.
Tanpa banyak protes, mereka pun mulai menikmati sarapan. Di tengah-tengah makan, Anissa datang membawa segelas susu untuk Gavin.
"Nih, minum dulu. Jangan cuma makan nasi doang," kata Anissa sambil meletakkan gelas itu di samping piring Gavin.
"Iya, Mi," Gavin menurut dan meneguk susunya.
Setelah sarapan selesai, Gavin bersiap berangkat ke sekolah. Fikri pun ikut keluar rumah lebih dulu karena ada jadwal kuliah pagi.
🦀🦀🦀
Setelah upacara selesai, para siswa kembali ke kelas masing-masing. Begitu tiba di kelas, Gavin langsung melangkah menuju meja Aznii dengan ekspresi kesal.
"Hei, kurcaci! Maksud lo apa nuduh gue nyebarin nomor lo?" sergah Gavin tanpa basa-basi.
Aznii yang sudah menduga bakal ada konfrontasi ini, hanya menyilangkan tangan di dada. "Nggak usah pura-pura nggak tahu, lo, jerapah!" balasnya dengan tatapan tajam.
"Gue udah bilang, bukan gue yang nyebarin nomor lo," Gavin menegaskan.
"Ah, nggak usah sok polos! Gue tahu ini pasti kerjaan lo!" Aznii masih bersikeras dengan tuduhannya.
Kesal karena terus dituduh, Gavin melangkah lebih dekat hingga wajah mereka hampir berhadapan. "Dengerin baik-baik ya, kurcaci jelek! Gue gak punya waktu buat nyebar-nyebarin nomor lo. Kurang kerjaan banget gue sampai ngasih nomor lo ke orang lain!"
Sebelum Aznii sempat membalas, suara Narendra tiba-tiba menyela, "Weh! Ada apa nih?" tanyanya penasaran.
"Bisa diem dulu nggak sih, lo, Naren?" Ocha menegur, kesal karena Narendra malah sibuk kepo.