Adelia Faranisa Aznii dan Gavin Aldevaro selalu dipertemukan dalam segala hal. Mereka adalah musuh bebuyutan yang nggak pernah bisa akur, entah itu di rumah karena tetanggaan, atau di sekolah karena satu kelas dan satu sekolah. Setiap kali bertemu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari Senin tiba, hari di mana semua orang kembali pada rutinitas masing-masing. Setelah akhir pekan yang penuh kebebasan, hari ini terasa seperti musuh bagi sebagian besar anak sekolah.
Entah kenapa, hari Senin selalu menjadi momok. Mungkin karena mereka harus kembali menghadapi kenyataan setelah dua hari bersantai menikmati kebebasan.
Di kamar Aznii, gadis itu masih asyik bergelung di balik selimutnya. "Kakak, bangun!" panggil Alena sambil mengetuk pintu kamar. Jam sudah hampir menunjukkan pukul setengah tujuh, dan Alena mulai khawatir anaknya terlambat.
"Enggh..." gumam Aznii malas, akhirnya membuka mata.
"Jam berapa, Bun?" tanyanya sambil mengucek-ngucek mata, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya pagi yang mulai masuk.
"Udah hampir setengah tujuh, ayo cepat mandi," jawab Alena dengan nada tegas.
Mendengar itu, Aznii langsung bangkit dari tempat tidurnya, sadar kalau waktunya semakin mepet. Dengan setengah terburu-buru, ia bergegas menuju kamar mandi.
"Kalau udah siap, langsung ke meja makan ya, Kak," seru Alena dari luar kamar, memastikan anaknya mendengar.
"Iya, Bun!" balas Aznii dari dalam kamar mandi, suaranya sedikit menggema akibat ruangan kecil itu.
Setelah beberapa menit di dalam kamar mandi, Aznii segera keluar dengan segar. Ia cepat-cepat mengenakan seragam sekolahnya, menyisir rambut, lalu mengaplikasikan serum ke wajahnya. Tak lupa, ia memakai sedikit foundation dan lip tint agar wajahnya terlihat lebih segar.
Tas sudah siap di pundak, dan tanpa membuang waktu, Aznii langsung keluar kamar menuju meja makan. Di sana, kedua orang tua dan adiknya sudah menunggu.
"Pah, Bun, Aznii berangkat dulu ya," ucapnya buru-buru sambil melirik jam dinding yang menunjukkan waktu sudah sangat mepet.
"Kenapa gak sarapan dulu, Kak?" tanya Alena dengan nada khawatir.
Arka, sang ayah, menambahkan dengan nada lembut tapi tegas, "Usahakan bangun lebih pagi, Kak. Sarapan itu penting. Kalau sering gak sarapan, nanti kamu sakit."
"Iya, iya, Pah," jawab Aznii dengan nada setengah menyesal.
"Hati-hati di jalan ya, belajar yang rajin," pesan Alena sambil mengawasi anak sulungnya dengan tatapan lembut.
"Iya, Bun. Assalamu'alaikum," sahut Aznii sambil mencium punggung tangan sang ibu dengan penuh hormat.
"Lain kali jangan buru-buru terus, ya," pesan Arka saat Aznii mencium tangannya.