40. Kurcaci, Jerapah dan Hujan

135 6 0
                                        

Sejak kemarin, Aznii mengurung diri di kamar

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sejak kemarin, Aznii mengurung diri di kamar. Ia bahkan enggan keluar, hanya tenggelam dalam pikirannya sendiri. Biasanya, di akhir pekan seperti ini, ia pasti lagi asyik teleponan sama Haqi. Tapi sekarang? Jangankan teleponan, dia bahkan cuma dianggap taruhan. 

Setiap kali mengingat itu, hatinya terasa nyeri. "Kenapa dia tega banget sama gue..." bisiknya lirih. 

"Kenapa dia sejahat itu?" Tanpa sadar, air matanya jatuh. 

"Sakit banget... Orang yang gue sayang ternyata cuma mainin perasaan gue," ucapnya pelan sambil mengusap pipinya yang basah dengan kasar.

Handphone-nya terus berbunyi sejak tadi, tapi ia tak berniat melihatnya. Namun akhirnya, ia meraihnya dan membuka WhatsApp. Banyak chat menumpuk di grupnya bersama sahabat-sahabatnya. 

Pandangan Aznii tanpa sengaja tertuju pada chat dari Haqi, yang masih ia sematkan. Jarinya, seolah punya kehendak sendiri, mengetuk ruang obrolan mereka. 

Pesan terakhir yang ia kirim adalah saat ia berpamitan pergi. Haqi sempat membalas dengan menyuruhnya hati-hati, bahkan mengakhiri pesannya dengan emoji hati merah. Melihat itu, dadanya kembali sesak. Ingatannya kembali ke kejadian semalam. 

Haqi yang tertawa mesra dengan cewek lain. Haqi yang menjadikannya sekadar taruhan. Haqi yang tega memakinya di depan banyak orang. 

Aznii merasa seperti pecundang. Seolah dirinya tak berharga sama sekali. 

Tangannya kembali menggulir chat-chat lama mereka. Begitu banyak kata-kata manis dari Haqi, tapi sekarang semuanya terasa palsu. 

Air mata yang tadi sempat berhenti kini kembali mengalir, lebih deras. Ia menutup mulutnya, berusaha menahan suara isakannya. Tak ingin orang rumah tahu kalau ia sedang menangis. 

Ia memegangi dadanya yang terasa begitu sesak, tubuhnya perlahan merosot hingga bersandar di samping nakas. 

"Jahat! Dia jahat!" bisiknya dengan suara bergetar. 

"Gue benci dia..."

"Kenapa baru sekarang gue tahu kenyataannya, setelah gue sesayang ini sama dia?"

"Gue capek..."

"Apa gue memang nggak boleh jatuh cinta? Kenapa cinta pertama gue berakhir begini?"

🦀🦀🦀

Aznii tadi pamit ke orang tuanya buat keluar cari angin. Tapi bukannya bawa mobil, dia malah milih jalan kaki. Entah kenapa, dia cuma pengen jalan aja, tanpa tujuan jelas. 

Enemies to Lovers [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang