Adelia Faranisa Aznii dan Gavin Aldevaro selalu dipertemukan dalam segala hal. Mereka adalah musuh bebuyutan yang nggak pernah bisa akur, entah itu di rumah karena tetanggaan, atau di sekolah karena satu kelas dan satu sekolah. Setiap kali bertemu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tadi pagi, Haqi mengajak Aznii untuk keluar malam ini, dan sekarang Aznii sedang bersiap-siap untuk pergi. Malam ini, mereka tetap bertemu di kafe seperti biasa.
Setelah siap, Aznii pun langsung pamit kepada Bunda dan Papahnya.
"Bunda, Papah, Aznii izin keluar ya," ucap Aznii.
"Sama siapa?" tanya Alena.
"Sama teman, Bun," jawab Aznii.
"Kayaknya sekarang teman-teman kamu jarang deh ngumpul di sini," komentar Alena.
"Jangan sampai ketahuan!" Aznii berpikir dalam hati.
"Itu, Bun, sekarang kita mainnya di dekat rumahnya Ocha, jadi seringnya ngumpul di rumah Ocha," jelas Aznii, sedikit berbohong.
"Pulangnya jangan terlalu malam ya," pesan Arka.
"Iya, Pah," sahut Aznii.
Aznii pun mencium punggung tangan Bunda dan Papahnya.
"Hati-hati di jalan," pesan Alena.
"Pulangnya jangan kemaleman ya," Arka mengingatkan lagi.
"Iya, Papah," jawab Aznii.
"Aznii pergi dulu. Assalamualaikum," ucap Aznii sambil melangkah keluar.
"Waalaikumsalam," jawab Bunda dan Papahnya.
Aznii langsung berjalan menuju pintu utama.
"Mau kemana lo?" tanya Dika yang sedang duduk di teras.
"Kepo banget sih lo," jawab Aznii.
"Yee, songong lo," kata Dika.
Aznii pun langsung menuju mobilnya dan masuk ke dalam.
"Dik, bukain gerbangnya dong," pinta Aznii.
"Ogah! Buka aja sendiri!" sahut Dika dengan acuh.
"Ngeselin banget!" Aznii kesal.
Aznii pun turun dari mobil, membuka gerbang, lalu kembali masuk ke mobilnya dan menyalakan mesin mobil.
"Dik, tolong tutup ya!" teriak Aznii sambil melongokkan kepala dari kaca mobil.
Setelah itu, Aznii melajukan mobilnya, meninggalkan halaman rumahnya.