Pagi itu, seorang gadis tengah sibuk mematut diri di depan cermin. Hari ini adalah hari yang ia nanti-nantikan—hari pertamanya sebagai mahasiswi.
“Kakak!” panggil sang Bunda dari depan pintu kamar.
“Iya, Bun!” sahut Aznii, segera membuka pintu.
“Udah ditungguin sama Gavin, tuh,” ujar Bunda sambil tersenyum.
“Dari tadi?” tanya Aznii, sedikit panik.
Sudah dua bulan sejak Aznii resmi diterima di universitas impiannya. Hari ini, mimpinya resmi dimulai.
“Dari tadi, dong. Kamu tuh dandan kelamaan,” goda Alena, sang Bunda.
“Ih, enggak kok, Bun. Aznii gak lama,” sanggah Aznii sambil tersenyum malu.
“Gak lama, tapi ngabisin waktu setengah jam,” timpal Alena sambil mengacak pelan rambut putrinya dengan penuh sayang. “Udah, sana turun. Kasihan Gavin nungguin.”
“Iya, iya, Kakak turun sekarang,” jawab Aznii sembari meraih tasnya dari atas meja belajar.
Ia pun melangkah turun ke ruang tamu, tempat kedua orang tuanya dan Gavin telah menunggunya.
“Udah dari tadi?” tanya Aznii pada kekasihnya.
“Iya, udah cukup lama. Dandanan kamu tuh nggak kelar-kelar,” celetuk Dika, adik laki-lakinya, dengan nada menggoda.
“Sampai Kak Gavin bisa berlumut kali nungguin kamu,” tambahnya lagi.
“Gue ngomongnya ke Gavin, bukan ke lo bocil,” balas Aznii, menatap adiknya tajam.
“Gue bantu jawab aja,” ujar Dika santai.
“Alasan,” cibir Aznii.
“Dan gue bukan bocil. Gue udah kelas 3 SMP, bentar lagi SMA.”
“Baru masuk kelas 3 juga, masih setahun lagi, Cil,” balas Aznii dengan nada malas menanggapi.
“Udah, Kak. Sana berangkat. Nanti telat ke kampus,” ujar Arka, ayah Aznii.
“Iya, Kak. Kasihan Gavin nungguin dari tadi,” sambungnya sambil tersenyum.
“Iya, Pah,” jawab Aznii.
“Mamah, Ayah, Gavin pamit kuliah dulu ya,” ujar Gavin sopan.
“Iya, hati-hati ya. Belajar yang benar,” pesan Alena hangat.
“Siap, Mah,” sahut Gavin ceria sambil mencium punggung tangan Alena dan Arka bergantian. Aznii pun menyusul melakukan hal yang sama.
“Duh, vibes-nya kayak anak tiri banget,” celetuk Dika pelan, menyindir kakaknya.
“Apa lo!” Aznii melotot, kesal.
“Hahaha! Anak tiri, anak tiri,” goda Dika puas.
“Dika anj—” kalimat Aznii terputus. Ia buru-buru menutup mulutnya sendiri, sadar posisinya masih di depan orang tuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Enemies to Lovers [TAMAT]
RomanceAdelia Faranisa Aznii dan Gavin Aldevaro selalu dipertemukan dalam segala hal. Mereka adalah musuh bebuyutan yang nggak pernah bisa akur, entah itu di rumah karena tetanggaan, atau di sekolah karena satu kelas dan satu sekolah. Setiap kali bertemu...
![Enemies to Lovers [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/246894577-64-k80837.jpg)