Adelia Faranisa Aznii dan Gavin Aldevaro selalu dipertemukan dalam segala hal. Mereka adalah musuh bebuyutan yang nggak pernah bisa akur, entah itu di rumah karena tetanggaan, atau di sekolah karena satu kelas dan satu sekolah. Setiap kali bertemu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aznii melangkah masuk ke halaman sekolah dengan langkah cepat. Setelah itu, ia menyusuri koridor menuju ke kelasnya. Namun, saat tiba di tangga, ia harus berhadapan dengan seseorang yang sudah tidak asing lagi-Gavin.
"Hai, kurcaci jelek!" Gavin menyapa dengan senyuman ejekan.
"Tumben lo sendirian. Mana temen-temen lo?" lanjutnya dengan nada sarkastik.
"Awas, Gavin, gue mau lewat," jawab Aznii datar.
"Dih, galak banget sih lo," ucap Gavin sambil tertawa kecil.
"Bodo amat," Aznii tetap cuek dan langsung melangkah menaiki tangga. Namun, sebelum bisa melangkah lebih jauh, Gavin menahan lengannya.
"Apaan sih, pegang-pegang?" Aznii menatap Gavin dengan tajam.
"Bukan muhrim, tau nggak sih?" Aznii berusaha melepas cekalan Gavin.
"Dih, sok alim banget lo," ejek Gavin.
"Perasaan dari tadi lo ngehalangin gue terus," Aznii melanjutkan.
"Kalau suka, bilang aja. Nggak usah sok-sokan ngehalangin gue," tambahnya.
"Dih, ogah banget gue suka sama lo," Gavin menjawab cepat, tidak terima.
"Halah, kalau suka mah bilang aja, gue tahu kok lo suka sama gue," Aznii menyentil lengan Gavin dengan nakal.
Gavin langsung menepis tangan Aznii. "Apaan sih, nyolek-nyolek."
"Iya iya, yang suka gue," Aznii balas dengan senyum puas.
"CTAK!"
Aznii mendecak kesakitan. "Sakit, bego!" serunya sambil mengelus jidatnya yang baru saja disentil Gavin.
"Kasar banget sih jadi cowok," keluh Aznii sambil cemberut.
"Pantesan aja nggak ada cewek yang mau sama lo," tambah Aznii dengan nada mengejek.
"Ada, lo mana tahu?" jawab Gavin, masih kesal.
"Lo tuh, mana ada yang suka sama cewek galak kayak lo," kata Gavin sambil melirik Aznii.
"Yee, lo nggak tahu aja. Gue tuh banyak yang suka, tapi nggak gue terima aja," jawab Aznii dengan percaya diri.
"Dih! Percaya diri banget lo," ejek Gavin.
"Yee, emang bener," sahut Aznii santai.
"Dah, ngomong sama lo buang-buang energi aja. Mending gue ke kelas," Aznii pun berbalik pergi meninggalkan Gavin, yang langsung menyusulnya dari belakang.
"Kurcaci," terdengar suara Gavin memanggil dari belakang.
"BERISIK!" Aznii berteriak dengan tegas.
Akhirnya, mereka berdua sampai di kelas. "Assalamualaikum!" teriak Aznii begitu masuk ke dalam kelas.